Pangsa Pasar Tiphone Diprediski Tumbuh 8% - Pasca Akuisisi Simpatindo

NERACA

Jakarta – Perusahan telekomunikasi, PT Tiphone Mobile Tbk (TELE) bisa meningkatkan pangsa pasar di masa depan. Peluang ini muncul setelah TELE menyelesaikan akusisi distribusi voucher isi ulang prabayar, PT Simpatindo Multi Media.

Menurut analis Maybank Kim Eng, Emanuella Clarissa dalam riset tanggal 16 April 2015 menyebutkan, TELE akan mendapat tambahan pangsa pasar 8% pada voucher telepon seluler, sehingga total pangsa pasar perusahaan ini menjadi 20% mulai Januari 2015.

Tambahan pangsa pasar ini berpotensi mendorong pertumbuhan pendapatan bisnis voucher sebesar 39% di tahun 2015. Selain itu rencana PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) untuk bersinergi dengan TELE akan memberi potensi pertumbuhan pada kedua segmen bisnis TELE, yakni voucher dan handset,”Untuk segmen voucher, TELE berpotensi meningkatkan pangsa pasar dalam beberapa tahun mendatang. Sementara di bisnis handset, TELE berpotensi meningkatkan penjualannya dari migrasi pelanggan telepon seluler ke smartphone, terutama Samsung Model,"ujar Emanuella.

Asal tahu saja, PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk menargetkan peningkatan pendapatan sebesar 32,14% menjadi Rp18,5 triliun di 2015, dari perolehan target pendapatan di tahun 2014 yang mencapai di atas sebesar Rp14 triliun,”Kami optimistis target pendapatan di tahun 2014 dan tahun ini akan terwujud. Kontribusi pendapatan masih banyak disumbang dari voucher pulsa dan kartu perdana," kata Sekretaris Perusahaan TELE, Semuel Kurniawan.

Samul menjelaskan, kontribusi penjualan pulsa masih pendorong utama dari perolehan pendapatan yang didapatkan perseroan. Setelah itu baru disusul oleh handset dan sebagainya. Pulsa merupakan kebutuhan utama bagi seorang, dia menegaskan, karena semua lapisan masyarakat membutuhkannya, dari pedagang kecil sampai pebisnis. Sebab semua menggunakan alat komunikasi guna memperlancar kegiatan mereka sehari-hari, bahkan dalam berbisnis.

Disebutkan, kontribusi utama pendapatan perseroan masih penjualan pulsa hinggaa 70%, handset sendiri mencapai 20-30%. Dengan melihat faktor pendorong utama pendapatan dari pulsa. Dia meyakini di tahun ini juga penyumbang utama pendapatan untuk perseroan masih dihasilkan dari penjualan pulsa,”Semua orang butuh pulsa. Jadi kita yakini pendorong utama pendapatan dari pulsa," tukas Samuel.

Awal tahun ini, PT Tiphone Mobile Indonesia langsung tancap gas. Lewat anak usaha PT PINS Indonesia, manajemen perusahaan ini bakal mengoptimalkan bisnis penjualan voucher setelah mengakuisisi distributor voucher Telkomsel, PT Simpatindo Multimedia (SMM).

Samuel Kurniawan, Sekretaris Perusahaan Tiphone Mobile Indonesia pernah bilang, pihaknya mengambil ambil 90% kepemilikan saham dari pemilik lama yakni Sarindo Group yang kini masih mengempit 10% saham. Dirinya optimistis bisa meraup penjualan voucer dari Simpatindo Rp 4 triliun tahun ini. "Dengan aksi ini kami berharap bisa meningkatkan bisnis voucher,”ungkapnya. (bani)

Related posts