Indonesia Siap Sambut Investasi Asal Malaysia - Penanaman Modal Asing

NERACA

Jakarta – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani menyatakan pihaknya siap menyambut masuknya investor Malaysia untuk menanamkan modalnya di Indonesia. “Malaysia bersama Singapura merupakan negara ASEAN yang sudah menjadi mitra investasi Indonesia. Bahkan pada 2014, Malaysia menempati peringkat ketiga negara dengan investasi terbesar di Indonesia sebesar 1,8 miliar dolar AS. Ini untuk pertama kalinya sejak tahun 2010, Malaysia masuk lima besar negara dengan investasi terbesar di Indonesia,” kata Franky melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, pekan lalu.

Menurut dia, hal tersebut menanggapi pernyataan Wakil Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyidin Yasin bahwa saat ini adalah waktu yang tepat bagi pengusaha Malaysia untuk meningkatkan investasi di Indonesia. Hal itu disampaikan Tan Sri Muhyidin dalam dialog bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rabu (8/4).

Menurut Franky, salah satu fokus BKPM adalah menarik investasi ke Indonesia dari negara-negara ASEAN, khususnya Malaysia. Ia mengatakan potensi investasi dari Malaysia masih bisa dioptimalkan mengingat rasio investasi Malaysia yang belum sebesar Singapura atau negara mitra investasi utama Indonesia lainnya.

Berdasarkan data BKPM, sepanjang 2005-2014, rasio investasi Malaysia baru sebesar 28,31 persen. Nilai tersebut didapat dari rencana investasi negeri jiran senilai 16,14 miliar dolar AS, namun realisasi investasinya hanya sebesar 4,57 miliar dolar AS.

Sementara, Singapura pada periode yang sama, memiliki rasio investasi sebesar 53,59 persen lantaran dari rencana investasi sejumlah 63,01 miliar dolar AS, realisasi investasinya mencapai sebesar 33,77 miliar dolar AS.

Kendati demikian, angka rasio investasi tersebut masih di bawah Jepang yang mencapai 62 persen atau Korea Selatan yang mencapai 70 persen. Maka, lanjut Franky, BKPM akan menggenjot realisasi investasi Malaysia dengan memaksimalkan kantor perwakilan yang ada di Singapura. “Kami juga berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan termasuk KBRI yang ada di Malaysia untuk mempromosikan potensi investasi di Indonesia,” ujar dia.

BKPM mencatat, jumlah investasi Malaysia ke Indonesia sepanjang 2010-2014 mencapai 4,107 miliar dolar AS. Lima sektor paling besar adalah konstruksi senilai 1,37 miliar dolar AS; tanaman pangan dan perkebunan 1,29 miliar dolar AS; industri makanan 532,55 juta dolar AS; industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi 214,58 juta dolar AS; dan sektor transportasi serta telekomunikasi 142,65 juta dolar AS.

Investasi tersebut tersebar di Sumatera sebesar 780,15 juta dolar AS; Jawa sebesar 1,97 miliar dolar AS; Kalimantan sebesar 1,28 miliar dolar AS; Bali dan Nusa Tenggara sebesar 12 juta dolar AS; Sulawesi sebesar 39,41 juta dolar AS; serta Papua sebesar 12,48 juta dolar AS. Sedangkan rencana investasi dari Malaysia yang sudah masuk ke BKPM sepanjang periode Januari - Maret 2015 sebesar 2,35 miliar dolar AS.

Sebelumnya, Franky Sibarani mengatakan fokus lembaganya menjelang pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir 2015 adalah dengan menarik investasi negara Asia Tenggara dan mendorong mereka menjadikan Indonesia sebagai basis produksi.

Franky melalui keterangan tertulis, Kamis, mengatakan hal itu dilakukan untuk mencegah Indonesia menjadi pasar besar atau “big market” bagi produk-produk negara ASEAN lainnya. “Salah satu poin penting pelaksanaan MEA adalah kekhawatiran Indonesia hanya menjadi 'big market' bagi produk-produk negara ASEAN lainnya, karena penduduk Indonesia mencapai 40 persen populasi ASEAN. Menarik investasi negara-negara ASEAN dan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi, dapat menjadi salah satu solusi menghindarkan kekhawatiran Indonesia hanya akan menjadi 'big market',” katanya.

Menurut Franky, potensi investasi dari negara-negara ASEAN masih cukup tinggi. Dari jajaran negara Asia Tenggara, tercatat baru Singapura dan Malaysia yang menanamkan modalnya ke Indonesia dalam jumlah besar, bahkan masuk dalam daftar lima besar investasi.

Oleh karena itu, ia optimistis Indonesia bisa menarik investasi dari negara-negara ASEAN. Merujuk pada data BKPM sejak 2012, terdapat kecenderungan kenaikan investasi dari negara ASEAN ke Indonesia yaitu dari 5,46 miliar dolar AS pada 2012, naik menjadi 5,49 miliar dolar AS pada 2013 dan terus meningkat menjadi 7,93 miliar dolar AS pada 2014.

BERITA TERKAIT

Amazon Ikut Tanam Modal Teknologi Swakemudi

Perusahaan e-commerce raksasa Amerika Serikat (AS), Amazon, mengikuti tren teknologi global di bidang mobil otonom (swakemudi) dengan menanamkan investasi 530…

Optimistis di 2019, BMW Indonesia Bakal Rilis 10 Mobil Baru

BMW Grup Indonesia akan meluncurkan sebanyak 10 mobil terbaru pada 2019, menunjukkan kepercayaan pabrikan mobil mewah asal Jerman itu dalam…

Ini Tantangan Baru Industri Pariwisata di Indonesia

Salah satu usaha mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun depan, Kementerian Pariwisata akan lebih fokus menggarap segmen pasar…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Sistem 3 in 1 Ditargetkan Jaring 72.000 Peserta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus menggelar program pelatihan industri berbasis kompetensi dengan sistem 3 in 1 (Pelatihan, Sertifikasi, dan…

Sektor Pengolahan - Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Terus Meningkat

NERACA Jakarta – Industri manufaktur terus menyerap tenaga kerja dalam negeri seiring adanya peningkatan investasi atau ekspansi. Ini menjadi salah…

Kompetensi SDM Industri Logam Bakal Diperkokoh

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mengajak pelaku industri di Indonesia terlibat dalam program pendidikan dan pelatihan vokasi. Langkah ini…