Sukseskan KAA ke-60 Demi Mewujudkan Perdamaian Dunia

Oleh: Adiansyah, Tokoh Pemuda Kota Bengkulu

Selasa, 21/04/2015

Kilas Balik Konferensi Asia Afrika (KAA) menuju perdamaian dunia. Sebelum perang dunia II, negara-negara dunia ketiga yang berada di kawasan benua Asia dan Afrika umumnya adalah daerah jajahan. Namun setelah berakhirnya perang dunia II pada Agustus 1945, negara-negara dunia ketiga menjadi bangkit dan semakin meningkatkan perjuangan mereka untuk memperoleh kemerdekaan. Hal tersebutlah yang menyebabkan timbulnya konflik dan pergolakan di berbagai tempat seperti konflik di Semenanjung Korea, Vietnam, Palestina, Yaman, Daratan China, Afrika, Indonesia dan lainnya.

Kondisi keamanan dunia yang belum stabil pasca berakhirnya perang dunia kedua tersebut dan terjadinya Perang Dingin antara pemimpin Blok Barat, Amerika Serikat dan pemimpin Blok Timur, Rusia. Kedua kekuatan besar di dunia yang saling berlawanan dan mencari dukungan dari negara-negara di kawasan Asia Afrika tersebut, juga terus mengembangkan senjata pemusnah massal sehingga situasi dunia selalu diliputi kecemasan terjadinya perang nuklir. Dari sinilah negara-negara yang baru merdeka menggalang persatuan mencari jalan keluar demi meredakan ketegangan duniadan memelihara perdamaian.

Sebelum KAA diselenggarakan, telah terlebih dahulu dilaksanakan pertemuan pendahuluan di Colombo (Srilanka) pada tanggal 28 April 1954 hingga 2 Mei 1954. Pertemuan inilah yang dikenal sebagai Konferensi Colombo. Hasil dari Konferensi Colombo adalah kesepakatan untuk menyelenggarakan konferensi lanjutan antara negara-negara Asia-Afrika. Pertemuan selanjutnya diadakan di Bogor , Indonesia pada tanggal 28-31 Desember 1954. Dalam pertemuan ini, dibahas mengenai persiapan penyelenggaraan KAA. Konferensi di Bogor ini dikenal sebagai Konferensi Panca Negara, yang dihadiri/dipelopori oleh Indonesia, diwakili oleh Perdana Menteri Mr. Ali Sastroamijoyo, India, diwakili oleh Perdana Menteri Shri Pandit Jawaharlal Nehru, Pakistan, diwakili oleh Perdana Menteri Muhammad Ali Bogra, Srilanka, diwakili oleh Perdana Menteri Sir John Kotelawa, Burma (sekarang Myanmar), diwakili oleh Perdana Menteri U Nu.

Hasil dari Konferensi Panca Negara antara lain, Mengadakan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada bulan April 1955, Menetapkan kelima negara peserta Konferensi Panca Negara (Konferensi Bogor) sebagai negara-negara sponsor, Menetapkan jumlah negara Asia Afrika yang akan diundang dan menentukan tujuan pokok Konferensi Asia Afrika.

Tujuan diselenggarakan KAA antara lain, kepentingan bersama negara-negara Asia Afrika, meningkatkan kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya.Kedaulatan negara, imperialisme, dan masalah-masalah rasialisme, serta kedudukan negara-negara Asia Afrika dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia.

Konferensi Asia Afrika pertama dilaksanakan di Bandung pada tanggal 18-25 April 1955. Konferensi ini berlangsung di Gedung Merdeka yang sekarang terletak di Jalan Asia Afrika, Bandung. Konfrensi dibuka secara resmi oleh Presiden Soekarno dihadiri oleh 29 negara, 6 diantaranya adalah negara-negara Afrika.Ke-29 negara peserta KAA di Bandung tersebut antara lain, Afganistan, Yordania, Saudi Arabia, Burma, Kamboja, Srilanka, Jepang, Laos, Sudan, Ethiopia, Libanon, Suriah, Filipina, Liberia, Turki, Ghana, Libya, Vietnam Selatan, India, Thailand, Vietnam Utara, Indonesia, Mesir, Yaman, Irak, Nepal, Pakistan, Iran, dan RRC.

Para pemimpin negara yang hadir antara lain,Jawaharlal Nehru dari India, Sir John Kottalawala of Srilanka, Muhammad Ali dari Pakistan, Norodom Sihanouk dari Kamboja, U Nu dari Myanmar, Abdel Nasser dari Mesir, Zhou En lai dari China, dan lainnya.Konferensi Asia Afrika di Bandung berhasil meraih kesuksesan baik dalam merumuskan masalah umum, menyiapkan pedoman operasional kerjasama antarnegara Asia-Afrika, serta menciptakan ketertiban dan perdamaian dunia.

Dasasila Bandung

Berbagai masalah yang dibahas dalam konferensi tersebut antara lain, usaha untuk meningkatkan kerjasama bidang ekonomi, sosial, budaya, dan hak asasi manusia, Hak menentukan nasib sendiri, Rasialisme (perbedaan warna kulit), kerjasama internasional, masalah pelucutan senjata, masalah rakyat yang masih terjajah di Afrika Utara dan masalah Irian Barat.

Hasil Konferensi Asia Afrika yang paling penting adalah telah terjadinya suatu kerjasama di antara negara-negara Asia Afrika. Selain itu, pertemuan KAA telah berhasil pula merumuskan sepuluh asas yang tercantum dalam Dasasila Bandung. Dalam Dasasila Bandung, tercermin penghargaan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan semua bangsa, dan perdamaian dunia. Isi Dasasila Bandung, menghormati hak-hak asasi manusia sesuai dengan Piagam PBB, menghormati kedaulatan wilayah setiap bangsa, mengakui persamaan semua ras dan persamaan semua bangsa baik besar maupun kecil, tidak melakukan campur tangan dalam soal-soal dalam negara lain, menghormati hak tiap-tiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian atau secara kolektif, tidak melakukan tekanan terhadap negara lain, tidak melakukan agresi terhadap negara lain, menyelesaikan masalah dengan jalan damai, memajukan kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya serta menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.

Setelah kesepakatan dari Konferensi Asia Afrika di Bandung disusun, satu per satu negara di Asia dan Afrika memperjuangkan serta memperoleh kemerdekaannya. Hal ini jugalah yang memupuskan niatan kubu Blok Barat seperti Inggris, Belanda, Perancis dan Spanyol untuk meneruskan penjajahan dalam bentuk neokolonialisme.

Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (NAASP), Saedah, menyatakan semangat KAA dalam meningkatkan kesejahteraan dan mewujudkan perdamaian dunia harus diteruskan pada abad 21. Acara tersebut jangan hanya menjadi acara minum teh bersama demi mengenang keberhasilan masa lalu, tanpa hasil nyata bagi kesejahteraan masyarakat Asia dan Afrika.

Harapan serupa diutarakan Zweli Mkhize, politikus ANC (partai terbesar di Afrika Selatan dengan mendominasi kursi parlemen), mengatakan KAA berperan sangat penting dalam upaya melawan apartheid, menyatukan rakyat Afrika Selatan, dan menggalang solidaritas dunia. Dunia kini menghadapi tantangan yang berbeda, solidaritas, dukungan, dan prinsip saling menghormati masih dibutuhkan di antara negara-negara untuk memerangi kemiskinan, kesenjangan sosial, dan konflik-konflik, di Asia dan Afrika. Ketidakstabilan di Timur Tengah dan tantangan besar terorisme dan ekstremisme. Sepak terjang ISIS di Suriah dan Irak membuat dunia berang, sementara di Afrika Barat Boko Haram tidak terhentikan. Ini adalah masalah yang amat sangat penting untuk dibicarakan pada peringatan KAA. Berharap acara KAA fokus membahas semua masalah tersebut mengedepankan penyelesaian damai. Jika para pemimpin negara melihat semua masalah tersebut maka berarti mereka telah membawa maju agenda KAA yang telah dibahas 60 tahun silam, karena tujuan diselenggarakan KAA untuk kepentingan bersama negara-negara Asia Afrika antara lain meningkatkan kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, dan budaya. Kedaulatan negara, imperialisme, dan masalah-masalah rasialisme, serta kedudukan negara-negara Asia Afrika dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia.

Sejarah Penting

Peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang ke 60 akan berlangsung pada 19-24 April di Jakarta dan Bandung dengan tema “Penguatan Kerjasama Negara Selatan-Selatan” Menteri Luar Negeri, Retno P Marsudi menyatakan bahwa Pemerintah akan mengundang 106 wakil negara dan 19 organisasi internasional untuk berpatisipasi dalam acara tersebut dan menginginkan agar kerjasama selatan-selatan ini juga memberikan kontribusi terhadap upaya untuk mempromosikan perdamaian dan kesejahteraan dunia.

Sementara itu, Presiden Indonesia, Joko Widodo, menyatakan bahwa KAA ke 60 ini adalah momen yang sempurna bagi dunia untuk mengingat bahwa Indonesia telah memainkan sejarah penting dalam sejarah dunia. Oleh sebab itu, Indonesia harus mempersiapkan peringatan KAA dengan baik, mulai dari akomodasi, logistik, pengamanan protokol, dan juga dari segi petugas kesehatan. Walikota Bandung, Ridwan Kamil berencana akan memberlakukan hari libur pada 24 April 2015 sehingga warga Bandung dapat bergabung dalam perayaan tersebut, karena tidak kurang dari 15 acara tingkat nasional akan disusun menuju peringatan puncak di Bandung.Selain itu, akan digelar konferensi HAM dan teknologi.Akan ada parade lebih dari 100 negara peserta yang tampil dengan kostum nasional disertai musik masing-masing negara, mereka akan menampilkan budaya sendiri. Peringatakan Konferensi Asia Afrika tahun ini diwarnai banyak musik dan warna, akan sangat berkesan.

Rangkaian kegiatan KAA direncanakan meliputi pertemuan internal antarwakil negara pada 19-23 April 2015 di Jakarta. Rencananya dimulai pertemuan tingkat pejabat tinggi, diteruskan dengan pertemuan tingkat menteri, dan diakhiri dengan pertemuan tingkat kepala negara/pemerintahannya. Sementara itu, acara puncak peringatan akan berlokasi di Bandung, tepatnya di Gedung Merdeka yang sekarang disebut sebagai Gedung Asia Afrika. Gedung tersebut adalah lokasi dimana Konferensi Asia Afrika dulu dilaksanakan pada 1955.

Banyaknya negara dan perwakilan organisasi internasional yang akan hadir pada peringatan KAA yang ke 60 ini, dapat meningkatkan devisa negara dari segi pariwisata. Oleh karenanya pemerintah dan juga kita sebagai warga negara Indonesia harus menjadi tuan rumah yang baik sesuai dengan kepentingannya. Pemerintah pusat dan juga daerah khususnya Pemprov. Jakarta dan Pemprov. Jawa Barat terkhusus Bandung dengan memberikan fasilitas-fasilitas maksimal yang diperlukan para peserta, sementara kita sebagai warga negara harus bersatu padu membuktikan sikap kita yang terkenal ramah tamah dan semangat gotong royong untuk mendukung suksesnya acara tersebut. Kesuksesan bukan hanya membantu secara fisik namun juga dapat membantu secara moral antara dengan tidak menganggu atau memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan aksi atas permasalahan daerah ataupun permasalahan negara yang lagi “ramai” agar diketahui publik internasional.

Oleh karenanya organisasi kemasyarakatan dan sejenisnya serta masyarakat Indonesia diharapkan dapat mendukung acara KAA yang ke 60 tersebut, untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa Indonesia adalah negara yang concern terhadap permasalahan dunia untuk mewujudkan perdamaian dunia dan tidak salah bahwa Indonesia merupakan bagian dari negara negara sponsor lahirnya KAA pertama di Bandung tahun 1954. Apabila nantinya ada aksi-aksi terkait permasalahan daerah dan negara, mendompleng pelaksanaan KAA, maka akan menjadi kontraproduktif dengan slogan kita yang mendukung perdamaian dunia sementara permasalahan dalam negeri saja kita belum mampu mengatasinya.

Harapan para tokoh Afrika Selatan diatas agar KAA yang ke 60 ini tidak sebatas mengenang pelaksanaan KAA pertama tidak berbeda dari harapan Indonesia sebagai tuan rumah, seperti halnya Presiden Joko Widodo yang menyatakan ini adalah momentum baik bagi Indonesia untuk kembali mengingatkan kepada dunia, bahwa kita mempunyai peran yang sangat besar pada saat itu dan kita ingin memori dan ingatan itu, kita ingin angkat kembali. Sementara Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, menyatakan kita ingin memperkokoh Kerja Sama Selatan-Selatan untuk dapat berkontribusi pada perdamaian dan kesejahteraan dunia,tiga dokumen akan dihasilkan dalam acara KAA ke 60, yakni deklarasi Pesan Bandung, penguatan Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika (NAASP), dan deklarasi dukungan untuk Palestina.Isi deklarasi penguatan NAASP antara lain mendorong kerja sama konkret pada delapan fokus area yakni menangkal terorisme, menangani kejahatan lintas negara, keamanan pangan, keamanan energi, industri kecil dan menengah, pariwisata, jaringan universitas Asia Afrika, dan kesetaraan gender, sedangkan deklarasi Palestina akan berisi dukungan bagi berdirinya Negara Palestina dan hak-hak dasar warga negara Palestina.

Semoga perhelatan akbar KTT Asia Afrika yang ke 60 ini yang melibatkan banyak negara dan Indonesia sebagai tuan rumah dengan dibantu rakyatnya, dapat menjawab harapan dari warga negara Asia Afrika dapat meningkatkan kerjasama bidang ekonomi, sosial, budaya, dan hak asasi manusia, mencari solusi atas ketidakstabilan di Timur Tengah, menumpaskan terorisme dan ekstremisme, kerjasama internasional, dan dapat mewujudkan perdamaian dunia secara keseluruhan.***