Dibalik Sukses KAA ke-60

Oleh : Herni Susanti, Pemerhati Masalah Bangsa

Selasa, 14/04/2015

Ditunjuknya Indonesia menjadi tuan rumah dalam peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA), tentu saja menjadi momen berharga bagi Indonesia untuk kembali memberikan kontribusi bagi perdamaian dunia. Momen bersejarah Konferensi Asia Afrika menginjak usia ke-60 pada tahun 2015. Peringatan konferensi yang sangat berpengaruh terhadap perdamaian dunia tersebut akan berlangsung 19 s.d. 24 April di Bandung dan Jakarta. Moment penting sejarah 60 tahun yang lalu, akan terulang kembali oleh Bangsa Indonesia, dimana Indonesia akan menjadi tuan rumah peringatan Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika (KAA) ke-60.

Acara peringatan 60 Tahun KAA 2015, bertema Penguatan Kerja Sama Negara Selatan-Selatan, yang akan dihadiri 106 wakil negara dan 19 organisasi internasional serta diliput oleh sekitar 1.300 wartawan dalam dan luar negeri. Tema yang akan Indonesia jual dalam peringatan 60 tahun KAA adalah perkuatan, straigthening, kerjasama selatan-selatan. Selain memperingati 60 tahun Konferensi Asia Afrika, dalam perhelatan ini juga akan diperingati 10 tahun kerja sama strategis negara-negara Asia dan Afrika, New Asia-Africa Partnership Strategic (NAPS). Oleh sebab itu, Indonesia harus mempersiapkan peringatan KTT Asia Afrika dengan baik. Mulai dari akomodasi, logistik, pengamanan protokol, dan juga dari segi petugas kesehatan.

Konferensi Perdamaian Dunia

Konferensi Asia Afrika diadakan usai Perang Dunia II, ketika kondisi keamanan dunia belum stabil dan terjadinya Perang Dingin antara Amerika Serikat (pemimpin Blok Barat) dan Rusia (pemimpin Blok Timur). Kedua kekuatan besar yang saling berlawanan dan mencari dukungan dari negara-negara di Asia Afrika tersebut juga saat itu terus mengembangkan senjata pemusnah massal sehingga situasi dunia selalu diliputi kecemasan terjadinya perang nuklir.

Dari sinilah negara-negara yang baru merdeka menggalang persatuan mencari jalan keluar demi meredakan ketegangan dunia. Pemerintah Indonesia, melalui saluran diplomatik melakukan pendekatan kepada 18 Negara Asia Afrika untuk mengetahui sejauh mana pendapat negara-negara tersebut terhadap ide pelaksanaan Konferensi Asia Afrika demi meredakan ketegangan dunia. Ternyata umumnya mereka menyambut baik dan menyetujui Indonesia sebagai tuan rumah konferensi. Demi menggagas konferensi, pada 28 - 29 Desember 1954, atas undangan Perdana Menteri Indonesia, para perdana menteri peserta Konferensi Kolombo (Indonesia, India, Pakistan, Birma, Ceylon) mengadakan pertemuan di Bogor pada 28-31 Desember 1954 untuk membicarakan persiapan Konferensi Asia Afrika.

Pertemuan di Bogor berhasil merumuskan kesepakatan tentang agenda, tujuan, dan negara-negara yang diundang pada Konferensi Asia Afrika, termasuk persiapan penyelenggaraan KAA. 5 Perdana Menteri (PM) yang hadir dalam pertemuan di Bogor yakni PM. Ali Sastroamijoyo (Indonesia), PM. Jawaharal Nehru (India), PM Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), PM Sir John Kotelawa (Srilanka), dan PM U.Nu (Myanmar). Kelima tokoh itulah yang kemudian dikenal sebagai Pelopor Konferensi Asia Afrika dengan hasil kesepakatan yang kemudian dikenal sebagai Konferensi “Panca Negara” dan Indonesia dipilih menjadi tuan rumah konferensi tersebut dimana Presiden Soekarno sebagai pemimpin pertemuan menunjuk Kota Bandung sebagai tempat berlangsungnya konferensi.

Selain itu, Indonesia dan negara lainnya seperti Myanmar, Srilanka, India, dan Pakistan menjadi inisiatornya untuk mempromosikan kerja sama ekonomi dan Asia-Afrika, sehingga gerakan ini juga dianggap sebagai sikap melawan kolonialisme Amerika Serikat dan Uni Soviet serta negara imperialis lainnya.

Keberhasilan KAA 1955

Keberhasilan bangsa Indonesia menjadi tuan rumah pada KAA 1955 di Bandung yang berhasil meraih kesuksesan baik dalam merumuskan masalah umum, menyiapkan pedoman operasional kerjasama antarnegara Asia-Afrika, serta menciptakan ketertiban dan perdamaian dunia. Hasil dari pertemuan tersebut kemudian dikenal sebagai "10 Dasa Sila Bandung" dimana di dalamnya memuat cerminan penghargaan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan semua bangsa, dan perdamaian dunia.

Setelah kesepakatan dari KAA di Bandung disusun, satu per satu negara di Asia dan Afrika memperjuangkan serta memperoleh kemerdekaannya. Hal ini jugalah yang memupuskan niatan kubu Blok Barat seperti Inggris, Belanda, Perancis dan Spanyol untuk meneruskan penjajahan dalam bentuk neokolonialisme. Selain itu, KAA 1955 tersebut juga melahirkan (discussion board) yang menjadi cikal bakal terbentuknya Gerakan Non-Blok pada 1961.

Harapan Bangsa Indonesia

Meskipun kini sebagian besar negara peserta Konferensi Asia Afrika sudah merdeka dari jajahan kolonialisme, namun masih banyak yang belum terlepas dari kemiskinan, inilah alasan diadakannya kembali KAA di Jakarta dan Bandung pada April 2015 mendatang. Untuk itu, bangsa Indonesia menginginkan agar kerjasama selatan-selatan ini juga memberikan kontribusi terhadap upaya untuk mempromosikan perdamaian dan kesejahteraan dunia.

Pemerintah Indonesia melalui dukungan negara-negara lainnya akan berusaha mendorong dan memajukan kerja sama selatan-selatan, yang memberikan hasil konkret dan kontribusi nyata untuk kesejahteraan negara di Asia Afrika dan juga akan merevitalisasi kemitraan strategis lainnya. Seperti diketahui, 75% penduduk dunia ada di Asia-Afrika dan GDP di Asia-Afrika juga mencapai US$21 triliun. Sebanyak 1 miliar warganya berasal dari kelas menengah, berarti ada peluang pasar yang besar. Selain masalah ekonomi, KAA juga akan mengangkat sejumlah topik, seperti solidaritas dalam politik, pembangunan, dan hubungan sosial budaya antar-negara Asia dan Afrika.

Selain itu, konferensi ini masih sangat relevan untuk dilaksanakan, jika dulu tujuan KAA pertama seluruh negara berkumpul untuk merdeka, sekarang semua juga bekerja sama untuk mengupayakan memerdekakan negara Asia- Afrika dari kemiskinan. Untuk itu, aalah satu agenda utama KAA di Indonesia, yang akan dihadiri oleh 109 pemimpin negara adalah mengenai kemajuan ekonomi.

Dukungan Masyarakat Indonesia

Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Indonesia rencananya akan berlangsung di Bandung dan Jakarta pada April 2015. Momen yang sempurna bagi dunia untuk mengingat bahwa Indonesia telah memainkan sejarah penting dalam sejarah dunia. Berharap bahwa peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) dapat menghidupkan suasana persahabatan antar bangsa dan perdamaian dunia.

Dalam peringatan KAA ke-60 tersebut, bangsa Indonesia, khususnya masyarakat, pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, organisasi pemuda, organisasi masyarakat, pelajar dan elemen masyarakat menyambut antusia acara tersebut dan merasa terhormat menjadi tuan rumah KAA tersebut. Untuk itu, segenap masyarakat Indonesia siap mendukung penuh acara tersebut, seperti saat ini mengadakan kegiatan gerakan bersih Kota Bandung dan Jakarta, festival pagelaran musik, seni dan kebudayaan tersebut serta yang utama mendukung aparat keamanan dalam mengamankan serta mensukseskan acara tersebut. Sementara itu, rangkaian kegiatan yang direncanakan meliputi pertemuan internal antarwakil negara pada 19-23 April 2015 di Jakarta, dimulai pertemuan tingkat pejabat tinggi, diteruskan dengan pertemuan tingkat menteri, dan diakhiri dengan pertemuan tingkat kepala negara/pemerintahannya.

Sedangkan, acara puncak peringatan akan berlokasi di Gedung Merdeka, Kota Bandung yang sekarang disebut sebagai Gedung Asia Afrika. Gedung tersebut adalah lokasi dimana Konferensi Asia Afrika dulu dilaksanakan pada 1955. Selain itu, ada beberapa acara besar lainnya yang akan digelar di Bandung seperti Asia Afrika Carnival dan Asia Afrika Forum Bisnis. Dukungan juga ditujukkan Walikota Bandung yang berencana akan memberlakukan hari libur pada 24 April 2015 sehingga warga Bandung dapat bergabung dalam perayaan tersebut.

“KAA ke-60 adalah sebuah momentum yang sangat baik bagi Indonesia untuk kembali mengingatkan kepada dunia bahwa Indonesia mempunyai peran yang sangat besar pada saat itu dan bangsa Indonesia ingin memori dan ingatan itu terangkat kembali" ***