Terobosan Ekonomi Indonesia

Jumat, 17/04/2015

Adanya liberalisasi perdagangan barang dunia setidaknya akan menjamin kelancaran arus barang untuk pasokan bahan baku maupun bahan jadi di kawasan ASEAN, karena hambatan tarif dan non-tarif sudah tidak ada lagi. Kondisi pasar yang sudah bebas di kawasan dengan sendirinya akan mendorong pihak produsen dan pelaku usaha lainnya untuk memproduksi dan mendistribusikan barang yang berkualitas secara efisien, sehingga mampu bersaing dengan produk-produk dari negara lain.

Di sisi lain, para konsumen juga mempunyai alternatif pilihan yang beragam yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan, dari produk yang paling murah sampai yang paling mahal. Indonesia sebagai salah satu negara besar yang juga memiliki tingkat integrasi tinggi di sektor elektronik dan keunggulan komparatif di sektor berbasis sumber daya alam, berpeluang besar untuk mengembangkan industri di sektor tersebut di dalam negeri.

Apalagi Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi terbesar akan memperoleh keunggulan tersendiri, yang disebut dengan bonus demografi. Perbandingan jumlah penduduk produktif Indonesia dengan negara ASEAN lainnya adalah 38:100, yang artinya bahwa setiap 100 penduduk ASEAN, 38 adalah warga negara Indonesia. Bonus ini diperkirakan masih bisa dinikmati setidaknya sampai dengan 2035, yang diharapkan dengan jumlah penduduk yang produktif akan mampu menopang pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan per kapita penduduk Indonesia. Jika Indonesia mampu kuasai ASEAN, tahap berikutnya harus mampu menerobos percaturan ekonomi dunia.

Nah, momentum penyelenggaraan World Economic Forum (WEF) untuk Asia Timur akan digelar di Jakarta pada 19-21 April 2015 harusnya menjadi peluang bagus buat Indonesia. Karena pertemuan itu akan dihadiri perwakilan 40 negara, tiga kepala negara, 30 menteri, dan 180 CEO perusahaan dunia.

Kegiatan WEF ini untuk kedua kalinya diadakan di Jakarta setelah terakhir pada 2011. Presiden Joko Widodo siap menjadi host termasuk mengundang peserta WEF untuk makan malam bersama di Istana Negara sebagai bentuk penyambutan. Namun yang penting acara internasional ini harus dapat menghasilkan komitmen bisnis yang riil untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

Bagaimanapun, kita mesti sadar bahwa pada beberapa tahun silam merupakan kondisi yang penuh dengan gejolak, terjadi berbagai krisis geopolitik di berbagai belahan dunia dan ditambah dengan pertumbuhan ekonomi global yang stagnan. Situasi ini tentunya berdampak terhadap berbagai sektor industri, termasuk sektor energi khususnya minyak dan gas bumi. Dampak terhadap sektor energi dapat dilihat dari lambatnya perkembangan penurunan emisi gas rumah kaca dan menurunnya harga minyak dunia hingga level terendah yang tercatat hingga US$50 per barel.

Karena itu, pertemuan WEF sangat strategis bagi Indonesia. Pertama, adalah pembahasan masyarakat dunia yang mengidentifikasi potensi solusi untuk menekan tantangan nasional. Kedua, pembahasan ekonomi baru yang membahas peluang dan tantangan ekonomi di kawasan Asia Timur. Misalnya inovasi teknologi, dampak dari Masyarakat Ekonomi ASEAN, dan masalah kelestarian lingkungan dan sosial. Dan ketiga, pembahasan kawasan regional baru yang tidak hanya mengkaji perkembangan kerja sama regional tetapi juga tekanan politik.

Ini adalah momentum peningkatan rasa percaya satu sama lain dan menjadi faktor utama dalam mengeliminasi polarisasi sosial dan politik. Sehingga diharapkan ada kerja sama yang lebih baik antarnegara untuk memenuhi kebutuhan perkembangan ekonomi yang cepat di Asia Timur.

Forum internasional ini juga sekaligus akan mempertemukan kepentingan antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara lain serta kalangan dunia usaha. Presiden Jokowi dapat melihat kapasitas para menterinya dalam menjawab tantangan internasional, yang setidaknya dibuktikan dengan keberhasilan membuat perjanjian kerjasama yang riil dan terukur.