Naik dan Turun Laju IHSG Dinilai Biasa - BEI Pastikan Pasar Modal Stabil

NERACA

Jakarta - Pekan lalu menjadi catatan buruk seiring dengan terus tertekannya laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Meskipun posisi indeks BEI belu menjauh dari level 5.000, namun kondisi ini menuai ke khawatiran para pelaku pasar modal.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito menilai, kondisi pasar modal di dalam negeri masih stabil seiring posisi dana investor asing yang mencatatkan beli bersih,”Akhir pekan lalu, investor asing cenderung 'net sell', beberapa pekan lalu 'net buy', memang naik-turun. Ada saat beli dan ada saat jual, yang penting pasar modal tetap memiliki likuiditas yang tinggi,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia mengakui, beberapa hari terakhir investor asing memang cenderung melakukan aksi lepas saham, namun itu merupakan hal yang biasa. Selama dana investasi asing masih mencatatkan beli bersih sepanjang 2015, maka tidak perlu dikhawatirkan.

Dalam catatan BEI per 16 April 2015, investor asing membukukan beli bersih atau "foreign net buy" sebesar Rp5,064 triliun. Di sisi lain, Ito mengatakan, sentimen Amerika Serikat mengenai rencana bank sentral AS (the Fed) yang akan menaikan suku bunga (Fed fund rate) pada 2015 juga tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan,”Sentimen itu sudah cukup lama sekali, jadi tidak perlu dikhawatirkan, tentu sudah diantisipasi," paparnya.

Asal tahu saja, mengakhiri perdagangan di akhir pekan, IHSG ditutup melemah sebesar 10,08 poin atau 0,19% menjadi 5.410,64. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 3,46 poin (0,37%) ke level 938,75. Menurut Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada mengatakan, melemahnya mayoritas bursa saham regional menjadi salah satu faktor pelaku pasar saham di dalam negeri melakukan aksi jual, sehingga IHSG BEI kembali mengalami tekanan,”Situasi itu kembali mendorong investor asing kembali melakukan aksi lepas saham dapat transaksi efek akhir pekan ini,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah, sentimen dari eksternal yang cenderung negatif menjadi salah satu pemicu koreksi bagi IHSG, salah satunya datang dari Yunani yang masih bernegosiasi dengan kreditur internasional. Situasi itu, menurut dia, membuat Yunani kembali menjadi salah satu faktor yang membebani perdagangan bursa saham di dunia, termasuk IHSG BEI. Negosiasi Yunani dengan kreditur internasional berjalan lambat dan belum beranjak mendekati titik temu.

Di sisi lain, lanjut dia, komentar pejabat Federal Reserve seputar kenaikan suku bunga AS juga masih membebani pasar saham. Meski sejumlah sinyal aktivitas perekonomian AS melambat pada awal tahun, namun peluang kenaikan suku bunga masih cukup tinggi. (bani)

BERITA TERKAIT

Perusahaan Bisa Manfaatkan Pasar Modal - Danai Ekspansi Bisnis

NERACA Jakarta - Besarnya likuiditas di pasar modal, tentunya bisa dimanfaatkan para pelaku bisnis untuk mendanai ekspansi bisnisnya jangka panjang…

Skema Lelang Gula Rafinasi Dinilai Tidak Efektif

  NERACA Jakarta – Lembaga Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan distribusi gula rafinasi melalui mekanisme lelang dinilai tidak…

Lagi, IHSG Catatkan Rekor Baru 6.113 Poin

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (14/12), indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali mencatatkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Desa Nabung Saham Hadir di Monokwari

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mencanangkan "Desa Nabung Saham" di wilayah Kabupaten Manokwari, Papua Barat,”Desa Nabung Saham akan dibentuk…

BEI Suspensi Perdagangan Saham MNCN

Mengendus adanya transaksi yang mencurigakan melalui Nomura Sekuritas Indonesia, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) mengajukan penghentian sementara (suspensi) perdagangan…

Link Net Targetkan 150 Ribu Pelanggan

Kebutuhan jaringan internet di Indonesia memacu PT Link Net Tbk (LINK) gencar ekspansi jaringan. LINK optimistis bisa memenuhi target 2,8…