Neraca Perdagangan Surplus US$2,8 Miliar

Kuartal I/2015

Jumat, 17/04/2015

NERACA

Jakarta - Kinerja perdagangan bulan Maret 2015 mengukuhkan posisi surplus hingga US$ 1,1 miliar. Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengaku makin optimis terhadap pencapaian nilai ekspor yang telah ditargetkannya dalam lima tahun ke depan. "Neraca perdagangan Maret 2015 berhasil membukukan surplus sebesar USD 1,1 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada bulan sebelumnya yang hanya USD 662,7 juta,” kata Rachmat di Jakarta, Kamis (16/4).

Pada Maret 2015, total ekspor tercatat mencapai US$ 13,7 miliar, sedangkan total impor mencapai US$ 12,6 miliar. Dengan catatan tersebut, neraca perdagangan Maret 2015 surplus US$ 1,1 miliar yang terdiri atas surplus nonmigas sebesar US$ 1,4 miliar dan defisit migas yang tercatat US$ 279 juta. "Secara kumulatif, neraca perdagangan tahun ini hingga Maret mengalami surplus US$ 2,4 miliar, yang terdiri dari surplus nonmigas sebesar US$ 2,8 miliar dan defisit perdagangan migas sebesar US$ 401,3 juta," tuturnya.

Rachmat menjelaskan bahwa perkembangan surplus di tahun 2015 hingga Maret menunjukkan tren yang meningkat, terutama didorong oleh peningkatan surplus perdagangan nonmigas. Secara bulanan, neraca perdagangan Maret mencatat pencapaian surplus terbesar sejak awal tahun lalu. Hal tersebut dipicu oleh semakin berkurangnya defisit perdagangan migas dibanding defisit perdagangan migas Maret tahun lalu.

Beberapa negara mitra dagang Indonesia yang menjadi penyumbang surplus neraca perdagangan nonmigas selama Januari-Maret 2015 adalah India, Amerika Serikat, Belanda, Filipina, dan Uni Emirat Arab. Secara keseluruhan, lima negara mitra dagang tersebut menyumbang surplus perdagangan nonmigas sebesar US$ 6,1 miliar. Sementara itu, negara mitra dagang yang menjadi penyumbang defisit perdagangan nonmigas antara lain Republik Rakyat Tiongkok, Thailand, Australia, Brasil, dan Korea Selatan dengan jumlah mencapai US$ 6,7 miliar.

Hal lain yang menggembirakan, ungkap Rachmat, adalah ekspor nonmigas sepanjang Januari - Maret 2015 ke beberapa negara mitra dagang seperti Taiwan, Vietnam, Arab Saudi dan Swiss menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor ke Taiwan naik 13,2%; ke Vietnam naik 11,8%; ke Arab Saudi naik 13,7%; dan ke Swiss naik lebih dari 30 kali lipat.

"Ekspor nonmigas di bulan Maret yang menjadi primadona adalah sektor pertanian yang ekspornya meningkat 7,0% (YoY) di tengah melemahnya ekspor sektor lainnya. Secara kumulatif periode Januari-Maret 2015 ekspor sektor pertanian naik 4,0%. Di sisi lain, ekspor sektor pertambangan menunjukkan perbaikan walau masih mengalami pertumbuhan negatif," tutur Rachmat.

Beberapa produk ekspor nonmigas yang meningkat pada Januari-Maret 2015 adalah bijih, kerak, dan abu logam (naik 93,8%); perhiasan/permata (naik 51,8%); tembaga (naik 42,3%); dan alas kaki (naik 17%).

Kinerja impor selama Januari-Maret 2015 mengalami penurunan signifikan dipicu oleh menurunnya permintaan impor semua jenis barang, terutama dari sektor migas. Pada Maret 2015, total nilai impor mencapai USD 12,6 miliar atau naik 9,3% dibandingkan bulan sebelumnya (MoM), namun turun 13,4% dibandingkan Maret 2014 (YoY). Meskipun demikian, kinerja impor secara kumulatif selama Januari-Maret 2015 masih mengalami penurunan sebesar 15,1% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan impor selama Januari-Maret 2015 dipicu oleh anjloknya permintaan impor migas sebesar 44,5%, yang terdiri atas penurunan impor hasil minyak sebesar 45,8%; minyak mentah sebesar 42,4%; dan gas sebesar 42,8%. Impor Januari-Maret 2015 masih tetap didominasi bahan baku/penolong yang nilainya mengalami penurunan sebesar 16,2% (YoY). Barang-barang yang tergolong bahan baku/penolong yang impornya turun signifikan antara lain bahan kimia organik, plastik dan barang dari plastik, serta besi dan baja.

Di sisi lain, impor barang modal juga mengalami penurunan selama Januari-Maret 2015 sebesar 10,3% (YoY). Adapun barang modal yang mengalami penurunan impornya secara signifikan antara lain mesin/peralatan listrik, mesin/pesawat mekanik, dan kendaraan bermotor. Impor barang konsumsi yang hanya sebesar 6,9% dari total impor mengalami penurunan sebesar 14,3% (YoY). Barang konsumsi yang impornya turun signifikan antara lain daging hewan; susu, mentega, telur; dan sayuran.

Menurut negara asal impor, hampir sebagian besar impor dari negara mitra dagang mengalami penurunan. Penurunan tertinggi berasal dari Singapura (turun 33,5%), Korea Selatan (turun 22,7%), Jepang (turun 12,6%) dan Malaysia (turun 11,9%). Barang dari Singapura yang impornya turun antara lain mesin/peralatan listrik, mesin/pesawat mekanik, bahan kimia organik. Sedangkan barang dari Korea Selatan yang impornya turun antara lain besi dan baja, plastik dan barang dari plastik, serta karet dan barang dari karet.