Danareksa Tangani Obligasi Rp 10 Triliun

Incar Menjadi Peringkat Lima

Kamis, 16/04/2015

NERACA

Jakarta - PT Danareksa Sekuritas menyampaikan, ada beberapa perusahaan yang bakal menerbitkan obligasi pada semester I tahun 2015. Total nilai dari obligasi tersebut mencapai Rp 10 triliun,”Kami baru saja menghantarkan BNI Syariah ke pasar modal Indonesia melalui penerbitan penerbitan Sukuk Mudharabah senilai Rp 750 miliar. Setelah ini, ada lebih dari 5 lagi perusahaan yang ingin melakukan aksi korporasi (obligasi) di semester I 2015, yakni nilainya mencapai Rp 10 triliun,”kata Direktur Danareksa Sekuritas, Iman Hilmansah di Jakarta, Rabu (15/4).

Dia menuturkan, pasar obligasi secara umum diperkirakan masih semarak pada tahun ini. Alhasil, ada sekitar 5 obligasi lebih yang sudah di tangan atau masuk daftar antrean (pipe line) perseroan. Namun saat ditanya sektor dari perusahaan yang ingin menerbitkan obligasi tersebut, Iman belum mau menyebutkan. "Ada beberapa perusahaan lah, sektornya beragam. Dari total nilai Rp 10 triliun itu, ada 2 perusahaan yang akan menerbitkan sukuk,”paparnya.

Lebih lanjut Iman mengatakan, pihaknya mengincar dapat masuk dalam jajaran lima besar perusahaan sekuritas dalam kategori nilai emisi obligasi terbesar pada tahun ini. Menurut Iman, perusahaan menargetkan total emisi obligasi korporasi sekitar Rp 50 triliun untuk tahun ini saja,”Kami mengincar untuk bisa masuk top 5 kategori besaran nilai penerbitan obligasi. Kalau ga salah itu, target total emisi obligasi kita itu sekitar 50 triliun tahun ini," jelasnya.

Asal tahu saja, Direktur Indonesia Bond Pricing Index (IBPA), Wahyu Trenggono pernah bilang, sampai dengan semester pertama tahun ini, likuiditas pasar surat utang atau obligasi baik itu pemerintah maupun korporasi di dalam negeri masih cukup positif menyusul ketersedian produk yang relatif baik,”Likuiditas pasar surat utang dalam negeri diyakini masih cukup positif,”ungkapnya.

Menurutnya, pasar surat utang akan banyak di serap pasar, meski sepanjang tahun ini terjadi penurunan imbal hasil khususnya untuk obligasi pemerintah yang tercermin dari turunnya IndoBeXG-total return secara 'year to date' (ytd) di akhir bulan Maret ke level 5,72%. Namun dia menambahkan, masih ada harapan di pasar ke depannya.

Dijelaskannya, penurunan imbal hasil obligasi masih dinilai wajar karena ekspektasi kenaikan inflasi di dalam negeri menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Di sisi lain, lanjut dia, faktor depresiasi rupiah juga turut mengakibatkan penurunan likuiditas. Ketidakpastian sentimen mengenai kenaikan suku bunga AS (Fed fund rate) menjadi salah satu rupiah terdepresiasi sehingga membuat aksi "wait and see" investor,”Aksi investor itu terlihat dari menurunnya penawaran dari lelang SBN beberapa waktu lalu meski masih mencatatkan 'oversubscribed'," katanya.

PT Bursa Efek Indonesia mencatat total emisi obligasi maupun sukuk yang diterbitkan hingga perdagangan Kamis (9/4) mencapai Rp15,07 triliun. Nilai itu disumbang 13 emisi yang diterbitkan 12 emiten. (bani)