Indonesia Terus Dihantui Krisis 2008

NERACA

Jakarta - Gubernur Bank Indonesia, Agus DW Martowardojo, mengingatkan bahwa krisis ekonomi global yang terjadi pada 2008 masih menghantui perekonomian Indonesia. Dia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebelumnya diprediksi 3,8% akan dikoreksi menjadi 3,4% - 3,5%.

"Dampak lanjutan dari krisis ekonomi tahun 2008 masih membebani dinamika ekonomi, baik global maupun nasional," ucap Agus Marto di Jakarta, pekan lalu. Dia mengatakan, dinamika pertumbuhan ekonomi domestik memang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh global. Hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan mengalami perlambatan.

Meskipun pemerintah memprediksikan pertumbuhan pada 2015 membaik, namun lemahnya struktur neraca transaksi berjalan akan menjadi kendala untuk memburu pertumbuhan tersebut. Kondisi ini memang telah berlangsung dalam 3 tahun terakhir. "Depresiasi kurs rupiah jadi tidak terhindarkan, bahkan perlu lebih fleksibel. Secara fundamental tren nilai tukar ditentukan kinjera neraca transaksi berjalan," paparnya.

Untuk itu, Agus Marto menyebutkan perlunya langkah-langkah penguatan terutama dari sisi mikro untuk mengatasi berbagai kerentanan di dalam negeri di tengah ketidakpastian dan gejolak ekonomi global. "Kami melihat sekurang-kurangnya terdapat dua kerentanan mikro dalam perekonomian nasional," katanya, mengingatkan.

Kerentanan mikro pertama, yakni utang luar negeri korporasi yang masih terus meningkat, namun hanya sekitar 26% yang terlindung dari risiko gejolak kurs. Kerentanan mikro kedua, yaitu akumulasi modal portofolio oleh investor luar negeri pada obligasi negara yang sudah sangat besar dan dapat dengan mudah mengalir keluar serta memicu gejolak kurs.

Menurut Agus Marto, masuknya dana luar negeri dalam bentuk utang luar negeri korporasi, pembelian saham serta pembelian surat berharga negara, pada hakikatnya adalah sumber pembiayaan perekonomian. Akan tetapi, eksposur ini juga dapat meningkatkan kerentanan perekonomian jika tidak dilengkapi dengan prasyarat kelembagaan pendukungnya, terutama dalam konteks Indonesia sebagai perekonomian terbuka. [agus]

BERITA TERKAIT

Utang Luar Negeri Indonesia Naik 10,1%

      NERACA   Jakarta - Jumlah utang luar negeri Indonesia di akhir 2017 meningkat 10,1 persen (tahun ke…

Indonesia Belum Miliki Cadangan BBM Nasional

      NERACA   Jakarta - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengusulkan harus adanya pengadaan…

IPO SKY ENERGY INDONESIA

Direktur Utama PT Sky Energy Indonesia, Jackson Tandiono (ketiga kiri) berbincang dengan Direktur Independen Pui Siat Ha, Direktur Hengky Loa,…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

BI : Siklus Krisis Ekonomi 10 Tahunan Tak Relevan

      NERACA   Jakarta - Pernyataan bahwa siklus krisis ekonomi di Indonesia akan terjadi setiap 10 tahun sekali…

Jepang Tertarik Bangun MRT Di Jakarta

      NERACA   Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahuddin Uno melakukan kunjungan kerja ke Tokyo, Jepang…

Empat Provinsi Siaga Karhutla

      NERACA   Jakarta - Sebanyak empat provinsi, yaitu Sumatra Selatan (Sumsel), Riau, Kalimantan Barat (Kalbar), dan Kalimantan…