BNI Syariah Wacanakan Untuk Go Public - Butuh Modal Besar

NERACA

Jakarta – Ditengah ketatnya likuiditas perbankan saat ini, memaksa pelaku perbankan untuk terus meningkatkan modal kerja dan termasuk dengan mencari instrument pembiayaan di pasar modal, disamping mengandalkan suntikan modal dari pemegang saham atau induk usaha. Langkah inilah yang dilakukan PT Bank Negara Indonesia (BNI) Syariah yang menerbitkan Sukuk Mudharabah BNI Syariah Pertama tahun 2015 senilai Rp 750 miliar.

Kata Presiden Direktur BNI Syariah, Dinno Indiano, penerbitan Sukuk Mudharabah dimaksudkan untuk mendukung likuiditas dan termasuk ekspansi bisnis. Bahkan kedepan perseroan mewacanakan untuk go public di tahun 2016 hingga 2017,”Seiring dengan tergerusnya kecukupan modal perseroan yang tiap tahunya mencapai 2% hingga 2,5%, maka kita butuh modal tahun depan. Langkah ini dilakukan lewat go public jika induk usaha tidak lagi menyuntik modal ke BNI Syariah,”ungkapnya di Jakarta, Rabu (15/4, Rabu (15/4).

Dirinya menegaskan, rencana go public menjadi kewenangan BNI Grup sebagai pemegang saham mayoritas BNI Syariah. Dimana pencarian dana di pasar modal melalui penawaran saham perdana atau initial public offering akan dilakukan dengan catatan jika induk usaha tidak lagi menyuntik modal. Sementara Direktur Bisnis BNI Syariah, Imam Teguh Saptono menambahkan, penerbitan Sukuk Mudharabah dilakukan selain untuk mendukung likuiditas, juga untuk meramaikan dan mendukung gagasan tahun pasar modal syariah yang dikampanyekan Otoritas Jasa Keuangan.

Kata Imam, Sukuk Mudharabah ini menawarkan imbal hasil sekitar 8,75% hingga 9,75%. Nantinya, penggunaan dana hasil penerbitan Sukuk ini untuk perbesar pasar di kredit komersial, “Kita harapkan pertumbuhan kredit komersial tahun ini sebesar 60% dari saat ini hanya 48%,”tuturnya.

Untuk penerbitan Sukuk ini, BNI Syariah menjaminkan asset kredit consumer sebesar 52% di dominasi pembiayaan perumahan, 16% kredit komersil diatas Rp 10 miliar, 17% kredit komersil dibawah Rp 10miliar dan 7% di sektor kredit mikro.

Per Desember 2014, BNI Syariah membukukan laba bersih mencapai Rp 163,25 miliar atau naik sebesar 38,98% di banding tahun lalu senilai Rp 117,46 miliar. Sementara asset tumbuh sebesar 32,52% dari tahun lalu per Desember 2014 mencapai Rp 19,49 triliun. Pertumbuhan asst didorong oleh pertumbuhan pembiayaan sebesar 33,79% dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPR) sebesar 41,42% dari tahun sebelumnya.

Sedangkan total pembiayaan tahun 2014 senilai Rp 15,04 triliun, dimana sebagian besar merupakan pembiayaan konsumtif 52,60%, disusul oleh pembiayaan produktif UKM sebesar 21,61%, pembiayaan komersial 16,15%, pembiayaan mikro 6,96% dan pembiayaan kartu Hasanah Card 2,68%. Untuk pembiayaan konsumtif tersebut sebagian besar merupakan pembiayaan Griya iB Hasanah sebesar Rp 6,88 triliun.

Seiring dengan pertumbuhan pembiayaan, pertumbuhan DPK meningkat sebesar 41,42% dari tahun sebelumnya atau tumbuh sejumlah Rp 4,76 triliun dengan rasio tabungan dan giro (CASA) sebesar 45,38%. (bani)

BERITA TERKAIT

Membangun Bisnis Untuk Pemula

Membuka bisnis sendiri atau berwirausaha kian digandrungi banyak orang. Bagi seseorang yang fleksibel dan tidak suka terikat, berbisnis memang menjadi…

UMKM Banten Butuh Dukungan Modal dan Pemasaran

UMKM Banten Butuh Dukungan Modal dan Pemasaran NERACA Serang - Perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Provinsi Banten…

MNC Edukasi Pasar Modal di UPI Bandung

Komitmen untuk meningkatkan literasi keuangan di pasar modal, MNC Asset Management belum lama ini menggelar eduasi investasi pasar modal di…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BEI Buka Kantor Perwakilan di Mataram

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka kantor perwakilan di Mataram, Nusa Tenggara Barat untuk memudahkan penyebarluasan informasi dan edukasi mengenai…

Bank Jateng Terbitkan MTN Rp 1 Triliun

Perkuat likuiditas guna mendanai ekspansi bisnis di tahun depan, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah alias Bank Jateng menerbitkan surat…

LPKR Bidik Dana Rights Issue Rp 600 Miliar

Butuh modal untuk mendanai ekspansi bisnis di 2018, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) berencana menerbitkan saham baru (rights issue) pada…