Pertamina Siapkan BBM Jenis Baru

Jumat, 17/04/2015

NERACA

Jakarta - PT Pertamina (Persero) berencana untuk meluncurkan bahan bakar bensin jenis baru dengan kisaran angka oktan antara 88 hingga 92 pada Mei 2015. Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, bensin jenis baru itu merupakan produk transisi sebelum penghapusan premium berangka oktan (research octane number/RON) 88. “Kami akan mengeluarkan produk bensin baru dengan RON 90 pada bulan depan di Jakarta, Surabaya, Semarang, dan kota besar lainnya di Jawa," katanya di Jakarta, Kamis (16/4).

Menurut dia, premium hanya dijual di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di jalur angkutan umum dan pinggiran kota. Bambang menjamin, produk baru tersebut lebih halus, bertenaga, dan ramah lingkungan dibandingkan premium RON 88. “Produk ini bisa melaju lebih jauh," ujarnya. Angka oktan bensin produk baru tersebut berada di antara premium RON 88 dan pertamax dengan RON 92.

Saat ini, bensin sudah merupakan komoditas nonsubsidi. Premium RON 88 dijual Pertamina dengan harga Rp7.400 per liter di Jawa-Bali dan Rp7.300 per liter di luar Jawa-Bali. Sementara pertamax dijual bervariasi sesuai keekonomian berdasarkan wilayah. Di Jakarta, Pertamax dijual Rp8.600 per liter. Bambang belum mau membocorkan harga maupun nama bensin produk baru tersebut.

Namun, kemungkinan harganya berkisar antara premium 88 yang Rp7.400 hingga pertamax 92 yang Rp8.600 per liter. Pemerintah menargetkan penghapusan premium berangka oktan 88 dalam dua tahun atau sampai 2017. Waktu dua tahun tersebut dianggap cukup bagi Pertamina sebagai persiapan menghadapi kompetisi dengan perusahaan lain.

Sebelumnya, Wakil Presiden Pemasaran Bahan Bakar Pertamina M Iskandar mengungkapkan saat ini konsumsi bahan bakar minyak (BBM) untuk transportasi jenis premium dan solar mengalami penurunan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Ia mengatakan, penurunan konsumsi BBM itu diperkirakan akibat faktor perekonomian global. "Konsumsi BBM sejumlah negara juga turun meski harga minyak sekarang ini sedang rendah," ujarnya.

Menurut dia, penjualan BBM transportasi jenis premium dan solar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mengalami penurunan masing-masing sekitar 7.000 kiloliter (KL) per hari. Pada 2014, konsumsi premium mencapai 29,63 juta KL atau 81.000 KL per hari dan kini 74.000 KL per hari. Sementara, solar turun dari 16,24 juta KL atau 44 ribu KL per hari menjadi 37 ribu KL per hari.

Iskandar juga mengatakan, penurunan konsumsi premium juga dikarenakan sebagian konsumen beralih ke pertamax. "Sejak harga premium dan pertamax tidak berbeda jauh, konsumsi pertamax meningkat," cetusnya. Ia menambahkan, dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan konsumsi BBM memang sudah melambat. "Premium yang sebelumnya tumbuh sampai sembilan persen, menjadi turun tiga persen," katanya.

Senada dengan Iskandar, Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu (BPH) Migas, Andy Norsaman Sommeng mengatakan sejak 2013 lalu hingga kini, penurunan tingkat konsumsinya mencapai sekitar 10 juta kiloliter (KL). Ini merupakan satu indikasi bagus, karena masyarakat makin hemat energi dan beban subsidi di APBN makin rendah. Tingkat penyelewengan BBM bersubsidi juga makin rendah. “Konsumsi BBM itu turun, artinya kita bisa menekan konsumsi nasional, dulu konsumsi nasional disalahgunakan,” kata Andy.

Pada tahun 2013 jatah BBM bersubsidi di Indonesia mencapai 48 juta kiloliter, dan di akhir tahun cadangan. BBM bersubsidi masih tersisa sekitar 300 ribu kiloliter. Pada tahun 2014 jatah BBM bersubsidi diturunkan menjadi 46 kilo liter, dan itu pun masih tersisa sekitar 300 ribu liter. “Artinya kita juga menahan (tingkat konsumsi). Padahal kalau kita mengikuti konsumsi riil (bahaya nanti),” ujar Andy.

Tahun 2015 ini tingkat konsumsi BBM bersubsidi diprediksi akan kembali berkurang, karena kebijakan pencabutan subsidi atas BBM jenis premium. Andy mengklaim hal itu sebagai salah satu hasil dari upaya BPH Migas selama ini. Namun demikian Indonesia masih harus memperbaiki cadangan nasional. Saat ini perbandingan antara cadangan dan produksi adalah 6:10, atau dengan kata lain cadangan Indonesia lebih dari pada konsumsi. “Artinya itu akan menguras isi bumi kita,” ujar nya.

Cadangan tersebut adalah cadangan operasional yang dimiliki Pertamina. Cadangan tersebut juga dalam banyak kasus justru merugikan Pertamina, karena Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu terpaksa menyimpan minyak yang harusnya bisa dijual dan memberikan keuntungan untuk negara.