Belum Ada Koreksi Target Pertumbuhan Industri 6,8%

Kemenperin Masih Optimis

Rabu, 15/04/2015

NERACA

Jakarta - Inspektur Jenderal selaku Pelaksana Tugas (Plt) Sekertaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Syarif Hidayat mengatakan hingga saat ini target pertumbuhan industri nasional belum diubah karena rasa optimis dapat mencapainya masih ada. Akan tetapi, koreksi target pertumbuhan itu bisa saja terjadi dengan kondisi perekonomian saat ini, melihat tren perkembangan dunia, nilai tukar rupiah, fluktuasi harga minyak dan hingga kini target industri masih 6,8%.

“Dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2019, manufaktur ditargetkan tumbuh 6,8%. Namun, melihat perkembangan saat ini, target tersebut bisa saja dikoreksi. Tapi kami targetkan pertumbuhan industri bisa di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor-sektor penyumbang pertumbuhan terbesar masih makanan dan minuman (mamin),” kata dia usai membuka acara Open House Perpustakaan Kementerian Perindustrian di Jakarta, Selasa (14/4).

Lebih lanjut Syarif mengatakan pemerintah harus optimistis. Kalau tidak, bisa-bisa sektor usaha kita jadi pesimistis. Saya yakin, tahun depan, investasi akan menjadi penopang pertumbuhan sektor manufaktur dalam negeri. “Yang penting adalah menyediakan energi dengan harga murah,termasuk infrastruktur pendukung lainnya. Karena, investasi itu istilahnya ada guna ada semut,” kata dia.

Syarif menyatakan, pemerintah berambisi menambah populasi industri skala besar sedang di dalam negeri sekitar 9 ribu unit dalam lima tahun mendatang. Jumlah tenaga kerja yang diserap sekitar 3 juta orang .Sebanyak 50% industri baru diarahkan tumbuh di luar Jawa. Selain itu, Kemenperin berencana memacu tumbuhnya industri skala kecil di Tanah Air sekitar 20 ribu unit selama 2015-2019.

Target-target tersebut, kata dia, ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019. Penetapan target tersebut berdasarkan perhitungan logis. “Target itu kami tetapkan untuk dicapai dalam RPJM 2015-2019. Sekarang, populasi industri besar sedang kita sekitar 24 ribu unit. Selama ini, setiap tahun, penambahan sekitar 1.000 unit terealisasi, sehingga itu bukan target tidak realistis,” kata Syarif.

Dia mengatakan, Kemenperin akan mendorong investasi industri baru di berbagai sektor. Dengan target tersebut, kata dia, kontribusi sektor industri terhadap PDB nasional akan melonjak. Be”Investasi terus kita dorong di sektor-sektor penopang pertumbuhan terbesar sektor manufaktur, yakni industri makanan, minuman, dan tembakau, penghiliran berbasis sumber daya alam (SDA) seperti sektor agro dan tambang mineral. Kami juga tetap fokus mendorong investasi dan pertumbuhan industri padat karya, seperti elektronika dan tekstil,” kata Syarif.

Dalam kesempatan yang sama Syarif mengatakan tantangan yang dihadapi kemenperin di era informasi adalah penyediaan informasi terkait sektor industri yang diharapkan dapat mendukung visi dan misi kemenperin demi terciptanya industrialisasi menuju kehidupan yang lebih baik.

“Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan serangkaian inivasi melalui pelayanan perpustakaan berbasis online terintegrasi dari hulu sampai hilir salah satunya melalui integrasi website dan libranet yang makin meningkatkan kehandalan pelayanan. Selain itu memudahkan pustakawan dalam mengelolaan perpustakaan. saat iniperpustakaan kemenperin telah membangun website pengelolaan informasi perpustakaan yang menyajikan katalog buku, resensi artikel serta publikasi terkait sektor industri,” kata Syarif.

Menurut Syarif penyelenggaraan Open House Perpustakaan yang baru pertama kali diadakan menjadi kegiatan yang positif ditengah upaya pemerintah menggalakan program pemasyarakatan dan peningkatan minat membaca melalui koleksi buku, hasil litbang serta referensi baik dalam bentuk cetak maupun digital. Plt Sekjen mendukung penyelenggaraan open house perpustakaan menjadi agenda tahunan dengan melibatkan banyakm pihak, sebagai wahana saling bertukar informasi di kalangan pengelola dan fungsional pustakawan pemerintah.