Penderita Diabetes Terus Meningkat di Indonesia

Sabtu, 18/04/2015

Menurut hasil survei kesehatan nasional 2013 dan perkiraan IDF 2015 jumlah penyandang diabetes di Indonesia sangat besar, yaitu sekitar 9,1 juta dengan prevalensi yang terus meningkat setiap tahunnya. Ini dapat menjadi beban berat bagi dokter spesialis/subspesialis untuk dapat ditangani sendiri.

NERACA

Prof.Dr.dr. Achmad Rudijanto, SpPD KEMD, FINASIM, Ketua PERKENI mengatakan, dalam upaya pengendalian diabetes saat ini secara umum kita masih menghadapi beberapa tantangan, di antaranya adalah masih terdapatnya berbagai kendala akses pelayanan kesehatan dengan sistem Jaminan Kesehatan Nasional serta masih banyaknya tenaga kesehatan yang kurang terlatih sehingga belum bisa mengimbangi peningkatan yang terjadi pada penyandang diabetes.

"Dengan jumlah endokrinolog di Indonesia yang masih terbilang sedikit, yaitu sekitar 100 orang (per Maret 2015) PERKENI terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi anggotanya dengan menyelenggarakan berbagai seminar dan workshop bekerja sama dengan berbagai pihak," kata Achmad di Jakarta pekan lalu.

Menurutnya pada strategi pelayanan kesehatan bagi penyandang diabetes, peran dokter umum menjadi sangat penting sebagai ujung tombak di pelayanan kesehatan primer. Kasus Diabetes Mellitus (DM) sederhana tanpa penyulit harus dapat dikelola dengan tuntas oleh dokter umum di pelayanan kesehatan primer.

"Penyandang diabetes harus diedukasi agar dapat memanage diri sendiri dengan baik karena hal ini merupakan salah satu kunci kesuksesan program pengendalian diabetes. Oleh karena itu, kami sangat mendukung kelanjutan pelaksanaan PDCI di Indonesia dengan cara merancang kurikulum pelatihan bekerja sama dengan ADA, selain juga mempersiapkan anggota PERKENI untuk dapat memberikan pelatihan dengan pendekatan yang mudah dipahami oleh peserta," ungkapnya.

Di samping, lanjut Achmad, itu penting untuk diingat bahwa dalam mengendalikan diabetes, semua elemen masyarakat harus bekerja sama dengan baik, termasuk di dalamnya pendidikan dasar tentang diabetes yang dimulai dari tingkat Sekolah Dasar dan seterusnya sehingga kesadaran tentang diabetes yang masih rendah di Indonesia dapat ditingkatkan.

Ketua Perkeni ini menjelaskan PDCI adalah program pelatihan peningkatan kapasitas bagi 5.000 dokter umum dan 500 internis di Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam tata laksana penyakit diabetes guna mengendalikan laju angka diabetes di Indonesia.

"Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2012 sampai dengan awal tahun 2015, program PDCI telah dilaksanakan dalam 5 gelombang dengan 33 kali pelatihan. Dari pelatihan tersebut, sebanyak 2500 dokter umum dan 300 internis berhasil dilatih dalam hal diagnosa dan tata laksana diabetes," paparnya.

Menurutnya perkembangan PDCI saat ini cukup menggembirakan, kegiatan pendidikan berkelanjutan bagi dokter internis dan dokter layanan primer terus diperbaiki dan dilanjutkan. Pada tahun ini kami memastikan lagi bahwa pelatihan ini berdampak pada peningkatan pelayanan penyandang diabetes melalui konsultasi medis dan edukasi. Melalui pelatihan PDCI, kami berharap jumlah target pelayanan dapat tercapai di samping perbaikan layanan pasien dapat meningkat.

Sedangkan Prof.Dr.dr.Pradana Soewondo, SpPD, KEMD, Guru Besar Endokrinologi Dept.Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM (PDCI) mengungkapkan tahun ini kita mencoba mengintegrasikan dengan model pelayanan kronik yang dikembangkan oleh sistem kesehatan nasional (JKN). Dalam pelatihan PDCI tidak hanya membahas mengenai penyakit tetapi model layanan yang dikembangkan dengan melibatkan berbagai stakeholder.

"PDCI mengutamakan persiapan profesi medis untuk bekerja dalam sistem pelayanan kesehatan khususnya Diabetes Mellitus (DM). DM merupakan penyakit nomor dua terbanyak setelah hipertensi, di antara 9 penyakit kronik yang masuk dalam Prolanis. PDCI mendapatkan animo positif dari para dokter dan internis dan kegiatan lanjutan setelah pelatihan cukup diminati para alumni," katanya.

Menurutnya penyandang diabetes di Indonesia masih banyak yang belum terdiagnosis. diperkirakan saat ini hanya dua pertiga saja dari yang terdiagnosis yang menjalani pengobatan, baik non farmakologis maupun farmakologis. Dan dari yang menjalani pengobatan tersebut hanya sepertiganya saja yang terkendali dengan baik. Padahal bukti-bukti menunjukkan bahwa komplikasi diabetes dapat dicegah dengan kontrol glikemik yang optimal. Namun sayangnya walalu control glikemik yang optimal sangatlah penting, di Indonesia target pencapaian kontrol glikemik masih belum tercapai, rerata HbA1c masih 8%, masih di atas target yang diinginkan yaitu 7%.

"Laju perkembangan penyakit diabetes dapat berdampak cukup besar terhadap kualitas sumber daya manusia dan peningkatan biaya kesehatan apabila dibiarkan. Oleh karena itu diperlukan partisipasi semua pihak, baik masyarakat, sektor swasta, maupun pemerintah, untuk ikut serta dalam usaha penanggulangan penyakit ini," pungkasnya.