Jangan Cuma Produksi Beras, Kedelai Juga Butuh Perhatian

Senin, 13/04/2015

NERACA

Jakarta - Kementerian Pertanian diingatkan untuk tidak hanya mengejar target produksi beras tetapi juga produksi lainnya, seperti kedelai. Sebab, saat ini jarak antara kebutuhan dan produksi kedelai dalam negeri juga kian lebar. Akibatnya, harga kedelai kerap naik turun karena ketergantungan akan pasokan kedelai impor.

Anggota DPR Komisi IV, Rofi Munawar mengatakan setiap tahun industri kedelai membutuhkan kedelai sekitar 2,4 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri tercatat hanya mampu sebesar 900.000 ton.

Sementara setiap tahun industri tahu tempe membutuhkan 1,85 juta ton kedelai. Lalu, industri kecap dan tauco sekitar 325.220 ton. Selain itu, industri benih juga membutuhkan 25.843 ton kedelai dan untuk pakan sekitar 8.319 ton kedelai.

Untuk memenuhi kekurangan kebutuhan, setiap tahunnya impor kedelai mencapai 1,3 juta ton. Indonesia menjadi negara paling bergantung akan impor kedelai asal Amerika Serikat (AS). Setelah Malaysia sebanyak 120.000 ton, Argentina 73.000 ton, Uruguay sekitar 16.824 ton dan Brasil sebanyak 13.550 ton.

“Menteri Pertanian harus segera bergerak melakukan perbaikan persoalan kedelai. Misalnya, memastikan harga produksi di tingkat petani yang kompetitif. Lalu ekstensifikasi lahan dan penerapan teknologi baru,” kata Rofi, Jumat (10/4).

Dalam Laporan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) dan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selama semester II-2014 ada lima permasalahan yang membuat produktifitas kedelai rendah. Pertama, penurunan areal tanam kedelai. Kedua, rendahnya harga jual di tingkat petani. Ketiga, rendahnya partisipasi petani dalam menanam.

Keempat, ketersediaan teknologi dan rendahnya adopsi teknologi di tingkat petani. Terakhir, rendahnya tingkat harga yang diterima petani.

Sementara itu, Pakar Agronomi UGM Prof. Dr. Didik Indradewa, Dip.Agr.St., menyebutkan krisis kedelai yang kembali menerpa Indonesia saat ini salah satunya dikarenakan kurangnya lahan pertanian. Menurutnya Indonesia setidaknya membutuhkan 2 juta hektar lahan pertanian untuk mencukupi kebutuhan kedelai dalam negeri.

“Indonesia saat ini masih kekurangan beras sekitar 200 ribu ton , untuk mencukupi kebutuhan pokok tersebut kita harus menyediakan 1 juta hektar lahan lagi. Tapi sekarang ini kebutuhan impor padi saja sampai 2 juta ton sehingga kita masih kekurangan lahan sekitar 2 juta hektar,” paparnya.

Oleh karenanya, disampaikan Didik, penting untuk meningkatkan luasan lahan pertanian untuk penanaman kedelai. Pasalnya tanaman juga mengalami persaingan di tingkat lahan.

“Misalnya saja kalau produksi kedelai naik maka akan menggeser produksi jagung dan sebaliknya. Jadi lahan harus dinaikkan agar produksi kedelai lokal bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Yang sekarang terjadi produksi kedelaiturun karena tidakbisa bersaing dengan kedelai impor dan tanaman lainnya,” urai Guru Besar Fakultas Pertanian UGM ini.

Didik menuturkan pada tahun 1992 Indonesia mampu memproduksi 1,6 juta ton. Namun angka tersebut terus menurun karena areal pertanian semakin berkurang, sehingga produksi kedelai tinggal 800 ton per tahun. “Ini adalah krisis kedua dan akan terus berlanjut jika tidak ditangani dengan baik,” tandasnya.

Krisis kedelai juga ditengarai karena petani enggan menanam kedelai karena produktivitasnya rendah dan kalah bersaing dengan kedelai impor. Akibatnya petani tidak mau menerapkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas. Padahal sejumlah lembaga penelitian dan perguruan tinggi di Indonesia tidak sedikit yang telah mengembangkan berbagi varietas kedelai yang unggul dan mampu bersaing dengan kedelai impor. “Rata-rata produktivitas petani 1,3 ton per hektar sedangkan dari varietas kedelai yang dikembangkan oleh peneliti bisa menjapai 3-4 ton per hektar,” terangnya.

Sementara di kalangan perajin tempe, kedelai impor lebih banyak digunakan sebagai bahan tempe karena selain harganya lebih murah keberadaannya selalu tersedia setiap waktu. Berbeda dengan kedelai lokal yang hanya tersedia pada musim-musim tertentu. Selain itu banyak perajin tempe yang menganggap kedelai impor lebih bagus dari kedelai lokal karena berukuran besar. Kedelai lokal rata-rata berukuran 15 gram per 100 butir, sementara kedelai impor ukurannya 18 gram per 100 butir. Ditambah lagi kedelai impor berwarna putih dan memiliki kandungan protein tinggi sebesar 35 persen.

“Padahal di Indonesia telah dikembangkan beberapa varietas yang juga memiliki ukuran besar seperti Burangrang, Bromo, dan Argomulyo yang bisa mencapai 18 gram per 100 butir. Sementara ada juga varietas kedelai lokal yang mengandung protein hingga 45 persen,” sebut Didik.

Namun karena kurang sosialisasi dan hanya terkonsentrasi di lembaga penelitian,lanjutnya, tidak banyak petani yang mengembangkan varietas kedelai unggul tersebut. Selama ini petani hanya menanam kedelai varietas Wilis yang hanya berukuran 13 gram per 100 butir. “Karena tidak banyak yang memakai akhirnya benih tidak dikembangkan ,” jelasnya.

Didik berharap kedepan dilakukan sosialisasi secara intensif kepada petani tentang keberadaan varietas kedelai unggul tersebut dan mendorong mereka untuk menanamnya.