Indonesia Siap Sambut Investasi Asal Malaysia

Penanaman Modal Asing

Senin, 13/04/2015

NERACA

Jakarta – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani menyatakan pihaknya siap menyambut masuknya investor Malaysia untuk menanamkan modalnya di Indonesia. “Malaysia bersama Singapura merupakan negara ASEAN yang sudah menjadi mitra investasi Indonesia. Bahkan pada 2014, Malaysia menempati peringkat ketiga negara dengan investasi terbesar di Indonesia sebesar 1,8 miliar dolar AS. Ini untuk pertama kalinya sejak tahun 2010, Malaysia masuk lima besar negara dengan investasi terbesar di Indonesia,” kata Franky melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, hal tersebut menanggapi pernyataan Wakil Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyidin Yasin bahwa saat ini adalah waktu yang tepat bagi pengusaha Malaysia untuk meningkatkan investasi di Indonesia. Hal itu disampaikan Tan Sri Muhyidin dalam dialog bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rabu (8/4).

Menurut Franky, salah satu fokus BKPM adalah menarik investasi ke Indonesia dari negara-negara ASEAN, khususnya Malaysia. Ia mengatakan potensi investasi dari Malaysia masih bisa dioptimalkan mengingat rasio investasi Malaysia yang belum sebesar Singapura atau negara mitra investasi utama Indonesia lainnya.

Berdasarkan data BKPM, sepanjang 2005-2014, rasio investasi Malaysia baru sebesar 28,31 persen. Nilai tersebut didapat dari rencana investasi negeri jiran senilai 16,14 miliar dolar AS, namun realisasi investasinya hanya sebesar 4,57 miliar dolar AS.

Sementara, Singapura pada periode yang sama, memiliki rasio investasi sebesar 53,59 persen lantaran dari rencana investasi sejumlah 63,01 miliar dolar AS, realisasi investasinya mencapai sebesar 33,77 miliar dolar AS.

Kendati demikian, angka rasio investasi tersebut masih di bawah Jepang yang mencapai 62 persen atau Korea Selatan yang mencapai 70 persen. Maka, lanjut Franky, BKPM akan menggenjot realisasi investasi Malaysia dengan memaksimalkan kantor perwakilan yang ada di Singapura. “Kami juga berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan termasuk KBRI yang ada di Malaysia untuk mempromosikan potensi investasi di Indonesia,” ujar dia.

BKPM mencatat, jumlah investasi Malaysia ke Indonesia sepanjang 2010-2014 mencapai 4,107 miliar dolar AS. Lima sektor paling besar adalah konstruksi senilai 1,37 miliar dolar AS; tanaman pangan dan perkebunan 1,29 miliar dolar AS; industri makanan 532,55 juta dolar AS; industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi 214,58 juta dolar AS; dan sektor transportasi serta telekomunikasi 142,65 juta dolar AS.

Investasi tersebut tersebar di Sumatera sebesar 780,15 juta dolar AS; Jawa sebesar 1,97 miliar dolar AS; Kalimantan sebesar 1,28 miliar dolar AS; Bali dan Nusa Tenggara sebesar 12 juta dolar AS; Sulawesi sebesar 39,41 juta dolar AS; serta Papua sebesar 12,48 juta dolar AS. Sedangkan rencana investasi dari Malaysia yang sudah masuk ke BKPM sepanjang periode Januari - Maret 2015 sebesar 2,35 miliar dolar AS.

Sebelumnya, Franky Sibarani mengatakan fokus lembaganya menjelang pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir 2015 adalah dengan menarik investasi negara Asia Tenggara dan mendorong mereka menjadikan Indonesia sebagai basis produksi.

Franky melalui keterangan tertulis, Kamis, mengatakan hal itu dilakukan untuk mencegah Indonesia menjadi pasar besar atau “big market” bagi produk-produk negara ASEAN lainnya. “Salah satu poin penting pelaksanaan MEA adalah kekhawatiran Indonesia hanya menjadi 'big market' bagi produk-produk negara ASEAN lainnya, karena penduduk Indonesia mencapai 40 persen populasi ASEAN. Menarik investasi negara-negara ASEAN dan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, dapat menjadi salah satu solusi menghindarkan kekhawatiran Indonesia hanya akan menjadi 'big market',” katanya.

Menurut Franky, potensi investasi dari negara-negara ASEAN masih cukup tinggi. Dari jajaran negara Asia Tenggara, tercatat baru Singapura dan Malaysia yang menanamkan modalnya ke Indonesia dalam jumlah besar, bahkan masuk dalam daftar lima besar investasi.

Oleh karena itu, ia optimistis Indonesia bisa menarik investasi dari negara-negara ASEAN. Merujuk pada data BKPM sejak 2012, terdapat kecenderungan kenaikan investasi dari negara ASEAN ke Indonesia yaitu dari 5,46 miliar dolar AS pada 2012, naik menjadi 5,49 miliar dolar AS pada 2013 dan terus meningkat menjadi 7,93 miliar dolar AS pada 2014.