Perhatikan Penurunan Impor Barang Modal dan Bahan Baku

Kamis, 16/04/2015

NERACA

Jakarta - Pemerintah harus memperhatikan perlambatan impor barang modal dan bahan baku pada kuartal I 2015 karena akan sangat mempengaruhi pembangunan infrastruktur untuk menstimulus capaian pertumbuhan ekonomi. "Impor barang modal terus jatuh. Ini dapat dikatakan 'net negative' untuk perekonomian, mengingat kandungan tinggi untuk produksi dari impor," kata ekonom DBS Bank, Gundy Cahyadi, di Jakarta, Rabu (15/4).

Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik bahwa nilai impor bahan baku/penolong, dan barang modal selama kuartal I 2015 menurun di mana masing-masing 16,22% dan 10,31% dibanding periode sama di 2014.Secara kumulatif, nilai impor Januari-Maret 2015 turun 15,10% dibanding periode yang sama tahun lalu atau mencapai 36,70 miliar dolar AS.

Gundy juga menuturkan jika impor barang modal dan bahan baku terus melambat, namun belum ada perbaikan industri dalam negeri untuk substitusi impor, maka dampaknya akan signifikan memperlambat perekonomian secara jangka panjang.Karena itu, dia mendorong agar upaya pengembangan industri substitusi impor dipercepat.

Seperti diketahui, kebutuhan barang modal untuk pembangunan infrastruktur di Indonesia, masih banyak dipenuhi oleh pasokan impor.Selain penurunan barang modal dan bahan baku, BPS juga mencatat pelambatan impor barang konsumsi sebesar 14.32% di kuartal I 2015.

Dari sisi ekspor, Gundy mengatakan pertumbuhan ekspor Maret sebesar 12,63% jika dibanding Februari 2015 merupakan capaian yang baik, dan dapat memberikan stimulus positif bagi kinerja transaksi berjalan.Namun, kata Gundy, jika melihat kuartal I 2015, nilai ekspor melambat 11,67% menjadi 39,13 miliar dolar AS dibanding periode sama sebelumnya.

Hal tersebut, kata dia, menunjukkan kinerja ekspor belum pulih sepenuhnya setelah mengalami pelambatan karena tekanan perekonomian global."Pertumbuhan ekspor masihi payah. Satu-satunya alasan mengapa neraca perdagangan mencatat surplus adalah kenyataan bahwa impor tren jauh lebih buruk daripada ekspor," pungkasnya. [agus]