Rupiah Anjlok, Jafpa Naikkan Harga Jual

Produsen pakan ternak dan perunggasan, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JFVA) berencana untuk menaikan harga jual produknya seiring masih melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), “Sekarang kita mulai naikkan harga secara bertahap seiring dengan kondisi perekonomian dan harga bahan baku yang terkerek naik, “kata Direktur Japfa Comfeed Indonesia, Bambang Budihendarso di Jakarta, kemarin.

Dia mencontohkan, untuk produk pakan ternak, perseroan berencana untuk menaikan harga jual kurang lebih 6%. Namun dalam waktu dekat perseroan hanya akan menaikan setengahnya dahulu,”Kenaikanya bertahap, paling tidak banyak. Kalau makanan ternak misalnya, paling 3%. Tapi harapannya 6% untuk me-replace penguatan dolar AS. Sekarang tetap baru bisa 3% sebagai toleransi terhadap situasi peternakan yang masih susah,"ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, perseroan memotong belanja modal atau capital expenditure (capex) pada 2015 lebih dari 50% dari rencana capex semula yang sebesar Rp 1,6 triliun. Disebutkan, perseroan hanya menganggarkan belanja modal sebesar Rp 760 miliar atau setengahnya dari jumlah capex tahun lalu sebesar Rp 1,56 triliun.

Kata Bambang, capex tahun ini akan dialokasikan untuk pengembangan tiga sektor usaha perseroan, yaitu poultry sekitar Rp 400 miliar, unit usaha breeding Rp 170 miliar, dan feed mil sebesar Rp 190 miliar,”Tahun ini karena over production, makanya kita longgarkan. Kalau tidak, akan banyak pemakaian duit. Ini semua expand,”lanjutnya.

Tahun lalu, Japfa mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 24,5 triliun, dimana produk pakan ternak menempati porsi paling besar yaitu sebesar 50%, disusul sektor peternakan dan produk konsumen sebesar 27%, anak ayam umur sehari atau day old chiken (DOC) sebesar 8%, produk budidaya perairan 6% serta peternakan sapi dan perdagangan lain masing-masing sebesar 8%.

Perseroan juga mencatatkan laba kotor sebesar Rp 3,4 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 385 miliar, atau turun dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 641 miliar. Sedangkan jumlah aset perseroan terus mengalami peningkatan dari Rp 14,9 triliun pada 2013 menjadi Rp 15,7 triliun pada 2014. (bani)

BERITA TERKAIT

Sentimen Brexit Hambat Penguatan Rupiah

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS sepanjang perdagangan kali…

Strategi Mengantisipasi Penurunan Harga Sawit

Oleh: Subagyo Selama 50 tahun terakhir hampir semua komoditas pertanian mengalami penurunan harga, rata-rata turun satu persen per tahun. Salah…

Lagi, Sandiaga Uno Jual Saham Saratoga

Kesekian kalinya, Sandiaga Uno yang juga calon wakil presiden RI nomor urut dua kembali menjual kepemilikan sahamnya di PT Saratoga…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Saham Renuka Coalindo Masuk UMA

Perdagangan saham PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena mengalami kenaikan harga saham…

Pemda Jateng Tunda Rilis Obligasi Daerah

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak melanjutkan rencana penerbitan obligasi daerah seniai Rp1,2 triliun. Padahal, proses penerbitan obligasi tersebut telah mendapat…

BATA Bagi Dividen Interim Rp 8,71 Persaham

PT Sepatu Bata Tbk (BATA) akan membagikan dividen interim untuk tahu buku 2018 sejumlah Rp 8,71 per saham atau semuanya…