Sambut BI Rate, IHSG Bergerak Konsolidasi

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin awal pekan, indeks harga saham gabungan (IHSG) seharian berada di zona merah akibat aksi jual investor yang terjadi sejak awal perdagangan. IHSG ditutup terkoreksi 43,93 poin atau 0,80% ke level 5.447,41. Pelemahan bursa dalam negeri bertolak belakang dengan bursa Asia yang mayoritas ditutup menguat.

Indeks Shanghai menguat 87,40 poin atau 2,17% ke 4.121,71; Indeks Straits Times naik 12,52 poin atau 0,36% ke 3.484,90; indeks Hang Seng melonjak 743,95 poin atau 2,73% ke 28.016,34; sedangkan indeks Nikkei 225 negatif 2,17 poin atau 0,01% ke 19.905,46,”Di tengah penantian data ekonomi, pelaku pasar cenderung melakukan aksi lepas sebagian portofolio sahamnya sehingga berdampak pada indeks BEI," kata Analis Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya di Jakarta, Selasa (13/4),

Dia mengemukakan bahwa dari dalam negeri di antaranya tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate), neraca perdagangan Indonesia, sementara eksternal salah satunya pidato sejumlah pejabat AS dalam konferensi Federal Reserve. Secara teknikal, lanjut dia, IHSG sedang menguji level batas bawah di 5.423 poin, hal ini merupakan proses alami sebelum melanjutkan kenaikannya untuk menuju level batas atas terdekat 5.524 poin.

Sementara itu Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo mengatakan bahwa menjelang pengumuman BI Rate, IHSG terlihat bergerak konsolidasi dalam kisaran yang lebar. Secara konsensus BI Rate diperkirakan masih dipertahankan di level 7,5%.

Di sisi lain, lanjut dia, pelaku pasar asing yang kembali mencatatkan jual bersih sebesar Rp74,884 miliar pada awal pekan ini (13/4) menambah sentimen negatif bagi IHSG BEI.

Berikutnya, indeks BEI Selasa diproyeksikan masih akan bergerak menguat, namun tetap diwaspadai aksi ambil untung investor yang akan berlanjut. Pada perdagangan kemarin, nilai transaksi di bursa Indonesia tercatat sebesar Rp5,551 triliun dengan 7,455 miliar saham diperdagangkan dan transaksi jual asing Rp638,58 miliar. Aksi investor asing itu dikarenakan salah satu data ekonomi domestik yakni angka penjualan motor mengalami penurunan.

Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) pada kuartal I 2015, penjualan sepeda motor nasional tercatat melemah 19,1% atau hanya terjual 1.605.043 unit dibandingkan penjualan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 1.984.076 unit. Tercatat 86 saham naik, 234 saham melemah dan 89 saham stagnan. Disebutkan, sektor agri turun 0,58%, tambang turun 1,46%, industri dasar turun 1,7%, konsumsi turun 0,3%, properti turun 0,67%.

Sektor infrastruktur turun 1,05 %, keuangan turun 0,04%, perdagangan turun 2,74%, manufaktur turun 0,93%. Sektor aneka industri naik 0,43%. Adapun saham yang menguat, di antaranya PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG) naik Rp50 menjadi Rp7.175, PT Astra International Tbk (ASII) naik Rp25 menjadi Rp8.175 dan PT Buana Finance Tbk (BBLD) naik Rp95 menjadi Rp1.400. Sementara saham yang melemah, di antaranya PT Gudang Garam Tbk (GGRM) turun Rp1.400 menjadi Rp52.100, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) turun Rp375 menjadi Rp23.750 dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) turun Rp800 menjadi Rp24.200.

Perdagangan sesi pertama, IHSG ditutup melemah 35,89 poin atau 0,65% ke level 5.455,45. Kondisi ini terbalik dengan bursa Asia yang ditutup menguat. Indeks Shanghai menguat 66,96 poin atau 1,66% ke 4.101,27; Indeks Straits Times naik 11,38 poin atau 0,33% ke 3.484,03; indeks Hang Seng melonjak 304,02 poin atau 1,11% ke 27.576,41; dan indeks Nikkei 225 positif 21,77 poin atau 0,11% ke 19.929,40.

Nilai transaksi di bursa Indonesia tercatat sebesar Rp554,69 miliar dengan 1,16 miliar saham diperdagangkan dan transaksi jual asing Rp2,33 miliar. Tercatat 71 saham naik, 183 saham melemah dan 96 saham stagnan. Sektor dengan penurunan paling dalam adalah sektor industri dasar turun 1,39 diikuti sektor perdagangan, turun 1,11%.

Diawal perdagangan, IHSG dibuka melemah sebesar 11,60 poin atau 0,21% menjadi 5.479,73. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan (indeks LQ45) turun 2,94 poin (0,31%) ke level 950,26. Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada mengatakan bahwa sebagian pelaku pasar kembali melanjutkan aksi transaksi lepas saham sehingga memberikan sentimen negatif pada IHSG BEI,”Peluang penguatan tertutupi dengan masih maraknya aksi jual, bahkan nilai tukar rupiah yang stabil belum mampu mengimbangi," ujarnya.

Menurut dia, jika aksi jual terutama oleh investor asing masih berlanjut, maka diperkirakan indeks BEI akan bergerak di area negatif pada awal pekan ini (13/4). Akan tetapi, diharapkan pelemahan masih terbatas agar tidak membuka peluang tren pelemahan ke depannya.

Tercatat bursa regional, di antaranya indeks Hang Seng dibuka menguat 68,95 poin (0,25%) ke 27.341,34, indeks Bursa Nikkei turun 10,88 poin (0,05%) ke 19.896,75, dan Straits Times menguat 13,84 poin (0,41%) ke posisi 3.486,93. (bani)

BERITA TERKAIT

IHSG Masih Tren Melanjutkan Penguatan

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga akhir sesi perdagangan, Rabu (12/12) berbalik melesat naik atau menguat ke…

Laju IHSG Belum Beranjak dari Zona Merah

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan Selasa (11/12), indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih tertahan di…

Sambut Baik Kemudahaan UKM - Japnas Janjikan 4 Anggotanya IPO di 2019

NERACA Jakarta – Dukung industri pasar modal dan mendorong lebih banyak perusahaan tercatat di pasar modal, Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

HRUM Siapkan Rp 236 Miliar Buyback Saham

PT Harum Energy Tbk (HRUM) berencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 133,38 juta saham atau sebesar 4,93%…