BNI Syariah Wacanakan Untuk Go Public

Butuh Modal Besar

Kamis, 16/04/2015

NERACA

Jakarta – Ditengah ketatnya likuiditas perbankan saat ini, memaksa pelaku perbankan untuk terus meningkatkan modal kerja dan termasuk dengan mencari instrument pembiayaan di pasar modal, disamping mengandalkan suntikan modal dari pemegang saham atau induk usaha. Langkah inilah yang dilakukan PT Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah yang menerbitkan Sukuk Mudharabah BNI Syariah Pertama tahun 2015 senilai Rp 750 miliar.

Kata Presiden Direktur BNI Syariah, Dinno Indiano, penerbitan Sukuk Mudharabah dimaksudkan untuk mendukung likuiditas dan termasuk ekspansi bisnis. Bahkan kedepan perseroan mewacanakan untuk go public di tahun 2016 hingga 2017,”Seiring dengan tergerusnya kecukupan modal perseroan yang tiap tahunya mencapai 2% hingga 2,5%, maka kita butuh modal tahun depan. Langkah ini dilakukan lewat go public jika induk usaha tidak lagi menyuntik modal ke BNI Syariah,”ungkapnya di Jakarta, Rabu (15/4, Rabu (15/4).

Dirinya menegaskan, rencana go public menjadi kewenangan BNI Grup sebagai pemegang saham mayoritas BNI Syariah. Dimana pencarian dana di pasar modal melalui penawaran saham perdana atau initial public offering akan dilakukan dengan catatan jika induk usaha tidak lagi menyuntik modal. Sementara Direktur Bisnis BNI Syariah, Imam Teguh Saptono menambahkan, penerbitan Sukuk Mudharabah dilakukan selain untuk mendukung likuiditas, juga untuk meramaikan dan mendukung gagasan tahun pasar modal syariah yang dikampanyekan Otoritas Jasa Keuangan.

Kata Imam, Sukuk Mudharabah ini menawarkan imbal hasil sekitar 8,75% hingga 9,75%. Nantinya, penggunaan dana hasil penerbitan Sukuk ini untuk perbesar pasar di kredit komersial, “Kita harapkan pertumbuhan kredit komersial tahun ini sebesar 60% dari saat ini hanya 48%,”tuturnya.

Untuk penerbitan Sukuk ini, BNI Syariah menjaminkan asset kredit consumer sebesar 52% di dominasi pembiayaan perumahan, 16% kredit komersil diatas Rp 10 miliar, 17% kredit komersil dibawah Rp 10miliar dan 7% di sektor kredit mikro.

Per Desember 2014, BNI Syariah membukukan laba bersih mencapai Rp 163,25 miliar atau naik sebesar 38,98% di banding tahun lalu senilai Rp 117,46 miliar. Sementara asset tumbuh sebesar 32,52% dari tahun lalu per Desember 2014 mencapai Rp 19,49 triliun. Pertumbuhan asst didorong oleh pertumbuhan pembiayaan sebesar 33,79% dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPR) sebesar 41,42% dari tahun sebelumnya.

Sedangkan total pembiayaan tahun 2014 senilai Rp 15,04 triliun, dimana sebagian besar merupakan pembiayaan konsumtif 52,60%, disusul oleh pembiayaan produktif UKM sebesar 21,61%, pembiayaan komersial 16,15%, pembiayaan mikro 6,96% dan pembiayaan kartu Hasanah Card 2,68%. Untuk pembiayaan konsumtif tersebut sebagian besar merupakan pembiayaan Griya iB Hasanah sebesar Rp 6,88 triliun.

Seiring dengan pertumbuhan pembiayaan, pertumbuhan DPK meningkat sebesar 41,42% dari tahun sebelumnya atau tumbuh sejumlah Rp 4,76 triliun dengan rasio tabungan dan giro (CASA) sebesar 45,38%. (bani)