2015, Ekonomi Hanya Tumbuh 4,7%

Kamis, 16/04/2015

NERACA

Jakarta - Perusahaan jasa keuangan Swiss, UBS, merevisi proyeksinya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 menjadi 4,7% dari sebelumnya 5% karena data ekonomi Januari-Febaruari 2015 belum menunjukkan perkembangan signifikan.Ekonom senior UBS wilayah Asia Tenggara dan India, Edward Teather menyebutkan, salah satu indikator itu adalah pemulihan harga komoditi yang selama tahun berjalan belum membantu perekonomian.

"Data terkini memperlihatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil belum sampai titik terdalam, sementara itu pergerakan harga komoditas terlihat tidak membantu. Dengan demikian, perekonomian Indonesia dapat berkurang percepatannya pada 2015 dan tidak sesuai asumsi konsensus," tegas dia, di Jakarta, Rabu (15/4).

UBS juga merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 menjadi 5,6% dari 5,8%. Namun, Edward mengatakan, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat terpacu ketika kebijakan moneter diperlonggar dan penyerapan belanja infrastruktur meningkat.

"Selama ini kami melihat tentang pertumbuhan permintaan dan kebutuhan sejajar, namun saat ini kami mengurangi proyeksi pertumbuhan PDB menjadi 4,7% dari 5% pada tahun 2015. Demikian pula, kami menurunkan revisi kami untuk pertumbuhan di tahun 2016 menjadi 5,6% dari 5,8%," jelasnya.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi masih melambat hingga Februari 2015, jika melihat data penjualan dari kinerja ekspor, impor, bahan baku semen dan juga kendaraan bermotor.Dia mengatakan dua faktor pelambatan pertumbuhan ekonomi tahun berjalan ini yaitu jatuh temponya siklus pinjaman yang mendera dunia usaha, dan penurunan harga komoditas.

Proyeksi UBS untuk harga komoditi batu bara termal, kata Edward, mengalami penurunan harga sebesar 13%.Sementara itu terjadi peningkatan harga untuk batu Brent sebesar tujuh persen.Di sisi lain, menurut dia, Bank Indonesia akan melihat neraca transaksi berjalan akan membaik pada kuartal I 2015, namun kembali tertekan pada tiga kuartal setelahnya.

Meskipun demikian, dia meyakini defisit neraca transaksi berjalan akan lebih baik pada 2015 dibanding 2014. Pada tahun 2014, defisit neraca transaksi berjalan Indonesia tercatat 2,95% terhadap PDB atau US$26,2 miliar. SementaraDirektur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Tirta Segara menilai, ke depan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini berisiko mengarah ke batas bawah kisaran 5,4% - 5,8%.

"Pencapaian tingkat pertumbuhan tersebut akan dipengaruhi seberapa besar dan cepat realisasi berbagai proyek infrastruktur yang direncanakan pemerintah, selain konsumsi yang tetap kuat dan ekspor yang secara gradual," kata dia. Dari sisi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2015 diperkirakan masih moderat dan mulai kembali meningkat pada triwulan II-2015.

Adapun konsumsi diperkirakan masih cukup kuat pada triwulan I-2015, sementara ekspor dan investasi mengindikasikan kecenderungan yang melambat. "Masih cukup kuatnya konsumsi terutama didorong konsumsi swasta akibat terkendalinya inflasi," ujarnya.

Sementara itu, pengeluaran pemerintah yang diharapkan menjadi stimulus pertumbuhan diperkirakan masih tumbuh terbatas sesuai pola realisasinya di awal tahun dan baru akan meningkat mulai triwulan II-2015 dan seterusnya. Di sisi lain, ekspor diperkirakan masih terkontraksi, walaupun mulai mengalami perbaikan, sejalan dengan masih lemahnya harga komoditas dan melambatnya permintaan dunia, khususnya untuk produk manufaktur. [agus]