Kisah Sukses Berbisnis

Oleh: Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Dosen PTN

Selasa, 14/04/2015

Mungkin saja kisah sukses berbisnis berikut ini, bagi orang-orang tertentu, disebut sederhana, oleh karena skalanya memang tidak terlalu besar. Akan tetapi, di tengah-tengah orang pada umumnya mengalami kesulitan dalam mengawali kegiatan berwirausaha, kiranya sekalipun sederhana, pengalaman berikut menjadi penting untuk dikemukakan.

Siapapun yang lulus dari perguruan tinggi, selalu dihadapkan pada kenyataan harus mulai bekerja. Demikian pula halnya yang dirasakan oleh seseorang yang kebetulan akan disampaikan daam kisah berikut ini. Dalam hal mendapatkan pekerjaan, orang yang baru lulus perguruan tinggi dihadapkan pada beberapa pilihan sekalipun semua itu tidak selalu mudah diraih. Di antaranya misalnya, menjadi pegawai negeri atau PNS. Kedua, adalah berwirausaha.

Bagi pelaku kisah berikut ini, keinginan untuk menjadi pegawai negeri, selain kesempatan itu tidak selalu terbuka, juga dianggapnya tidak akan memenuhi cita-citanya yang dimiliki sejak lama. Sudah sejak lama dia bercita-cita ingin menjadi orang kaya. Sedangkan selama ini, ia melihat banyak PNS, terutama golongan rendah, jangankan menjadi kaya, sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tidak mudah. Oleh karena itu, status itu sebenartnya bukan menjadi prioritas.

Sementara itu, pilihan yang kedua, yakni berwirausaha, ia juga telah lama menyadari tidak memiliki pengalaman dan apalagi modal yang diperlukan. Tanpa pengalaman dan modal, usaha apapun, tidak akan bisa dijalankan. Kekurangan lain yang dimiliki, sekalipun sudah lulus perguruan tinggi, juga dirasakan masih belum memiliki ketrampilan, kecuali sedikit pengalaman bekerja sebagai tukang sablon.

Di tengah-tengah usaha mencari peluang kerja, sekalipun pekerjaan yang dimaksudkan itu adalah sederhana, yaitu sekedar agar tidak disebut sebagai pengangguran, sarjana yang mampu berbahasa Arab itu, memahami bahwa berbisnis apa saja sebenarnya yang terpenting adalah adanya pasar yang akan dipenuhi kebutuhannya. Sekedar mencari dan bahkan membuat barang yang dibutuhkan pasar selalu mudah. Berangkat dari keyakinan itu, ia berimajinasi atau memikirkan tentang pasar yang kiranya bisa dipenuhi dari kemampuannya.

Orang yang sedang membutuhkan pekerjaan ini berpikir bahwa jasa ketrampilan menyablon adalah pasti dibutuhkan oleh sekolah, madrasah atau pesantren. Lembaga pendidikan selalu membutuhkan kaos olah raga, pakaian seragam, dan juga alat-alat tulis lainnya. Sementara itu, di daerahnya sendiri, terdapat banyak sekali lembaga pendidikan dimaksud. Persoalannya adalah, bagaimana mengenalkan kemampuan dirinya kepada pasar dimasksud. Maka, langkah yang dilakukan adalah mendatangi beberapa lembaga pendidikan yang sedang mengadakan kegiatan wisuda atau pembagian raport pada akhir tahun.

Pada kesempatan tersebut, dia menyatakan kesanggupannya memberikan beasiswa kepada siswa yang meraih ranking tertinggi dengan cara menanggung SPP nya. Bagi sekolah atau madrasah dimasud, sekalipun besarnya uang SPP yang akan dibayarkan sebagai beasiswa tersebut amat kecil, namun tarawaran itu merupakan berita besar. Penyedia jasa sablon itu akhirnya menjadi dikenal masyarat, dan sebagai buahnya, tatkala lembaga pendidikan di wilayah itu membutuhkan jasa sablon dan juga kebutuhan alat tulis, dialah yang diminta untuk melayani.

Ternyata kalkulasi yang dilakukan benar, bahwa usaha apa saja, yang terpenting adalah keberadaan pasar yang dilayani. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, usaha yang dijalankan oleh lulusan perguruan tinggi dimaksud berkembang cepat. Bahkan belasan orang tenaga kierja harus direkrut untuk membantu usahanya. Oleh karena ia mampu membaca kitab berbahasa arab, maka tenaga kerja yang direkrut diperlakukan sebagai santrinya. Di luar jam kerja, mereka diajak mengaji. Hubungan guru murid ini, ternyata juga sangat menguntungkan usahanya. Para santri, apalagi mereka yang belajar agama, selalu menjaga kejujuran, agar ilmunya membawa berkah.

Pengalaman tersebut secara nyata memberikan pelajaran berharga, bahwa berbekalkan keberanian, kemampuannya membaca pasar, menggali potensi dan mengelolanya secara tepat, maka usaha yang pada awalnya amat sederhana, ternyata membawa hasil. Usaha yang dirintisnya sendiri oleh lulusan perguruan tinggi yang sebenarnya miskin pengalaman itu oleh karena ditangani secara sungguh-sungguh, ulet, dan istiqomah, ternyata sukses. Sukses yang dimaksudkan di sini sebenarnya juga sederhana, ialah cukup dalam memenuhi kebutuhan ekonomi. Namun demikian, keberhasilan di bidang itu pada akhir-akhir ini justru oleh banyak orang dijadikan sebagai variabel penting. Wallahu a'lam. (uin-malang.ac.ud)