Rupiah Anjlok, Jafpa Naikkan Harga Jual

Kamis, 16/04/2015

Produsen pakan ternak dan perunggasan, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JFVA) berencana untuk menaikan harga jual produknya seiring masih melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), “Sekarang kita mulai naikkan harga secara bertahap seiring dengan kondisi perekonomian dan harga bahan baku yang terkerek naik, “kata Direktur Japfa Comfeed Indonesia, Bambang Budihendarso di Jakarta, kemarin.

Dia mencontohkan, untuk produk pakan ternak, perseroan berencana untuk menaikan harga jual kurang lebih 6%. Namun dalam waktu dekat perseroan hanya akan menaikan setengahnya dahulu,”Kenaikanya bertahap, paling tidak banyak. Kalau makanan ternak misalnya, paling 3%. Tapi harapannya 6% untuk me-replace penguatan dolar AS. Sekarang tetap baru bisa 3% sebagai toleransi terhadap situasi peternakan yang masih susah,"ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, perseroan memotong belanja modal atau capital expenditure (capex) pada 2015 lebih dari 50% dari rencana capex semula yang sebesar Rp 1,6 triliun. Disebutkan, perseroan hanya menganggarkan belanja modal sebesar Rp 760 miliar atau setengahnya dari jumlah capex tahun lalu sebesar Rp 1,56 triliun.

Kata Bambang, capex tahun ini akan dialokasikan untuk pengembangan tiga sektor usaha perseroan, yaitu poultry sekitar Rp 400 miliar, unit usaha breeding Rp 170 miliar, dan feed mil sebesar Rp 190 miliar,”Tahun ini karena over production, makanya kita longgarkan. Kalau tidak, akan banyak pemakaian duit. Ini semua expand,”lanjutnya.

Tahun lalu, Japfa mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 24,5 triliun, dimana produk pakan ternak menempati porsi paling besar yaitu sebesar 50%, disusul sektor peternakan dan produk konsumen sebesar 27%, anak ayam umur sehari atau day old chiken (DOC) sebesar 8%, produk budidaya perairan 6% serta peternakan sapi dan perdagangan lain masing-masing sebesar 8%.

Perseroan juga mencatatkan laba kotor sebesar Rp 3,4 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 385 miliar, atau turun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 641 miliar. Sedangkan jumlah aset perseroan terus mengalami peningkatan dari Rp 14,9 triliun pada 2013 menjadi Rp 15,7 triliun pada 2014. (bani)