Mungkinkah PDB Indonesia Masuk 20 Besar pada 2030?

Senin, 13/04/2015

Jakarta – Hasil penelitian Departemen Pertanian AS mengungkapkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada 2030 dapat mencapai US$2,1 triliun yang sekaligus menempati posisi 13 dari 20 negara besar di dunia. Sedangkan Australian diprediksi satu peringkat di bawah Indonesia dengan angka PDB US$ 1,9 triliun.

Seperti dikutip dari laman Bloomberg baru-baru ini, proyeksi 15 tahun ke depan itu berasal datang dari tim riset Departemen Pertanian AS. Menurut lembaga tersebut, Amerika Serikat masih menjadi yang terbesar dengan PDB mencapai US$24,8 triliun. Sedangkan tiga negara urutan di bawah AS ditempati oleh Tiongkok (PDB US$22,2 triliun), India (US$6,6 triliun) dan Jepang mencapai US$6,4 triliun.

Untuk tahun ini, menurut data departemen pertanian itu, PDB AS akan menggapai US$16,8 triliun. Sebelumnya pada 2006 negara Paman Sam itu memiliki 25% dari PDB dunia. Sepanjang tahun ini, dari total PDB dunia, AS baru menggondol 23%-nya. "Ini merupakan penurunan," menurut pernyataan departemen itu.

Dijelaskan, pada 15 tahun ke depan PDB Tiongkok dapat meraih dua kali pencapaian tahun ini. Lantaran itu, Tiongkok sekarang disebut-sebut menjadi kekuatan dari Asia untuk menyaingi AS.

Sedangkan India, tahun ini berada di posisi ke-8. Pada 15 tahun kemudian, India diprediksi melampaui Brasil, Inggris, Prancis, Jerman, dan Jepang, untuk berada satu level di bawah Tiongkok atau di posisi ketiga.

Untuk peringkat paling buncit pada 15 tahun ke depan, menurut data tersebut, adalah Belanda dengan PDB US$1,0 triliun. Kemudian tujuh negara lainnya di bawah Indonesia dalam perolehan PDB pada 2030, adalah Australia, Korea Selatan (US$1,9 triliun), Spanyol (US$1,8 triliun), Turki (US$1,6 triliun), Arab Saudi (US$1,3 triliun), Nigeria (US$1,0 triliun).

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, hingga akhir 2014 PDB Indonesia mencapai angka Rp 10.542,7 triliun dengan pendapatan per kapita tercatat Rp 41,8 juta per orang per tahun. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada akhir 2015 dipatok tumbuh 5 %, lebih rendah dibandingkan 2014 yang berada di level 5,02%.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5,02% itu terkesan dan melambat selama lima tahun terakhir. Adapun alasannya menurut Kepala BPS Suryamin, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5,02% terjadi penurunan pada seluruh komponen, kecuali komponen Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT).

Menurut dia, penurunan paling tajam terjadi pada komponen konsumsi pemerintah. Konsumsi pemerintah 2014 hanya tumbuh 1,98% dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 9,54%. “Terjadi penurunan drastis, tahun lalu konsumsi pemerintah tumbuh 6,93%. Sekarang hanya tumbuh 1,98%, ujarnya kepada pers beberapa waktu lalu.

Suryamin mengatakan, turunnya konsumsi pemerintah yang drastis tersebut disebabkan penyerapan anggaran yang rendah. Di sisi lain, sebagian besar digunakan untuk membayar bunga utang, di mana tidak tercatat dalam PDB. “Di samping itu ada penghematan, jelang pertengahan tahun. Kemudian terjadi pengurangan perjalanan dinas, rapat-rapat dan lainnya. Tapisharedalam PDB 9,54%, hanya pertumbuhannya turun cukup drastis,” ujarnya.

Selain dari komponen konsumsi pemerintah, perlambatan ekonomi 2014 dipicu melambatnya Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB) alias investasi, yang tumbuh hanya 4,12%. Pertumbuhan investasi pada 2013 tercatat 5,28%. Meski terjadi sedikit perlambatan, angka ini dinilai cukup baik karena pada 2014 lalu ada pembangunan prasarana fisik, seperti di transportasi dan konstruksi di sejumlah wilayah NKRI.

Lambannya laju pertumbuhan ekonomi ini juga mulai terasa di kalangan perbankan. Dirut Bank BCA (Tbk) Jahja Setiaatmadja mengakui kondisi ekonomi Indonesia yang lesu pada kuartal I-2015 berdampak kepada sektor perbankan.

"Kuartal I-2015 ini lemah (pertumbuhan sektor perbankan), saya kira semua perbankan begitu... saya tidak tahu setiap saya keliling ketemu nasabah, bisnis (mereka) lesu. Bahkan sektor pendukung properti seperti kaca, gelas itudrop30 persen," ujarnya di Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, banyak nasabahnya yang kaget karena penjualan bisnisnya menjadi menurun. Jahja pun tak tahu persis apa yang terjadi terhadap sektor rill tersebut. "Padahal kan UMR saja naik, apakah APBN dan APBD belum cair sehingga tidak ada dorongan itu (ekonomi), tapi kenyataan di lapangan pinjaman kredit atau industri semua nya turun," ujarnya. fba.