Akhir Pekan, Laju IHSG Masih Menguat

Jumat, 17/04/2015

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Kamis sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat 6,186 poin (0,11%) ke level 5.420,733. Sementara Indeks LQ45 naik tipis 1,608 poin (0,17%) ke level 942,226,”Laju IHSG bergerak ke area positif namun cenderung mendatar dikarenakan pelaku pasar terutama asing masih mengambil posisi jual," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada di Jakarta, Kamis (16/4).

Menurut dia, investor sedang menanti hasil kinerja emiten kuartal I 2015 sehingga pergerakan indeks BEI cenderung mendatar. Meski indeks BEI masih dalam konsolidasi, namun mulai adanya aksi beli oleh sebagian investor diharapkan dapat membuat IHSG ke depan bergerak positif.

Dia menambahkan bahwa aksi jual investor asing yang cenderung mulai menurun memberikan kesempatan bagi IHSG BEI untuk bergerak di area positif,”Meski demikian, tetap harus cermati dan antisipasi sentimen yang menjadi penggerak pasar baik terkait fundamental, teknikal, maupun sentimen-sentimen yang beredar di pasar,”paparnya.

Akhir pekan, laju indeks BEI diproyeksikan akan bergerak menguat. Pada perdagangan Kamis kemarin, transaksi investor asing hingga sore terpantau melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 160,448 miliar di seluruh pasar. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 225,433 kali dengan volume 7,142 miliar lembar saham senilai Rp 6,209 triliun. Sebanyak 150 saham naik, 157 turun, dan 81 saham stagnan.

Rata-rata bursa saham di Asia menutup perdagangan dengan positif sore. Aksi beli mulai ramai terjadi meski Wall Street ditutup negatif. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Matahari (LPPF) naik Rp 875 ke Rp 19.100, Semen Indonesia (SMGR) naik Rp 575 ke Rp 13.700, Plaza Indonesia (PLIN) naik Rp 500 ke Rp 3.800, dan Gowa Makassar (GMTD) naik Rp 350 ke Rp 6.900.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 650 ke Rp 49.225, Unilever (UNVR) turun Rp 525 ke Rp 38.100, Delta Djakarta turun Rp 500 ke Rp 279.500, dan Blue Bird (BIRD) turun Rp 400 ke Rp 9.300.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup aik tipis 5,880 poin (0,11%) ke level 5.420,427. Sementara Indeks LQ45 menguat tipis 1,520 poin (0,16%) ke level 942,138. Investor domestik berburu saham-saham unggulan, seperti saham perbankan kelas berat. Sedangkan investor asing melepas saham-saham di sektor infrastruktur.

Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 120.535 kali dengan volume 4,036 miliar lembar saham senilai Rp 3,241 triliun. Sebanyak 140 saham naik, 119 turun, dan 91 saham stagnan. Bursa-bursa regional masih bergerak mix hingga siang. Melambatnya pertumbuhan ekonomi China memberi sentimen negatif.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Indo Kordsa (BRAM) naik Rp 1.150 ke Rp 6.925, Plaza Indonesia (PLIN) naik Rp 450 ke Rp 3.750, Semen Indonesia (SMGR) naik Rp 425 ke Rp 13.550, dan Gowa Makassar (GMTD) naik Rp 350 ke Rp 6.900. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Delta Djakarta turun Rp 500 ke Rp 279.500, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 500 ke Rp 49.375, Blue Bird (BIRD) turun Rp 350 ke Rp 9.350, dan Indomobil (IMAS) turun Rp 300 ke Rp 3.600.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka naik sebesar 6,78 poin atau 0,13% menjadi 5.421,32, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak menguat 1,76 poin (0,19%) menjadi 942,38,”Neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Maret 2015 mengalami surplus US$ 1,13 miliar. Neraca perdagangan mencatat surplus selama empat bulan berturut-turut. Sentimen itu cukup positif meski belum berdampak besar terhadap IHSG BEI," kata Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah.

Alfiansyah menambahkan bahwa surplus neraca perdagangan yang menembus satu miliar dolar AS itu juga merupakan pertama kalinya sejak 15 bulan terakhir. Diharapkan, pemerintah harus dapat memperkuat kondisi dalam negeri ke depannya, menurut Bank Dunia pertumbuhan ekonomi Indonesia akan bergantung pada nilai ekspor batu bara dan gas bumi.

Dia menambahkan bahwa faktor yang sedang dinantikan pelaku pasar dalam waktu dekat ini, yakni kinerja keuangan emiten kuartal I 2015. Sebagian pelaku pasar masih khawatirkan terhadap kinerja emiten seiring dengan laju ekonomi domestik yang melambat.

Selain faktor dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan menyikapi kondisi dari pergerakan indeks saham di pasar regional. Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 49,71 poin (0,18%) ke 27.668,53, indeks Bursa Nikkei turun 81,65 poin (0,41%) ke 19.787,32, dan Straits Times menguat 0,70 poin (0,00%) ke posisi 3.540,07. (bani)