Butuh Modal, Siloam Gelar Rights Issue 10%

Senin, 13/04/2015

NERACA

Jakarta – Besarnya kebutuhan modal PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) untuk pembangunan rumah sakit di beberapa tempat, menjadi alasan bagi perseroan untuk menambah modal dengan cara penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Rencananya, aksi korporasi ini akan dilaksanakan secara bertahap dalam jangka waktu dua tahun.

Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin, dijelaskan, aksi private placement yang dilakukan perseroan memiliki tujuan dalam mendukung pengembangan usaha dan memperkuat struktur permodalan. Siloam bakal menerbitkan saham baru dengan jumlahnya sebanyak 115.610.000 lembar saham atau sebesar-besarnya 10% dari modal disetor.

Nantinya, dalam meloloskan aksi korporasi, perseroan bakal meminta persetujuan terlebih dulu kepada pemegang saham lewat pergelaran rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB). RUPSLB rencananya akan diadakan pada Selasa, 19 Mei 2015. Akibat penerbitan saham baru ini, maka jumlah saham yang dikeluarkan perseroan menjadi lebih banyak dan persentase kepemilikan saham masing-masing pemegang saham terhadap seluruh jumlah saham yang dikeluarkan perseroan akan mengalami penurunan (dilusi) sebesar keseluruhan maksimal 9,09%.

Dilusi yang akan dialami oleh pemegang saham relatif kecil. Selain itu jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham sebelum dan sesudah penerbitan saham baru tidak mengalami perubahan. Saat ini, Siloam mengoperasikan 20 rumah sakit yang terletak di 15 kota dan pada 2017 diproyeksikan untuk mengoperasikan lebih dari 50 rumah sakit di lebih dari 30 kota dan kabupaten di seluruh kepulauan Indonesia.

Satrio Utomo, Kepala Riset Universal Broker Indonesia melihat saham-saham grup Lippo cukup atraktif selama sebulan terakhir, termasuk saham SILO. Dimana emiten yang bergerak di bisnis health care tengah gencar mengembangkan bisnis rumah sakit. Pertumbuhan kinerja SILO didukung oleh peningkatan kesadaran masyarakat akan kesehatan. Apalagi, SILO menyiapkan layanan kesehatan berstandar nasional. Maklum, SILO memang mengejar target masyarakat kalangan menengah ke atas. Namun, SILO tetap mengikuti program BPJS Kesehatan dari pemerintah.

Belum lama ini, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) melepas saham PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) sebanyak 92,8 juta saham senilai Rp1,14 triliun. Saham ditawarkan dengan harga Rp12.250 per saham, yang merupakan diskon sebesar 8,2% dari harga penutupan saham pada Kamis (5/2), yaitu Rp13.350 per saham.

Penempatan saham ini merupakan 8% dari total saham beredar SILO. Sebelumnya LPKR secara efektif memiliki 78,8% saham Siloam melalui berbagai anak perusahaan. Setelah penempatan, LPKR secara efektif memiliki 70,8% saham Siloam. Saham tersebut dijual oleh PT Kalimaya Pundi Bumi dan PT Safira Prima Utama, kedua anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh LPKR.

LPKR bermaksud untuk tetap menjadi pemegang saham mayoritas Siloam yang senantiasa memperkuat dan mengembangkan posisinya yang terdepan di pasar kesehatan Indonesia. Rencananya, dana hasil penempatan ini akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek rumah sakit serta bisnis properti yang terkait rumah sakit perusahaan. Credit Suisse bertindak sebagai bookrunner tunggal untuk LPKR dalam penempatan saham ini. (bani)