Gejala Krisis Perlu Diwaspadai - DATA PERTUMBUHAN EKONOMI DAN MONETER TRIWULAN I-2015

Jakarta – Kalangan ekonom menilai gejala krisis sekarang mulai menerpa Indonesia di tengah kelesuan ekonomi nasional yang denyutnya sudah terasa di masyarakat ekonomi menengah ke bawah, seiring pemaparan data makro ekonomi moneter yang mengindikasikan kondisi tersebut. Bahkan ada diantara ekonom mengingatkan gejala ini mirip dengan krisis yang pernah terjadi pada 1998. Waspadalah!

NERACA

Apabila menyimak data Bank Indonesia yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2015 hanya berada pada kisaran 5%, karena dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global yang masih mengalami kelesuan, pertanda bukti indikasi krisis tersebut betul-betul mulai terlihat. Karena angka pertumbuhan ekonomi Indonesia itu yang terendah dalam 10 tahun terakhir ini.

BI juga mengungkapkan jumlah cadangan devisa menurun dari US$115,5 miliar (Februari) menjadi US$111,6 miliar (Maret) atau menurun US$3,9 miliar atau setara Rp 50 triliun lebih dalam waktu sebulan, akibat terkuras untuk stabilisasi rupiah dan membayar utang luar negeri. Ini menunjukkan depresiasi rupiah terhadap dolar AS cukup dalam hingga Rp 13.000 di tengah tingginya total utang Indonesia yang mencapai Rp 2.700 triliun lebih.

Fakta lain adalah, hasil studi lembaga internasional International Monetary Finance (IMF) yang terbaru mengungkapkan, potensi pertumbuhan negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) diperkirakan menurun dari rata-rata 6,5% selama 2008-2014 menjadi 5,2% pada 2015-2020. Ini karena populasi menua, investasi lemah, dan pertumbuhan produktivitas rendah akibat kesenjangan teknologi antara negara-negara ini dengan negara maju menyempit.

Menurut pengamat ekonomi Universitas Atmajaya A. Prasetyantoko, kinerja perekonomian Indonesia memang cukup memprihatinkan. Karena pada triwulan I-2015, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 5%. "Ini menggambarkan bahwa kondisi krisis di Indonesia masih terasa di tengah target pertumbuhan yang dipatok oleh pemerintah sebesar 5,7%," ujarnya kepada Neraca, akhir pekan lalu.

Prasetyantoko juga mengatakan target pertumbuhan yang tinggi akan sulit dicapai jika reformasi struktural tidak dilakukan, kemudian perpindahan dari produksi komoditas ke manufaktur, dan meningkatkan penghematan, sehingga kemampuan membiayai ekspansi ekonomi bisa lebih tinggi. "Selain itu, perlu adanya tambahan sebanyak 4 juta tenaga kerja ahli untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan oleh pemerintah," ujarnya.

Menurut dia, kondisi perekonomian Indonesia saat ini mirip dengan situasi ekonomi 1998 dilihat dari dua indikator, yaitu pelemahan nilai tukar rupiah dan pertumbuhan ekonomi. "Saya katakan kondisi perekonomian saat ini mirip dengan pada saat awal krisis moneter tahun 1998. Karena dari dua indikator yaitu kondisi nilai tukar rupiah dan angka pertumbuhan memiliki gejala yang sama dengan tahun 1998," ujarnya.

Jadi yang harus diperhatikan, menurut dia, adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terus melemah dan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Namun angka pertumbuhan ini ternyata tidak mencerminkan tingkat pemerataan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan.

Prasetyantoko mengingatkan, hal yang terpenting dalam pertumbuhan ekonomi adalah tingkat pemerataan kesejahteraan rakyat sebagai imbas dari pertumbuhan itu sendiri. "Dari pertumbuhan ekonomi itu sebenarnya yang paling penting adalah pemerataan kesejahteraan. Dan itu belum terlihat saat ini. Maka saya berani katakan gejala ini mirip dengan awal krisis tahun 1998," tegas dia.

Perang Mata Uang

Ekonom UI Anton Gunawan mengatakan, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada di level 5,3%, atau di bawah target pemerintah yang sebesar 5,6% - 5,7%. Hal ini dilihat dari berbagai program ekonomi dalam pembangunan infrastruktur belum membawa pengaruh yang signifikan. Penyebabnya, proyek infrastruktur yang menjadi tulang punggung tumbuhnya perekonomian Indonesia belum dapat berjalan secara maksimal. Kemudian perlambatan ekonomi global serta masih rendahnya tingkat konsumsi masyarakat menyebabkan perekonomian di negeri ini belum menggeliat.

"Karena faktor untuk mendukung itu dari sisi investasi, terutama infrastruktur. Bisa jalan, tetapi tidak cepat, karena kekhawatiran belum berjalannya proyek infrastruktur yang jadi backbone, atau tulang punggung pertumbuhan tahun ini," katanya.

Menurut dia, proyeksi pertumbuhan ekonomi tersebut juga berdasarkan asumsi target defisit transaksi berjalan (current account deficit-CAD) yang masih berada di kisaran 3%, meski Bank Indonesia pesimistis dengan perkiraan masih di level 3,2%. Selain itu, inflasi tahun ini akan rendah karena akan didukung oleh masa panen raya yang jatuh sekitar Maret, atau April tahun ini.

"CAD masih besar, tetapi saya masih punya pandangan masih di kisaran 3%. Kalau BI malah pesimis di atas 3% sedikit. BI sangat takut dengan CAD, sudah kelihatan sejak beberapa tahun lalu, karena kebijakannya selalu dikhawatirkan pembiayaan CAD dari capital inflow akan berkurang," tutur Anton.

Menurut dia, kondisi ekonomi dunia saat ini seperti tengah dalam tren “perang mata uang” global yang berlomba menurunkan nilai tukar guna meningkatkan daya saing di pasar dunia.Dalam hal ini, pemerintah harus mengambil langkah kebijakan untuk menjaga rupiah agar tidak semakin buruk.

"Dampak kebijakan ini tidak akan secara langsung bisa dirasakan dalam waktu yang singkat. Apalagi, kinerja impor baru akan meningkat di semester II-2015 seiring dengan realisasi pembangunan infrastruktur," lanjutnya.

Dia menjelaskan fundamental ekonomi makro Indonesia yang kokoh merupakan pertahanan utama dalam menghadapi gejolak global yang terus berlangsung. Dalam kondisi saat ini, Indonesia sebaiknya menghindari ketidakpastian kebijakan dan mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan ketahanan terhadap guncangan pasar keuangan.

Pengamat ekonomi Indef Eko Listyanto mengatakan, penurunan cadangan devisa negara hingga Rp 50 trilliunan untuk bayar utang dan menjaga stabilitas rupiah, bukti rentannya kondisi ekonomi nasional. Menurut dia, menipisnya cadev negara menggambarkan kondisi keuangan sedang krusial apalagi situasi global masih tidak menentu, ditambah membaiknya ekonomi Amerika Serikat (AS) menjadikan kondisi ekonomi dalam negeri dalam kondisi mengkhawatirkan ke depan.

"Melihat kondisi keuangan negara ditambah ekonomi domestik yang belum kunjung membaik, ini mengindikasikan krisi ekonomi mulai nampak," ujarnya.

Namun begitu, dia memproyeksikan ekonomi nasional tidak akan bisa tumbuh sesuai dengan target pemerintah 5,7% hingga akhir tahun. Karena memang kondisi riil ekonomi masih belum menggembirakan, kalau pun ada peningkatan pertumbuhan di tahun 2016 karena efek dari belanja modal dari APBN-P 2015. "Tahun ini masih akan sulit mengejar pertumbuhan tinggi, triwulan I paling tinggi 4,9%. Sedangkan hingga akhir tahun sekitar 5,1% atau paling banter 5,3%,” ujarnya.

Pengamat ekonomi Hendri Saparini mengatakan, pada 2015 kondisi pertumbuhan ekonomi masih masih belum menunjukkan kinerja singnifikan. Kebijakan ekspor bernilai tambah pada komoditas andalan yaitu kelapa sawit dan batubara, akan membuat volume ekspor melambat. Pemerintah mesti jeli melihat pasar agar terhindar liberalisasi ekonomi tanpa persiapan.

Selama satu dasawarsa terakhir, menurut dia, pemerintah belum mampu meningkatkan kesejahteraan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Khususnya masyarakat berpendapatan rendah, terjadi berbagai keberhasilan semu semata, dari indikator upah buruh riil maupun nilai tukar petani merosot.

"Ini terjadi karena strategi dan pemilihan kebijakan yang tidak tepat. Yang terjadi liberalisasi ekonomi tanpa persiapan," ujarnya.

Menurut Hendri, kebijakan pemerintah saat ini lebih banyak memilih hands-off dengan menyerahkan banyak hal pada mekanisme pasar. Termasuk untuk urusan kewajiban dalam pemenuhan kebutuhan dasar, sebut saja dalam pengendalian harga pangan strategis. agus/iwan/bari/mohar

Related posts