Likuiditas Pasar Surat Utang Masih Tumbuh

Meski Imbal Hasil Turun

Senin, 13/04/2015

NERACA

Jakarta – Sampai dengan semester pertama tahun ini, likuiditas pasar surat utang atau obligasi baik itu pemerintah maupun korporasi di dalam negeri masih cukup positif menyusul ketersedian produk yang relatik baik,”Likuiditas pasar surat utang dalam negeri diyakini masih cukup positif,”kata Direktur Indonesia Bond Pricing Index (IBPA), Wahyu Trenggono di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, pasar surat utang akan banyak di serap pasar, meski sepanjang tahun ini terjadi penurunan imbal hasil khususnya untuk obligasi pemerintah yang tercermin dari turunnya IndoBeXG-total return secara 'year to date' (ytd) di akhir bulan Maret ke level 5,72%.

Namun dia menambahkan, masih ada harapan di pasar ke depannya. Menurutnya, penurunan imbal hasil obligasi masih dinilai wajar karena ekspektasi kenaikan inflasi di dalam negeri menyusul kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Di sisi lain, lanjut dia, faktor depresiasi rupiah juga turut mengakibatkan penurunan likuiditas. Ketidakpastian sentimen mengenai kenaikan suku bunga AS (Fed fund rate) menjadi salah satu rupiah terdepresiasi sehingga membuat aksi "wait and see" investor,”Aksi investor itu terlihat dari menurunnya penawaran dari lelang SBN beberapa waktu lalu meski masih mencatatkan 'oversubscribed'," katanya.

Dia mengemukakan bahwa pemerintah beberapa pekan lalu menyelenggarakan lelang SBN dengan target indikatif sebesar Rp10 triliun. Total penawaran yang masuk mencapai Rp15,19 triliun, nilai nominal penawaran yang masuk itu merupakan yang terendah sepanjang kuartal pertama tahun 2015 ini.

Namun, menurut dia, potensi pasar obligasi bisa kembali naik karena diimbangi oleh sentimen laju perekonomian Indonesia yang ekspektasinya positif. Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Hoesen mengatakan bahwa untuk penerbitan obligasi korporasi di kuartal II 2015 masih cukup prospektif sebagai sumber pendanaan perusahaan melakukan ekspansi,”Beberapa perusahaan akan menerbitkan obligasi dengan mekanisme penawaran umum berkelanjutan dalam rangka mendukung permodalannya," ujarnya.

Kata Hoesen, beberapa emiten akan menerbitkan obligasi dengan mekanisme penawaran umum berkelanjutan, misalnya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang akan menerbitkan obligasi PUB tahap I sejumlah Rp7 triliun dari total penerbitan Rp12 triliun.

Akhir pekan lalu, PT Bursa Efek Indonesia mencatat total emisi obligasi maupun sukuk yang diterbitkan hingga perdagangan Kamis (9/4) mencapai Rp15,07 triliun. Nilai itu disumbang 13 emisi yang diterbitkan 12 emiten. Disebutkan, total nilai penerbitan obligasi tersebut berasal dari dicatatkannya Obligasi I Brantas Abipraya tahun 2015 oleh PT Brantas Abipraya. Nilai emisi obligasi yang diterbitkan sebesar Rp300 miliar tersebut memiliki jangka waktu selama tiga tahun. (bani)