Kadin Dorong Terbentuknya Asia Afrika Business Council

Asian African Business Summit 2015

Selasa, 21/04/2015

NERACA

Jakarta – Di sela-sela ketatnya jadwal pertemuan para delegasi dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) di Jakarta dan Bandung, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berkesempatan untuk mengadakan pertemuan para pengusaha dari seluruh negara di Asia dan Afrika di Asian African Business Summit (AABS). Dalam acara tersebut, setidaknya ada 600 pengusaha yang akan hadir baik itu dari dalam negeri maupun luar negeri untuk membicarakan persoalan ekonomi di Asia dan Afrika.

Dengan adanya AABS ini, Kadin selaku penyelenggara pertemuan berhasrat untuk bisa membentuk Asia Africa Business Council. Pasalnya, menurut Ketua Pelaksana AABS 2015 Noke Kiroyan, pada 2005 sempat ada Konferensi Asia Afrika namun hasil dari konferensi tersebut tidak berjalan dengan baik. “Jadi ada dua hal utama hasil dari konferensi Asia Afrika pada 2005 yang tidak dijalankan,” ungkap Noke saat ditemui di Gedung Kadin, Senin (20/4).

Pertama, kata dia, konferensi tersebut menghasilkan akan dibentuknya kelompok-kelompok kerja yang membahas masalah perekonomian di negara-negara Asia dan Afrika. Namun kenyataannya kelompok tersebut tidak berjalan. “Jadi nantinya AABS dibentuk untuk menampung masalah-masalah perekonomian dan kelompok-kelompok kerja itu sebagai operasionalisasinya,” jelasnya.

Kedua, sebut Noke, hasil dari KAA 2005 memutuskan untuk adanya pertemuan selama dua tahun sekali. Dan pada KAA 2005 disebutkan bahwa Mesir sebagai tuan rumahnya. “Akan tetapi karena satu dan lain hal, tidak ada kejelasannya. Maka dari itu, kami berharap nantinya ada kesepakatan dibentuknya Asian Africa Business Council yang setiap tahunnya bertemu untuk membicarakan persoalan ekonomi. Karena jika dulu persaingan antar negara lebih bersifat politik ataupun ideologi, sekarang sudah berubah menjadi persaingan ekonomi,” terangnya.

Investasi Meningkat

Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto berharap dengan dipertemukannya kurang lebih 600 pengusaha diantaranya 400 dari luar negeri dan 200 dari dalam negeri maka akan ada peningkatan investasi khususnya di Indonesia. “Saya berharap ada peningkatan investasi sebesar 10%, terlebih saat ini pemerintah juga telah banyak mengundang investor-investor untuk berinvestasi di Indonesia dan juga langkah pemerintah yang memangkas izin investasi,” cetusnya.

Namun begitu, ia berharap agar pemerintah memberikan kemudahan-kemudahan seperti insentif fiskal dan pajak kepada para investor-investor. “Pemerintah harus tanggap tentang kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan. Jangan sampai nanti mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang justru membebani sektor usaha karena hal itulah yang mengganggu dunia usaha,” tukasnya.

Ia mengatakan bahwa ada beberapa hal yang harus dicapai dengan diselenggarakannya Asian Africa Business Summit seperti dibidang perdagangan dengan harapan bisa mendorong hubungan perdagangan antar negara Asia dan Afrika serta mengurangi hambatan-hambatan baik berupa tarif maupun non tarif antar semua negara dan juga meningkatkan perdagangan jasa seperti di sektor pariwisata dan meningkatkan perdagangan langsung tanpa harus melalui perantara.

Suryo menjelaskan kemitraan Asia Afrika telah memasuki masa yang cukup menarik. Pasalnya pada dekade terakhir ini proyeksi pertumbuhan ekonomi telah membaik di kedua kontinen sehingga hal tersebut membuka peluang kerjasama ekonomi dan bisnis tang semakin besar, dimana sebelumnya kurang tergali. Pada saat bersamaan, lanjut Suryo, keinginan perusahaan-perusahaan dari kedua kontinen untuk melakukan perdagangan dan investasi semakin meningkat dan semakin banyak pula perusahaan yang telah membuka usahanya di kedua kawasan tersebut.

Adanya komplementaritas antara ekonomi negara-negara Afrika dan negara-negara Asia, misalnya dalam kerangka perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dan Komunitas Pembangunan Afrika Selatan (SADC), negara-negara Afrika Selatan menyediakan produk-produk pertanian seperti buah-buahan, sayuran, daging dan ternak. Sedangkan negara-negara ASEAN menyediakan produk elektronik, mesin-mesin dan mobil sebagai produk impor penting negara-negara Afrika Selatan. Hal demikian juga dapat dibuka kerjasama ekonomi dengan the Common Market for Eastrn and Southern Africa (COMESA) dan The East Africa Community (EAC).

Sementara di sektor perdagangan, investasi, infrastruktur, maritim dan agribisnis menjadi fokus pembahasan dalam Asian African Business Summit (AABS) 2015. Pihaknya berharap agar realisasi kerjasama ekonomi diantara negara-negara Asia Afrika dapat ditingkatkan dengan signifikan. Karena perdagangan baik jasa maupun komoditas masih kecil terutama Indonesia ke negara-negara Afrika.