Rupiah Masih Dibayangi Kebijakan The Fed

NERACA

Jakarta -Kepala Analis Forex Time, Jameel Ahmad, menilai pergerakan kurs mata uang rupiah terhadap dolar AS masih dibayangi kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang akan menaikkan suku bunganya pada 2015.

"The Fed diperkirakan menaikkan suku bunga AS (Fed fund rate) sekitar September, situasi itu dapat mendorong aliran dana asing keluar (capital outflow) dan masuk ke AS," ujar Jameel, dalam diskusi ForexTime (FXTM) dengan tema "Pengaruh Ekonomi Global Terhadap Mata Uang Rupiah" di Jakarta, Kamis (16/4).

Menurut dia, saat ini dolar AS berada dalam area tren penguatan hingga kenaikan Fed fund rate terealisasi. Jika, dolar AS bergerak melemah itu hanya bersifat sementara.Di sisi lain, Jameel menambahkan bahwa kondisi ekonomi di kawasan Eropa juga masih cukup mengkhawatirkan seperti rendahnya inflasi, kondisi itu mengakibatkan mata uang euro bergerak melemah terhadap dolar AS.

"Pengaruh global masih membayangi, namun situasi itu masih dapat diimbangi oleh perekonomian domestik," katanya.Jameel juga menilai bahwa pemerintah Indonesia yang telah mengeluarkan beberapa kebijakan dalam rangka mendorong perekonomian domestik dapat menjaga fluktuasi nilai tukar rupiah stabil.

"Salah satu kebijakan pemerintah Indonesia untuk menurunkan pajak bagi perusahaan yang menanamkan investasinya di dalam negeri dapat menahan 'capital outflow' sehingga potensi rupiah bertahan cukup terbuka, ujarnya.Selain itu, lanjut dia, pemerintah Indonesia yang cukup fokus untuk menekan inflasi dapat memberikan dampak psikologis positif bagi pelaku pasar agar tetap bertahan di Indonesia.

"Harus diakui, pelaku pasar cukup khawatir terhadap inflasi Indonesia, diharapkan pemerintah dapat menjaganya," ucapnya.Dalam kesempatan itu, Jameel menyarankan agar investor di pasar valuta asing (valas) tidak mengambil posisi terlalu cepat dalam mengambil keputusan bertransaksi di tengah sentimen yang mudah berubah. [ardi]

BERITA TERKAIT

IMF Desak Negara-negara Hindari Kebijakan Perdagangan Terdistorsi

    NERACA   Jakarta - Ketegangan perdagangan sejauh ini tidak secara signifikan mempengaruhi ketidakseimbangan neraca berjalan global, tetapi membebani…

Investor Ritel di Pasar Obligasi Masih Minim

NERACA Jakarta – Tren pertumbuhan obligasi yang terus meningkat tidak diiringi dengan pertumbuhan investor ritel yang berinvestasi di pasar obligasi.…

Pembajakan Masih Jadi Masalah Pemilik Kekayaan Intelektual

NERACA Jakarta – Mentor program Katapel milik Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Mochtar Sarman mengatakan pembajakan menjadi masalah yang kerap kali…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Sentry Safe Hadirkan Brankas dengan Proteksi terhadap Kebakaran dan Banjir

  NERACA Jakarta – Brankas biasanya digunakan untuk menyimpan dokumen-dokumen penting ataupun barang-barang berharga. Oleh karena itu Sentry Safe mengeluarkan…

SKK Migas Inginkan Penyebaran Informasi Kontribusi Hulu Migas Di Daerah

NERACA Balikpapan - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerjasama…

Sky Energy Luncurkan Produk Teringan di Dunia - Pembangkit Tenaga Surya

      NERACA   Jakarta - Kebutuhan akan listrik semakin meningkat seiring berkembangnya teknologi. Pada 2019, kebutuhan listrik dunia…