Dollar Menguat, Laba Electronic City Tertekan

Jumat, 10/04/2015

NERACA

Jakarta – Menguatnya nilai tukar dollar terhadap rupiah memberikan dampak terhadap kenaikan harga jual barang-barang elektronik, sehingga kondisi ini menjadi beban terhadap ppenjualan PT Electronic City Indonesia Tbk (ECII). Namun di tahun 2014, penjualan perseroan tumbuh 10,6% year on year (yoy) menjadi Rp 2,2 triliun. Walau penjualan naik, namun laba bersih ECII turun 37,4% menjadi Rp 129,5 miliar.

Menurut analis KDB Daewoo Securities Indonesia, Reynaldi Effendy dalam risetnya di Jakarta, kemarin menyatakan, biaya operasional yang tinggi telah menekan laba ECII. Pada tahun lalu biaya operasional ECII 49,7% lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Biaya operasional mengambil porsi 14,8% dari total pendapatan perseroan.

Untuk memperbesar pangsa pasar, ECII telah membuka toko baru. Hal itu membuat beban operasional membengkak, terutama pada biaya sewa dan layanan. Di sisi lain toko baru belum menghasilkan pendapatan yang cukup untuk mengompensasi beban usaha. Pada 2014 perusahaan ini membuka 11 gerai baru sehingga jumlah menjadi 67. ECII berencana membuka 5-7 gerai baru tahun ini dan memperbaharui 6 gerai lama di akhir 2015.

Managemen ECII menargetkan pendapatan tahun ini akan tumbuh 10% - 15% dengan pertumbuhan laba bersih 5% - 6%. Untuk menggenjot kinerjanya, ECII menyiapkan belanja modal (capex) sebesar Rp 200 miliar. Sekitar 50% dari total capex akan digunakan untuk pengembangan jaringan e-commerce.

Dengan ekspansi agresif, Reynaldi optimis ECII dapat mencapai target kinerja tahun ini. Dalam jangka panjang, Reynaldi yakin ECII akan menperoleh manfaat dari meningkatnya pemerintaan alat elektronik, khususnya gadget dan peralatan rumah tangga. "Lembaga riset Euromonitor memperkirakan permintaan alat elektronik akan meningkat 8% CAGR selama tiga tahun ke depan," kata Reynaldi.

ECII mulai operasi pada 2011 dan menguasai 44,6% pangsa pasar berdasarkan angka penjualan tahun 2014. Dengan merek toko Electronic City dan Electronic City Outlet, perseroan mampu memanfaatkan segmen pelanggan yang berbeda. Toko Electronic City menargetkan segmen menengah dan menengah ke atas, sementara Electronic City Outlet menargetkan entry-level dan segmen menengah.

ECII menjual empat kategori produk utama, yakni audio dan peralatan video yang berkontribusi 50,5% terhadap pendapatan tahun 2014, kemudian peralatan rumah tangga 31,4%, perangkat mobile dan IT 12,1%, serta kamera dan peralatan kantor 6%. Menurut Reynaldi, tahun ini cukup menantang bagi ECII. Perseroan memasang target laba bersih yang cukup ambisius.

Pasalnya Reynaldi khawatir biaya operasional tahun ini lebih tinggi dari pendapatan. Hal ini mengingat adanya beberapa hal seperti kenaikan biaya gaji dan biaya sewa. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu lalu bisa membuat inflasi tinggi sehingga daya beli masyarakat melemah. ECII juga menghadapi kemungkinan persaingan yang cukup ketat.

Sebelumnya, Commercial and Investor Relations Director PT Electronic City Indonesia Tbk, Fery Wiraatmadja pernah bilag, pelemahan rupiah berdampak terhadap perseroan yang menggaran bisnis retail elektronik, “Menyusul beberapa brand menaikkan harga, perseroan juga akan menaikkan harga secara bertahap,”tuturnya.

Dia mengungkapkan, saat ini brand-brand elektronik menaikan harga tidak dalam sekaligus, menaikannya secara bertahap. Hal ini dilakukan, supaya kostumer tidak kaget dengan harga sekarang. Dijelaskan Fery, selain menaikan harga bertahap, untuk menahan dampak pelemahan rupiah terhadap daya jual, perseroan juga melakukan sinergisitas dengan perbankan. (bani)