Sritex Kantungi Kontrak Baru US$ 3 Juta - Pengadaan Seragam di Timor Leste

NERACA

Jakarta – Guna menggenjot nilai ekspor di tahun ini lebih besar lagi, perusahaan garmen dan tekstik terpadu, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) kembali mengantungi kontrak baru senilai US$ 3 juta pertahun untuk pengadaan seragam kepolisian dan unit-unit yang ada di kementerian dalam negeri pemerintah Timor Leste,”Kontrak yang kita dapatkan dari pemerintah Timor Leste selama dua tahun untuk pembuatan seragam di lingkungan pemerintahan Timor Leste dan paling besar seragam untuk tentara dan polisi disana,”kata Presiden Direktrur PT Sri Rejeki Isman Tbk, Iwan Setiawan Lukminto dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, kontrak baru pengadaan seragam di lingkungan pemerintaha Timor Leste merupakan yang ketiga kalinya. Dimana kerjasama ini merupakan tindak lanjut atas kunjungan eks Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao. Selain itu, kata Iwan, dipilihnya perseroan untuk pengadaan seragam Timor Leste lantaran Sritex dikenal sebagai produsen seragam terbesar di Asia Tenggara.

Sebagai informasi, tahun ini perseroan menargetkan pendapatan tumbuh 10% dan laba bersih tumbuh sekitar 15%. Tahun lalu, penjualan Sritex tumbuh 30% atau sebesar US$ 589.09 juta, dibandingkan dengan tahun 2013 yang tecatat US$ 450,68 juta. Sayangnya, pertumbuhan penjualan ekspor hanya 2,03%. Tahun ini, Sritex mematok ekspornya bisa tumbuh 10%.

Di 2014 lalu, Sritex mencatatkan penjualan ekspor sebesar US$ 302,26 juta. Jika dibandingkan dengan 2013, pertumbuhan ekspor sangat tipis. Pada 2013, ekspor Sritex senilai US$ 296.22 juta. Meski ada peningkatan secara total, ekspor Sritex ke beberapa wilayah merosot pada 2014 lalu. Misalnya ekspor ke Amerika Serikat dan Amerika Latin. Pada 2013 penjualan ke wilayah ini tecatat US$ 44,15 juta. Sayangnya, pada 2014, angkanya turun 34% menjadi US$ 29.18 juta.

Kemudian, ekspor ke Uni Emirat Arab dan Afrika juga turun. Penurunan terbilang kecil yakni 1,24%. Pada 2013 lalu, penjualan ke Arab dan Afrika tercatat US$ 17,62 juta dan 2014 lalu hanya US$ 17,39 juta.

"Penurunan itu terjadi karena ada pengalihan ekspor ke negara yang lain seperti ke Asia ataupun Eropa," kata Welly Salam, Sekretaris Perusahaan Sritex.

Sepanjang 2014 lalu, produk benang masih mendominasi pasar ekspor. Benang menyumbang 42,54% penjualan di pasar luar negeri, dengan angka penjualan Rp 128,57 juta. Meskipun benang yang menyumbangkan penjualan terbesar di pasar ekspor, pertumbuhan penjualan pakaian jadi pada 2014 lalu paling besar. Pada 2014 lalu, penjualan pakaian jadi tercatat US$ 65,03 juta atau tumbuh 37,19% dari 2013 yang tercatat US$ 47,39 juta.

Sepanjang 2015 ini, Sritex sudah mengantongi pesanan seragam dari Jerman, Malaysia, dan Sudan. Dimana untuk Jerman dan Malaysia, nilainya meningkat 15% dibanding tahun lalu. Di tahun 2014 lalu, jumlah pesanan untuk ke dua negara tersebut adalah sebanyak 2,1 juta potong.

Bukan hanya seragam yang sudah dipesan, Welly bilang, beberapa perusahaan fashion dari Amerika dan Eropa juga sudah mengkonfirmasi pemesannya. "Pokoknya saat ini kami sudah terima banyak order. Hingga Mei 2015 kapasitas sudah penuh. Hingga saat ini, pemesanan sudah sekitar 43% dari total.

Sebagai catatan, saat ini kapasitas untuk finishing tercatat 120 juta yard setahun. Kemudian, weaving sekitar 120 juta meter per tahun. Kapasitas garmen tercatat 14 juta potong per tahun dan kapasitas spinning 566.000 bales per tahun. (bani)

Related posts