Prospek Ekonomi 2015

Senin, 13/04/2015

Perekonomian Indonesia pada tahun ini akan diwarnai perubahan yang cukup signifikan. Pasalnya, akan terjadi turbulensi ekonomi global yang sulit diprediksi sebelumnya. Pasalnya, lembaga keuangan internasional IMF maupun Bank Indonesia sudah memberikan sinyal pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 hanya sekitar 5%-5,2%. Angka terendah dalam 10 tahun terakhir ini.

Kondisi perlambatan ekonomi ini sebenarnya sudah terasa sejak 2012 dimana ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, dan membengkaknya defisit neraca perdagangan Indonesia dan defisit transaksi berjalan (current account), sehingga merupakan akumulasi pelemahan ekonomi pada tahun ini.

Tidak hanya itu. Tingkat pertumbuhan investasi pada tahun 2009 hanya 3,3%, jauh di bawah laju pertumbuhan pada tahun 2008 yang mencapai 11,96%. Perkiraan melambatnya laju investasi terus berlanjut hingga tahun ini, kecuali investasi portofolio yang berasal dari hot money yang terus meningkat di negeri ini, termasuk kepemilikan surat utang negara (SUN) oleh investor asing cukup signifikan saat ini. Sedangkan kalangan investor sektor riil diperkirakan memilih wait and see.

Kalangan PMA biasanya memiliki horizonnya jangka panjang. Investor lebih melihat populasi Indonesia serta jumlah kelas menengah yang terus tumbuh. Karena itu, investasi tetap akan masuk selagi prospek itu terjaga. Namun, itu bukan isu terbesar. Kekhawatiran terbesar investor umumnya lebih pada kemampuan Indonesia untuk melakukan reformasi struktural, di antaranya di bidang ketenagakerjaan, korupsi, birokrasi, sumber daya manusia (SDM) serta infrastruktur.

Dengan jumlah penduduk mencapai 240 juta serta kelas menengah sekitar 45 juta, Indonesia tetap menjadi pasar menarik bagi investor. Namun, modal pasar besar saja tidak cukup. Reformasi struktural di bidang infrastruktur dan ketenagakerjaan menjadi hal yang mendesak dilakukan untuk menggenjot investasi ke level lebih tinggi. Minimnya infrastruktur sudah sejak lama dikeluhkan banyak pihak.

Namun, pembangunan infrastruktur seolah masih terbatas pada tingginya minat investor. Sementara persoalan lamanya pembebasan lahan, tarik ulur aturan pemerintah daerah dan pusat serta birokrasi yang tidak mendukung membuat banyak proyek terbengkalai. Di bidang ketenagakerjaan, perbaikan kualitas juga harus segera dilakukan untuk mengejar ketertinggalan dengan negara ASEAN lainnya. Berdasarkan data daya saing World Economic Forum (WEF) 2013- 2014, peringkat infrastruktur Indonesia hanya berada di peringkat 61 dari 148 negara sementara efisiensi tenaga kerja hanya berada di level 103.

Terlepas dari menumpuknya pekerjaan rumah (PR) yang ada, pemerintah sebenarnya sudah melakukan sejumlah terobosan . Di antaranya dengan memberlakukan hilirisasi industri pertambangan, pemberian insentif serta rencana untuk merevisi daftar negatif investasi (DNI). Percepatan investasi juga dilakukan melalui penyederhanaan perizinan dengan mengefektifkan fungsi pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) dan menyederhanakan jenis-jenis perizinan investasi.

Upaya lainnya adalah dengan penyederhanaan perizinan di bidang investasi hulu migas dari 69 jenis perizinan menjadi delapan perizinan, serta debottlenecking penyelesaian masalah proyek-proyek investasi strategis yang menjadi proyek pembangkit tenaga listrik, migas pertambangan mineral, dan infrastruktur.

Sukses atau tidaknya terobosan itu mendongkrak investasi tahun ini masih menjadi pertanyaan bersama. Kendati demikian, optimisme tersebut patut didukung. Sebab, jika investasi gagal digenjot, sulit berharap pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa melesat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, dengan rata-rata pertumbuhan investasi dalam lima tahun terakhir mencapai 8,42%, kontribusinya terhadap total pertumbuhan mencapai 31,2%. Jadi, kontribusi investasi riil harusnya mampu meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi mendatang. Semoga!