WEF dan Perbaikan Iklim Investasi

Senin, 20/04/2015

Today at 11:33AM

Oleh: Prof. Firmanzah., PhD

Rektor Universitas Paramadina

Guru Besar FEB-UI

World Economic Forum (WEF) on East Asia sedang diselenggarakan di Jakarta, 19-21 April 2015. Tema besar yang akan diudung dalam forum regional kali ini adalah bagaimana meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi baik antar negara ASEAN maupun keterkaitannya dengan wilayah lain. Terdapat beberapa sub topik bahasan penting dalam pertemuan kali ini yaitu; aspirasi Indonesia, penguatan pasar, entrepreneur, pembangunan infrastruktur, ketahanan pangan, geopolitik, dan masyarakat ekonomi ASEAN. Forum ini menjadi tempat bertemunya tidak hanya pengusaha tetapi juga pengambil kebijakan di kawasan agar komunikasi antara pengusaha-pengambil kebijakan dapat berjalan dengan baik.

Di sejumlah kesempatan, pemerintah juga menyampaikan bahwa dengan adanya forum ini menjadi kesempatan yang baik untuk memromosikan peluang investasi di Indonesia. Semenjak tahun 2011, Indonesia menggeser sumber pertumuhan ekonomi dari konsumsi ke investasi, utamanya pembangunan infrastruktur. Sehingga dengan semakin banyak investor masuk dan berpartisipasi dalam proyek-proyek pembangunan infrastruktur maka kontribusi sektor ini akan semakin meningkat bagi perekonomian nasional.

Pemerintah menargetkan pembangunan infrastruktur dalam 5 tahun ke depan ditargetkan membutuhkan pembiayaan yang cukup besar yaitu sebesar Rp. 5.519 triliun. Dimana ruang fiskal kita masih sangat terbatas dan peran swasta menjadi sangat penting.

Selain bentuk promosi investasi, pemerintah perlu terus meningkatkan iklim investasi di Indonesia. Mempermudah perizinan, memberikan insentif fiskal kepada sektor prioritas, kejelasan status proyek infrastruktur, membantu koordinasi dengan pemerintah daerah dan memperbaiki iklim ketenagakerjaan merupakan hal-hal yang sangat dibutuhkan oleh dunia usaha.

Selain itu juga, investasi di sektor riil juga perlu mendapatkan dukungan dari pemerintah melalui serangkaian kebijakan yang lebih pro-dunia usaha. Hal ini menjadi semakin penting ketika perekonomian global menunjukkan tanda-tanda perlambatannya. Sementara Indonesia semakin membutuhkan investor dan dunia usaha yang semakin besar untuk terus menciptakan lapangan kerja dan usaha baru.

Sudah 3 tahun terakhir, pemerintah secara intens melakukan kebijakan pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) baik di tingkat pusat maupun daerah. Kebijakan dan sistem ini tentunya akan sangat membantu bagi kalangan dunia usaha. Namun di sisi lain, pemerintah perlu juga untuk terus menjaga daya beli domestik. Hal ini dikarenakan konsumsi domestik selama ini menjadi sektor terbesar pembentukan PDB nasional dimana 55-56% dari PDB kita dikontribusikan oleh sektor ini.

Selain itu juga, dunia usaha baik asing maupun domestik masih menempatkan market-size Indonesia sebagai salah satu faktor penting yang membuat mereka terus berinvestasi. Kita berharap kombinasi antara proaktiveness dalam hal promosi investasi dan menjaga iklim investasi akan terus menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara tujuan investasi utama dunia.