Laju IHSG Bakal Balik Arah Ke Zona Hijau

NERACA

Jakarta – Lagi, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali terkoreksi. Melemahnya indeks BEI seharian mengulang hal yang sama yang terjadi pada perdagangan Senin awal pekan kemarin. Akibatnya minimnya sentiment positif untuk mendorong aksi beli dan sebaliknya banyak investor melalukan aksi jual, membuat indeks BEI terjun bebas.

Mengakhiri perdagangan Selasa sore, indeks BEI ditutup terkoreksi 28,302 poin (0,52%) ke level 5.419,107. Sementara Indeks LQ45 terpangkas 8,300 poin (0,88%) ke level 940,235,”Aksi lepas saham investor asing kembali menjadi salah satu faktor IHSG BEI mengalami tekanan, namun sentimen positif datang dari Bank Indonesia sehingga pelemahannya cenderung terbatas,”kata Analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya di Jakarta, Selasa (14/4).

Dipertahankannya BI rate di level 7,5% dinilai masih mampu untuk mendorong perekonomian domestik dan juga menunjukan inflasi yang masih terjaga. Secara teknikal, lanjut William Surya Wijaya, IHSG BEI yang ditutup belum menembus level psikologis batas bawah di 5.401 poin, maka peluang indeks BEI untuk kembali bergerak menguat untuk jangka menengah dan panjang masih terbuka.

Sementara itu, Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah menambahkan bahwa keawaspadaan pelaku pasar cenderung meningkat menjelang musim laporan kinerja kuartal I tahun ini dan data perekonomian eksternal,”Kekhawatiran atas sejumlah data ekonomi negara utama Asia, ditambah dengan koreksi indeks saham AS pada awal pekan (13/4), menjadi salah satu faktor pemicu tekanan bagi IHSG pada perdagangan saham Selasa,”ungkapnya.

Berikutnya, indeks BEI rawan aksi ambil untung. Namun peluang menguat terbuka merespon dipertahankannya BI Rate. Pada perdagangan kemarin, delapan dari sepuluh indeks sektoral di lantai bursa kena koreksi akibat aksi jual. Hanya sektor perdagangan dan aneka industri yang masih bisa menguat. Dana asing masih mengalir keluar lantai bursa. Transaksi investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 502,691 miliar di seluruh pasar.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 221.584 kali dengan volume 5,222 miliar lembar saham senilai Rp 5,291 triliun. Sebanyak 77 saham naik, 223 turun, dan 81 saham stagnan. Mayoritas bursa-bursa di Asia berakhir di zona hijau menutup perdagangan. Hanya bursa saham Hong Kong dan Indonesia yang masih negatif.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup melemah 24,458 poin (0,45%) ke level 5.422,951. Sementara Indeks LQ45 melemah 7,025 poin (0,74%) ke level 941,51. Sembilan dari 10 indeks sektoral di lantai bursa kena koreksi akibat aksi jual. Hanya sektor perdagangan yang masih bisa menguat.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 117.780 kali dengan volume 2,883 miliar lembar saham senilai Rp 2,674 triliun. Sebanyak 80 saham naik, 196 turun, dan 79 saham stagnan. Bursa-bursa regional masih bergerak mix hingga siang. Pasar saham China dan Singapura bertahan di zona hijau.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Elang Mahkota (EMTK) naik Rp 1.475 ke Rp 10.700, Indo Kordsa (BRAM) naik Rp 1.150 ke Rp 5.775, Solusi Tunas (SUPR) naik Rp 775 ke Rp 10.075, dan Maskapai Reasuransi (MREI) naik Rp 725 ke Rp 3.640. Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.025 ke Rp 51.075, Unilever (UNVR) turun Rp 850 ke Rp 38.925, Mayora (MYOR) turun Rp 775 ke Rp 26.100, dan HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 750 ke Rp 74.000.

Mengawali perdagangan, IHSG dibuka turun 8,88 poin atau 0,16% menjadi 5.438,52, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 melemah 2,25 poin (0,24%) menjadi 946,27,”Pelaku pasar saham terutama asing cenderung masih melanjutkan aksi jualnya sehingga membuat IHSG BEI kembali bergerak dalam area negatif," kata Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada.

Menurut dia, pelaku pasar cenderung mengambil posisi aman menjelang dirilisnya data ekonomi domestik pada pekan ini, yakni tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia dan neraca perdagangan Indonesia,”Diharapkan neraca perdagangan mencatatkan surplus sehingga dapat mengimbangi sentimen yang datang dari eksternal terutama Amerika Serikat terkait dengan kenaikan suku bunga AS (Fed fund rate)," katanya.

Sementara analis Samuel Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi menambahkan, tekanan jual di pasar efek domestik kembali melanda pada saham-saham yang nilainya masih berada pada level premium. Dia menuturkan, fokus pasar saat ini juga tertuju pada laporan kinerja emiten pada periode kuartal I 2015 dan data bulanan kinerja industri termasuk angka produk domestik bruto kuartal I 2015.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka melemah 225,41 poin (0,80%) ke 27.790,93, indeks Bursa Nikkei turun 0,86 poin (0,00%) ke 19.904,60, dan Straits Times menguat 2,79 poin (0,06%) ke posisi 3.487,49. (bani)

BERITA TERKAIT

Proses Pemilu Berlarut - Laju Pasar Obligasi Terancam Terhambat

NERACA Jakarta – Pasar obligasi dalam negeri masih menjadi perburuan investor asing, meskipun tahun ini merupakan tahun politik. nvestor masih…

Satu Pabrik Gula Lagi Bakal Beroperasi di Sumsel

Satu Pabrik Gula Lagi Bakal Beroperasi di Sumsel NERACA Palembang - Satu pabrik gula lagi yakni PT Pratana Nusantara Sakti…

Kompetensi SDM Industri Logam Bakal Diperkokoh

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mengajak pelaku industri di Indonesia terlibat dalam program pendidikan dan pelatihan vokasi. Langkah ini…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Lima Emiten Belum Bayar Listing Fee

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat jumlah emiten yang mengalami gangguan keberlangsungan usaha atau going concern dan berakibat tidak mampu…

Rayakan Imlek - Kobelco Berikan Special Promo Konsumen

NERACA Jakarta - Rayakan Imlek 2570, PT Daya Kobelco Construction Machinery Indonesia (DK CMI),  menggelar  customer gathering dari seluruh Indonesia.…

WSBP Pangkas Utang Jadi Rp 4,7 Triliun

PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) telah menerima pembayaran termin pada Januari 2019 yang digunakan perseroan untuk pelunasan pinjaman perseroan.…