BI: Pasar Uang Masih Aman dan Stabil

Jakarta - Bank Indonesia (BI) memandang adanya sentimen negatif di pasar keuangan global hanya memberikan tekanan yang besar terutama di pasar saham dan pasar obligasi pemerintah. Tetapi bank sentral tidak melihat tekanan di pasar uang domestik yang dinilai masih cukup aman dan likuid. "Koreksi harga saham terjadi di hampir seluruh sektor ekonomi. Terbesar di sektor pertambangan, perdagangan dan pertanian," ungkap Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Perry Warjiyo di Jakarta, Senin.

Dijelaskan Perry, koreksi IHSG relatif lebih kecil dibanding rata-rata kawasan Asia, meskipun lebih besar dibanding Malaysia, Filipina dan Cina. Sementara di pasar obligasi, penjualan Surat Berharga Negara (SBN) oleh asing relatif lebih kecil dan mampu dibeli oleh pelaku domestik, khususnya bank. "Karenanya, yield SBN tidak mengalami kenaikan signifikan. Dibanding kawasan, yield SBN masih relatif menarik investor asing. Namun, besarnya porsi SBN asing yang lebih bedar dibanding kawasan perlu terus diwaspadai," jelas Perry.

Sedangkan ekses likuiditas di pasar uang domestik masih besar, sehingga sambung Perry dampak krisis global tidak terlihat di pasar uang dalam negeri. Bahkan, tegasnya, suku bunga pasa uang antar bank (PUAB) masih dalam tren menurun. "Suku bunga perbankan (deposito dan kredit) juga dalan tren menurun, meskipun spread suku bunga masih besar. Penyaluran kredit perbankan juga terus meningkat, dengan pertumbuhan kredit modal kerja dan investasi yang lebih tinggi," terangnya.

Pertumbuhan kredit perbankan dalam setahun terakhir mencapai Rp 275,6 triliun atau tumbuh 23,5% Juli 2011. Sebagian besar kredit untuk pembiayaan ekonomi produktif. Dibanding periode yang sama tahun lalu, kredit investasi dan kredit modal kerja tumbuh lebih baik, sedangkan kredit konsumsi lebih rendah. "Dalam setahunan (year on year) pertumbuhan kredit modal kerja mencapai 25,3%, kredit investasi 21,9% dan kredit konsumsi 21,9%," jelas Perry.

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan, masyarakat tidak perlu panik atas terjadinya pelemahan di nilai tukar rupiah terhadap dolar. Menurutnya, pelemahan ini hanya sementara. "Temporary tenang saja lah. Nggak usah panik," katanya di Kantor Presiden RI, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin.

Menurut Hatta, cadangan devisa Indonesia masih dalam posisi yang kuat. Dengan demikian masyarakat tidak perlu panik berlebihan. “Kita cukup kuat kok. Reserve (cadangan devisa) kita ada sedikit penurunan karena intervensinya BI, ya normal," imbuhnya.

Pelemahan rupiah terhadap dollar AS yang sempat terjadi pada lalu membuat Bank Indonesia (BI) harus melakukan intervensi untuk menjaga kestabilan nilai rupiah. Akibatnya, cadangan devisa RI anjlok sekitar US$ 2 miliar ke posisi US$ 122 miliar per akhir pekan lalu.

Melemahnya rupiah terhadap dollar AS diakibatkan oleh sentimen negatif ekonomi global yang dipicu oleh kekhawatiran oleh memburuknya penanganan krisis di Eropa.

Kalah Bersaing

Lihat saja, pada awal pekan ini, rupiah harus ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat ke angka Rp8.805 per US$. Perlemahan rupiah akibat adanya setimen negatif di Asia.

Kurs tengah Bank Indonesia mencatat rupiah diperdagangkan pada Rp8.805 per US$, dengan kisaran harga Rp8.849-Rp8.761 per US$, kembali melemah setelah sebelumnya berada pada level Rp8.772 per US$. Sementara menurut yahoofinance, rupiah pada Senin (19/9) melemah 210 poin dan diperdagangkan di level Rp8.965 per US$, dengan kisaran harga Rp8.760-Rp8.990 per US$.

Sementara, apresiasi dolar AS nampaknya tidak berlaku di zona Eropa. Tercatat euro juga mampu menguat terhadap dolar di level US$1,366 per euro dengan kisaran perdagangan US$1,364-1,370 per euro. Penguatan juga terjadi pada poundsterling terhadap dolar yang diperdagangkan di harga US$1,573 per pounds dengan rata-rata perdagangan US$1,568-1,574 per pounds.

Analis valas Rully Nova menuturkan, isu eksternal masih menyelimuti pergerakan rupiah kali ini. Terutama isu yang berasal dari kawasan Eropa. Krisis utang yang belum juga selesai membuat investor khawatir.

Selain itu, adanya komitmen yang datang dari negeri Tirai Bambu, China yang bersedia untuk menyerap surat utang/obligasi yang diterbitkan Yunani dan Italia yang juga sedang bermasalah ternyata tidak dapat mengangkat rupiah dari pelemahannya.

Sementara pada pasar saham, dibuka anjlok 33,92 poin atau sebesar 0,88 persen ke posisi 3.801,26, pada penutupan IHSG makin amblas 80.13 poin atau 2,09 persen ke level 3.755,05.

Namun adanya setitik sentimen positif berupa komitmen dari zona Eropa untuk lebih disiplin dalam memakai anggaran pemerintah diprediksi mampu mengangkat rupiah dari pelemahannya.

Selain itu, faktor pendukung lainnya yakni adanya komitmen yang datang dari negeri Tirai Bambu, China yang bersedia untuk menyerap surat utang/obligasi yang diterbitkan Yunani dan Italia yang juga sedang bermasalah setidaknya diprediksikan bisa mengangkat rupiah dari pelemahannya. "Untuk kali ini, rupiah akan diperdagangkan dikisaran Rp8.770-Rp8.750 per US$," ungkap Rully.

Penguatan yang terjadi di bursa Amerika Serikat selama pekan kemarin pun, menjadi sentimen positif dalam perdagangan kali ini.

Walapun banyak dana asing atau capital inflow yang keluar dari Indonesia disebabkan oleh masih tingginya peminat surat utang AS karena dalam situasi dan kondisi perekonomian seperti saat ini investor cenderung ingin menjaga portofolionya dengan memegang mata uang yang risikonya relatif kecil seperti USD.

Seperti diketahui, kurs tengah Bank Indonesia (BI), Jumat 16 September mencatat rupiah diperdagangkan pada Rp8.772 per US$, dengan kisaran harga Rp8.715-Rp8.803 per US$. Angka ini melemah tipis setelah sebelumnya berada pada Rp8.730 per US$.

Sementara berdasarkan yahoofinance, rupiah melemah 45 poin dan diperdagangkan di level Rp8.810 per US$ dari sebelumnya Rp8,805 per US$, dengan kisaran harga Rp8.760-Rp8.838 per US$.

Related posts