Minim Dukungan, Penyerapan Karet Lokal Masih Rendah

NERACA

Jakarta - Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia Daud Husni Bastari menyambut baik kebijakan pemerintah yang ingin menyerap karet domestik sebagai bahan baku penolong pembangunan infrastruktur. Namun, dia menekankan agar janji tersebut segera direalisasikan. Ia menyarankan agar pemerintah membangun iklim industri dan perdagangan karet dalam dan luar negeri yang lebih kondusif. "Selama ini, penyerapan karet alam dalam negeri masih terbatas karena kurang didukung kebijakan dan kemauan politik penggunaan produk domestik," keluh Daud di Jakarta, Senin.

Dia mencontohkan pengguna mobil dan motor di Indonesia menembus 1 juta lebih. Tapi hanya sebagian kecil yang menggunakan ban buat dalam negeri. Begitu juga dengan sarung tangan karet, lebih banyak menggunakan buatan Malaysia. Industri tidak bisa bekerja optimal karena minimnya pasokan gas dalam negeri.

Harga karet alam dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan drastis. Bila pada tahun 2011 lalu harga karet dunia mencapai US$ 4,61 per kilogram (Kg), kini harga karet tersungkur menjadi US$ 1,5 per kg. Akibatnya harga karet di tingkat petani jatuh dan kini bertahan di angka Rp 6000 per kg, dari sebelumnya sempat menyentuh Rp 20.000 per kg. memprediksi, ekspor karet tahun 2015 akan mengalami penurunan karena terganggu hujan dan banjir di berbagai pusat produksi karet di tanah air.

Daud Husni mengatakan, selain cuaca buruk, harga karet yang terus merosot juga membuat petani berpaling mencari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup."Kalau dari sudut produksi, memang sekarang gangguan terhadap produksi karet terjadi akibat hujan dan banjir. Jadi tahun ini kami prediksi ekspor karet turun," ujarnya.

Kendati memprediksi turun, Daud masih enggan menerka-nerka berapa persen penurunan ekspor tersebut bila dibandingkan tahun 2014 yang diperkirakan sebanyak 2,5 juta ton. Padahal ekspor tahun 2014 ini turun sekitar 8% hingga 10% dari tahun 2013 yang sebesar 2,7 juta ton. Penurunan produksi ini juga disebabkan terus melemahnya harga karet di tingkat petani yang saat ini berada di kisaran Rp 5.000 hingga Rp 6.5000 per kg.

Sementara itu, Kontrak karet teraktif di bursa Tokyo diperdagangkan pada rekor harga tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. Kontrak karet Juli 2015 di bursa komoditas Tokyo (TOCOM) pada langsung melesat naik 2,26% pada pembukaan perdagangan pagi ke angka 217,20 yen atau Rp 23.218 per kilogram.

Sedangkan kontrak karet Juni 2015 (JNM5) di bursa Tokyo juga mencetak rekor di angka 218,40 yen atau Rp21.297 per kilogram pada pembukaan perdagangan pagi dan harga karet Juli 2015 kemudian bergerak ke 215,10 yen atau Rp 22.984 per kg.

Terkait kenaikan harga di bursa Tokyo ini, Daud menilai kenaikan itu bisa saja akibat ulah spekulan. Namun bisa juga kenaikan harga karet itu karena produksi karet di negara pengekspor berkurang akibat cuaca buruk seperti di Indonesia. Namun ia menilai secara umum, kenaikan itu belum fundamental. Sehingga ia pesimistis kenaikan harga karet di bursa ini bisa mengerek kenaikan harga karet di tingkat petani di Indonesia.

Direktur Eksekutif Gapkindo Rusdan Dalimunthe mengatakan 2015 kita proyeksikan produksi karet 3,2 juta ton jadi pertumbuhannya 1,75%. Ini proyeksi produksi peningkatan produksi sekitar 1,75%," katanya.

Rusdan mengatakan di tahun 2014 produksi karet Indonesia mencapai 3,15 juta ton. Pertumbuhan produksi karet 2015 yang tidak terlalu besar untuk menekan risiko semakin merosotnya harga karet dunia.

Indonesia beserta Malaysia dan Thailand yang tergabung di ITRC atau International Trpartite Rubber Council sepakat untuk memangkas produksi karet. Rusdan mengungkapkan anjloknya harga karet dunia karena kelebihan suplai. Karet saat ini tidak hanya diproduksi leh 3 negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand tetapi juga Vietnam, Laos dan Kamboja."Harga US$ 1,5 di Januari per kilogram. Harga terus merosot karena kelebihan suplai," imbuhnya.

Rusdan memiliki 3 skenario ekspor karet yaitu 80%, 82% dan 75%, maksudnya kenario yang dimaksud yaitu bila mengekspor 82% dari 3,2 juta ton yaitu 2,8 juta ton sisanya diserap di dalam negeri, begitu seterusnya. Menurutnya produsen tak hanya berorietasi ekspor tetapi juga melihat potensi permintaan karet domestik seperti industri ban."Kita juga dukung industri dalam negeri," katanya.

Keadaan perkaretan dunia saat ini mengalami tekanan yang cukup berat, karena besarnya stok karet di tangan industri yang mencapai lebih dari 2,4 juta ton. Sehingga harga karet menjadi tertekan mencapai sekitar US$ 1,6/kg. Keadaan ini terus berlanjut di bulan November menjadi sekitar US$ 1,54/kg, padahal pada 2011 harganya masih US$ 4/kg.

Jauh sebelumnya, Ketua Dewan Karet Indonesia, Aziz Pane mengatakan pemerintah hingga saat ini dinilai masih abai dalam membangun industri hilir karet. Indonesia merupakan negara penghasil karet alam terbesar kedua setelah Thailand. Sayangnya, sekitar 85% produksi karet dalam negeri masih diekspor dalam bentuk karet mentah dan sisanya untuk konsumsi dalam negeri.

Akibatnya, petani karet memiliki pendapatan yang kecil. Sebagai ilustrasi, harga karet dunia saat ini berada pada kisaran USS2,5- 3 per kilogram, namun, harga jual di tingkat petani di Kalimantan Selatan hanya berkisar Rp7 ribu Rp8 ribu per kg.

Related posts