Presiden Jokowi Akui Beras Bulog Kualitas Jelek

Selasa, 14/04/2015

NERACA

Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui kualitas beras Bulog yang saat ini beredar di pasar sedang buruk karena merupakan stok lama sejak beberapa bulan lalu. Presiden Jokowi ketika blusukan ke Pasar Modern BSD City di Tangerang Selatan, Banten, menerima keluhan dari pedagang di pasar itu soal kualitas beras Bulog yang jelek meskipun harganya masih standar. “Itu memang stok-stok lama, memang seperti itu, tidak usah ditutupilah,” kata Presiden, Senin (13/4).

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi berjanji akan memperbaruinya dengan melepas stok-stok baru. “Akan diperbaharui dengan stok-stok baru. Bulan ini baru membeli, pakai stok yang baru, dulu kan memang stok lama semua, sampai hitam begitu. Memang faktanya seperti itu. Kita ngerti semua,” katanya.

Pada kesempatan itu, Jokowi mengaku mampir ke Pasar BSD untuk mengecek harga-harga. Ia menemukan fakta harga cabai mengalami kenaikan sedangkan harga beras turun. “(Cabai) naik! Kalau beras turun. Itu tugasnya Mentanlah untuk membangun di sebuah wilayah, untuk tanaman cabai, Menteri Pertanian sudah tahu,” katanya.

Berdasarkan data Dinas Perindag Tangerang Selatan yang diolah oleh Ditjen PDN Kementerian Perdagangan menunjukkan harga kebutuhan pokok di Pasar BSD City pada 12 April 3015 yakni beras Rp11.500 per kg, gula pasir Rp11.000 per kg, minyak goreng curah Rp11.000 per liter, tepung terigu Rp7.500 per kg, kedelai impor Rp11.000 per kg dan daging sapi Rp100.000 per kg.

Selain itu harga daging ayam broiler Rp35.000 per kg, telur ayam ras Rp18.000 per kg, cabai merah keriting Rp30.000 per kg, cabai rawit merah Rp35.000 per kg, bawang merah Rp35.000 per kg dan bawang putih Rp18.000 per kg.

Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Heri Gunawan sempat melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke Gudang Bulog Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Hasilnya pihaknya menemukan beras Bulog yang dinilai kurang bagus. Kondisi yang kurang layak tersebut diketahui setelah dilakukan pengecekan terhadap beras yang baru tiba di gudang Bulog pada Ahad pagi. "Beras ini banyak dedaknya," ujar Heri Gunawan.

Ironisnya, kata dia, beras yang baru datang tersebut kualitasnya jauh lebih jelek dibandingkan dengan beras yang sudah ada di gudang Bulog lebih dahulu. Kondisi ini, terang Heri, jelas mengecewakan masyarakat khususnya yang menerima beras Bulog baik raskin maupun operasi pasar (OP). Sebab, beras yang disalurkan Bulog kurang baik kualitasnya.

Ketua Komisi VI DPR, Achmad Hafisz Tohir mengkritisi Perum Bulog yang menyalurkan beras dengan kualitas di bawah standar yang ditentukan yaitu beras kualitas medium. “Bulog harus memperbaiki kualitas sistem pergudangan dan termasuk sumber daya manusia di daerah. Saya menemukan di daerah, beras raskin umumnya banyak kutu, menir dan pecah-pecah,” katanya.

Menurut Achmad, penyebab beras raskin berkualitas buruk antara lain karena terlalu lama disimpan di Bulog. Selain itu, petugas gudang Bulog juga tidak memiliki pengetahuan yang memadai dalam mengelola stok beras sehingga beras rusak karena kadar air yang tinggi dan pecah-pecah. “Perlu revolusi mental juga bagi petugas gudang Bulog, sehingga kualitas raskin tetap bagus,” ujarnya.

Dalam kesempatan sebelumnya, Direktur Utama Bulog Lenny Sugihat mengatakan buruknya kualitas raskin juga disebabkan berbagai hal. Ia menjelaskan, kualitas raskin sangat tergantung pada produksi. Bibit padi yang berbeda atau tidak seragam dapat menyebabkan kualitas beras menurun demikian juga pada tingkat penggilingan. “Mesin penggilingan sudah tua juga dapat menyebabkan padi yang digiling menjadi pecah-pecah. Di penggilingan yang tidak higienis juga mempengaruhi kualitas beras,” katanya.

Demikian juga ketika memasuki tahap penjemuran, distribusi sangat berpotensi memperburuk kualitas beras. “Kami tentu berusaha mengurangi atau mempertahankan kualitas padi. Indonesia masuk dalam negara tropis yang tingkat kelembabannya tinggi, jadi potensi membuat beras di dalam gudang cepat basah,” ujarnya.

Meski begitu klaim Lenny, Bulog memiliki sistem pergudangan yang bagus untuk menjaga kualitas beras. Untuk menghilangan kutu, digunakan teknologi vacuum dan menghindari penggunaan bahan kimia. “Kutu beras tidak bisa dihindari, tapi diminimalisasi karena beras di gudang Bulog bisa mencapai 3,2 juta ton dalam periode tertentu,” ujarnya.