Berpeluang Menguat, Saatnya Aksi Beli

Kamis, 16/04/2015

NERACA

Jakarta – Minimnya sentiment positif makin memperburuk kondisi indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sudah terkoreksi sejak perdangan sesi pertama. Melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina memicu dana asing keluar dengan direspon aksi ambil untung. Alhasil, mengakhiri perdagangan Rabu sore, indeks BEI ditutup melemah tipis 4,560 poin (0,08%) ke level 5.414,547. Sementara Indeks LQ45 ditutup naik tipis 0,383 poin (0,04%) ke level 940,618.

Analis Asjaya Indosurya Securities William, Surya Wijaya mengatakan, data neraca perdagangan Indonesia yang mencatatkan surplus untuk periode Maret 2015 menjadi salah satu penopang indeks BEI sehingga hanya mengalami tekanan tipis,”Sebagian pelaku pasar mulai mengakumulasi saham-saham berkapitalisasi besar sehingga tekanan indeks BEI terbatas,”ujarnya di Jakarta, Rabu (15/4).

Badan Pusat Statistik mengumumkan data neraca perdagangan Indonesia periode Maret 2015 surplus sebesar US$ 1,13 miliar yang dipicu oleh surplus nonmigas sebesar US$ 1,41 miliar. Menurut dia, bagi investor dengan orientasi jangka panjang merupakan saat yang tepat untuk melakukan akumulasi beli karena IHSG BEI dengan rentang waktu jangka panjang masih berada di dalam jalur tren penguatan.

Sementara itu, analis HD Capital Yuganur Wijanarko menambahkan, aksi beli saham secara selektif oleh sebagian pelaku pasar menahan tekanan indeks BEI lebih dalam,”Dengan mulai adanya aksi beli itu maka akan membangun momentum kekuatan IHSG ke depannya sehingga berpotensi menuju level batas atas di kisaran 5.475-5.524 poin cukup terbuka, pelaku pasar masih direkomendasikan untuk mengambil posisi akumulasi saham," kata Yuganur.

Pada perdagangan kemarin, tBottom of Form

ujuh dari sepuluh indeks sektoral terkena koreksi, yang menguat hanya sektor industri dasar, pertambangan, dan konstruksi. Transaksi investor asing hingga sore tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 654,78 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 216.362 kali dengan volume 7,673 miliar lembar saham senilai Rp 5,619 triliun. Sebanyak 129 saham naik, 166 turun, dan 91 saham stagnan. Bursa-bursa di Asia menutup perdagangan sore dengan mix. Pasar saham China jatuh paling dalam merespons pertumbuhan ekonominya yang melambat.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup terkoreksi 16,684 poin (0,31%) ke level 5.402,423. Sementara Indeks LQ45 turun 1,764 poin (0,19%) ke level 938,471. Saham-saham unggulan kembali jadi sasaran aksi jual. Delapan dari sepuluh indeks sektoral terkena koreksi, yang menguat hanya sektor industri dasar dan konstruksi.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 120.079 kali dengan volume 3,733 miliar lembar saham senilai Rp 2,913 triliun. Sebanyak 107 saham naik, 153 turun, dan 79 saham stagnan. Hanya satu bursa saham di Asia yang menguat, yaitu pasar saham Singapura. Selebihnya masih terjebak di teritori negatif.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Solusi Tunas (SUPR) naik Rp 400 ke Rp 10.500, Lippo Cikarang (LPCK) naik Rp 300 ke Rp 11.800, Semen Indonesia (SMGR) naik Rp 225 ke Rp 13.075, dan Plaza Indonesia (PLIN) naik Rp 200 ke Rp 2.900. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Mayora (MYOR) turun Rp 950 ke Rp 24.750, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 650 ke Rp 49.925, Merck (MERK) turun Rp 600 ke Rp 142.000, dan Elang Mahkota (EMTK) turun Rp 550 ke Rp 10.500.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka menguat sebesar 7,12 poin atau 0,13% menjadi 5.426,23. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan (indeks LQ45) bergerak naik sebesar 1,80 poin (0,19%) ke level 942,04. Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah mengatakan, Bank Indonesia (BI) dalam rapat kebijakannya kemarin (Selasa, 14/4) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya (BI Rate) di level 7,5%.

Kebijakan yang ditempuh BI itu dipandang positif oleh sebagian pelaku pasar saham sehingga dapat menopang indeks BEI,”Level BI rate itu diperkirakan sejalan dengan upaya pengendalian inflasi di kisaran bawah 4 plus minus 1% untuk tahun 2015 dan 2016," katanya.

Kendati demikian, menurut dia, faktor negatif global masih membayangi laju penguatan IHSG BEI, salah satunya berkenaan dengan ancaman gagal bayar utang Yunani, situasi itu akan berdampak besar bagi indeks regional Eropa serta pengaruhnya bagi indeks saham global.

Sementara itu, Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menambahkan, kondisi bursa saham global diharapkan dapat sedikit lebih positif sehingga pelemahan indeks BEI dalam beberapa hari terakhir ini dapat dimanfaatkan investor untuk kembali mengakumulasi saham dan IHSG pun dapat lebih terbatas penurunanya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 34,21 poin (0,12%) ke 27.595,70, indeks Bursa Nikkei turun 11,38 poin (0,06%) ke 19.897,30, dan Straits Times menguat 8,66 poin (0,25%) ke posisi 3.529,21. (bani)