Kadin Siapkan Forum Komunikasi Bisnis Asia-Afrika

Jelang Pelaksanaan KAA

Senin, 20/04/2015

NERACA

Jakarta - Dalam rangka perhelatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) ke 60 tahun, Kadin Indonesia akan menyelenggarakan Asian African Business Forum (AABS) yang akan dilaksanakan pada 21 April 2015 di JCC dengan mengambil tema “Revitalization of Asia Africa Partnership for Progress and Prosperity”.

Sesuai dengan tema utama AABS, diharapkan kegiatan ini dapat mendorong kerjasama selatan-selatan terutama di bidang perdagangan dan investasi. Pada kesempatan itu, Kadin Indonesia akan menginisiasi pembentukan Asia-Africa Business Council sebagai lembaga untuk memonitoring serta menindaklanjuti pelaksanaan keputusan AABS.

Hal tersebut dikatakan Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Koordinator Asosiasi, Noke Kiroyan dalam konferensi pers persiapan pelaksanaan AABS di Kantor Kadin Pusat, Jakarta (17/4). "Setiap keputusan konferensi, kami ingin ada tindak lanjutnya secara kongkrit terutama untuk sektor pengembangan bisnis kawasan Asia-Afrika," ungkap Noke.

Noke menjelaskan, untuk pertemuan AABS pendaftaran peserta mencapai 700 orang. Meski demikian, panitia penyelenggara hanya menetapkan untuk 500 orang delegasi dari 45 negara Asia – Afrika. Peserta terdiri dari para pimpinan pelaku usaha, kalangan pemerintah dan para duta besar. Pembahasannya akan difokuskan pada sektor-sektor utama yakni maritim, agribisnis, infrastruktur, perdagangan dan Investasi.

Rencananya AABS 2015 akan dibuka oleh Presiden RI, Joko Widodo serta menghadirkan Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma dan Perdana Menteri India, Narendra Modi sebagai pembicara kunci. Selain itu, pembicara lainnya adalah para CEO dari Afrika dan Asia, seperti CEO Alibaba Group, Jack Ma dari China tanpa terkecuali CEO Indonesia seperti Franky O. Widjaja (Sinar Mas Grup), Dri Dato Tahir (Mayapada Grup), Hidayat Nyakman (Petrokimia Gresik) dan Chairul Tanjung (Para Group).

Noke menilai, pertemuan ini sangat strategis bagi Indonesia untuk mempromosikan peluang bisnis dan investasi. "Infrastruktur dan industri strategis kita harapkan bisa tersentuh investasi. Semoga ada realisasi setelah pelaksanaan acara ini," ucapnya.

Sebelum ditutup oleh Menteri Koordinator Perekonomian, Sofyan A.Djalil, pertemuan AABS juga mengagendakan Pendeklarasian Asia – Afrika Business Council yang diwakili oleh pemimpin delegasi dari setiap negara. Kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kadin dan China Council for the Promotion of International Trade (CCPIT). Forum bisnis tersebut juga akan dilengkapi dengan sesi Business Matching diantara para peserta pada akhir acara.

Lebih jauh lagi, Noke mengatakan, dalam forum bisnis ini Indonesia memiliki kepentingan untuk berupaya mengurangi defisit neraca perdagangan, dan Afrika dinilai dapat menjadi pasar baru yang potensial. Selama ini, negara-negara di benua Afrika memang cenderung dilupakan dalam bisnis.

Pasalnya image Afrika sudah terlanjur negatif sehingga banyak pebisnis yang ragu untuk berinvestasi. Padahal, menurut Noke, Afrika memiliki peluang bisnis yang menjanjikan karena jumlah penduduknya besar. "Nigeria punya jumlah penduduk yaang besar dengan GDP sekitar 3.500 dolar AS per kapita, selain itu GDP Afrika Selatan justru lebih besar daripada Indonesia," kata Noke.

Noke mengatakan, dari forum bisnis ini diharapkan dapat melipatgandakan jumlah neraca perdagangan dalam tiga tahun ke depan. Setelah pertemuan, biasanya tahun pertama pebisnis melakukan penjajakan terlebih dahulu, kemudian tahun kedua dimulai transaksi, dan tahun ketiga sudah bisa dihitung hasilnya.

Selama ini volume perdagangan antara Indonesia dengan 54 negara di Afrika jumlahnya masih cenderung kecil, yakni sekitar 10,7 miliar dolar per tahun. Sedangkan volume perdagangan antara Cina dengan negara-negara Afrika sudah mencapai 200 miliar dolar AS per tahun. "Afrika dengan India juga cukup baik yakni menghasilkan 70 miliar dolar AS per tahun dan dengan Thailand mencapai 11,5 miliar dolar AS per tahun," ujar Noke.

Diplomasi Ekonomi

Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri RI A.M. Fachir mengatakan pertemuan dan peringatan 60 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) merupakan momentum yang baik bagi Pemerintah Indonesia untuk melakukan diplomasi ekonomi terhadap negara-negara di kawasan tersebut.

"Sejak awal ketika kami diberi arahan oleh Presiden termasuk dalam rapat kerja, dikatakan bahwa KAA adalah momentum. Momentum itu tidak perlu ditunggu, tetapi harus diciptakan. KAA ini kita manfaatkan untuk diplomasi ekonomi Indonesia," kata Wamenlu A.M. Fachir.

Menurut dia, salah satu langkah diplomasi ekonomi dalam penyelenggaraan KAA adalah melalui pemilihan tema Memperkuat Kerja Sama Selatan-Selatan. "Sebenarnya kita melakukan pendekatan dengan dua cara pendekatan, salah satunya ’get real business’, baik di bidang investasi, pembangunan, maupun perdagangan," ujar dia.

Terkait upaya memperkuat fungsi diplomasi ekonomi, kata Fachir, Kelompok Kerja Penguatan Diplomasi Ekonomi Kemlu RI sedang mencoba mengidentifikasi berbagai isu dan perjanjian ekonomi yang masih tertunda atau terhambat realisasinya.