Merger Bank BUMN Syariah Tidak Tepat

NERACA

Jakarta - Penggabungan atau merger empat bank syariah pelat merah, PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Negara Indonesia Syariah, PT Bank Rakyat Indonesia Syariah dan PT Bank Tabungan Negara Syariah, oleh Kementerian BUMN mendapat kritikan dari Direktur Utama Karim Consulting Group, Adiwarman Karim.

Menurut dia, merger dari keempat bank BUMN syariah tersebut tidak boleh dilakukan dengan gegabah, dan perlu kajian mendalam, cermat dan akurat. Dalam kajiannya disebutkan apabila merger empat bank syariah dipaksa dilakukan maka hasilnya lebih banyak merugikan ketimbang manfaat lantaran total asetnya hanya Rp110 triliun.

Selain itu, kata Adiwarman, setiap merger perbankan maka akan ada masa konsolidasi selama tiga tahun. Karena aset mereka akan mengerucut lantaran tidak melakukan ekspansi dan menyebabkan kerugian. Belum lagi resistensi internal dan rasa kepemilikan induk yang hilang akibat merger tersebut.

Tak hanya itu. Masalah lain yang dihadapi adalah terjadi penumpukkan posisi direksi. Hal tersebut karena bila dihitung secara rata-rata di mana satu bank BUMN syariah saja memiliki empat direksi, maka dengan adanya penggabungan keempat bank BUMN syariah jumlah direksinya membengkak menjadi 16 direksi.

“Tidak mungkin satu konsorsium bank BUMN syariah memiliki 16 direksi. Merger ini saya rasa belum tepat dilakukan. Karena terlalu banyak faktor,” kata Adiwarman di Kantor Pusat BNI Syariah, di Jakarta, Jumat (10/4) pekan lalu.

Namun begitu, dirinya mengatakan merger bisa dilakukan asalkan memenuhi persyaratan. Yaitu, masing-masing induk usaha harus membesarkan dahulu bank syariah. Sementara Otoritas Jasa Keuangan diminta mengeluarkan aturan setiap induk BUMN di sektor jasa keuangan harus membesarkan anak usaha syariahnya sampai total asetnya mencapai 20% dari induk mereka.

Tahap ini, lanjut Adiwarman, direkomendasikan berjalan antara periode 2015 - 2018. Menurut dia, saat empat bank syariah BUMN sudah besar dengan masing-masing aset mencapai 20% dari induknya, otomatis total asetnya akan lebih besar dari Rp110 triliun. “Dengan demikian, barulah mereka bisa melakukan merger,” pungkasnya. [ardi]

BERITA TERKAIT

Laba BNI Syariah Tumbuh 35,67%

    NERACA   Jakarta - PT Bank BNI Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp416,08 miliar, naik 35,67 persen dibandingkan…

Gaet Pasar Milenial - BTN Syariah Luncurkan Produk KPR Hits

NERACA Jakarta - Menyambut hari ulang tahun unit usaha syariah Bank BTN ke 14 yang jatuh 14 Februari 2019, anak…

Peneliti:Kasus Beras Busuk Karena Distribusi Tidak Baik

NERACA Jakarta - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menilai kasus 6.000 ton beras busuk di…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Fintech Ilegal Berasal dari China, Rusia dan Korsel

  NERACA   Jakarta - Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menemukan fakta bahwa mayoritas perusahaan layanan finansial berbasis…

Laba BNI Syariah Tumbuh 35,67%

    NERACA   Jakarta - PT Bank BNI Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp416,08 miliar, naik 35,67 persen dibandingkan…

Pemerintah Terbitkan Sukuk US$ 2 miliar

      NERACA   Jakarta - Pemerintah menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk wakalah global senilai dua…