Sritex Siapkan Belanja Modal US$ 104 Juta

Bidik Laba Bersih Tumbuh 15%

Jumat, 10/04/2015

NERACA

Jakarta – Tahun ini, perusahaan tekstil terintegrasi, PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) (Sritex) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar US$ 104 juta. Dana tersebut nantinya bakal dialokasikan untuk belanja beberapa kebutuhan perusahaan, seperti belanja kain dan pembangunan pabrik.

Direktur Utama Sritex, Iwan Setiawan Lukminto mengatakan, dana itu nantinya bakal digunakan untuk belanja kain dan garmen. Dia menyebut, sebanyak 80% belanja modal tersebut akan dialokasikan untuk belanja kain, sedangkan sisanya akan dialokasikan untuk belanja garmen,”Kemarin kita sudah mulai investasi dan untuk menyelesaikan capex tahun ini untuk pembuatan kain jadi dan garmen. Capex tahun ini US$ 104 juta. Itu 80% untuk kain sisanya garmen," ungkap Iwan di Jakarta Kamis (9/4).

Dia menambahkan, pertumbuhan ekspor perusahaan mengalami peningkatan yang cukup signifikan, untuk bidang fashion, benang, kain jadi dan seragam kerja atau uniform. Dia menyebut, pasar yang mengalami tujuan utama ekspor Sritex adalah negara-negara Asia dan Amerika,”Pertumbuhan penjualan domestik dan ekspor pada tahun ini sekitar tujuh persen jika dalam bentuk dolar Amerika Serikat (USD). Kalau secara rupiah bisa 12% pertumbuhannya," ungkap dia.

Memiliki pabrik sebanyak tiga buah yang ada di Sukoharjo, Solo dan Semarang, lanjut dia, pihak perusahaan telah berhasil meraup total penjualan pada tahun lalu sebesar US$ 589 juta,”Pabrik kita berpusat di Jawa Tengah dan itu ada di Sukoharjo, Solo dan Semarang. Total penjualan kain untuk tahun lalu sebanyak US$ 589 juta,”kata Iwan.

Sementara Direktur Keuangan Sritex, Allan Moran Severino menuturkan, tahun ini perseroan menargetkan pendapatan tumbuh 7% dan laba bersih tumbuh sekitar 10% sampai 15%,”Kita targetkan tahun ini pertumbuhan bisnis sangat agresif seiring dengan pembangunan empat pabrik baru,”ujarnya.

Dirinya menuturkan, kenaikan harga BBM saat ini belum memberikan dampak terhadap kenaikan harga jual. Pasalnya, bisnis perseroan sekitar 80% bergantung pada biaya bahan baku dan upah buruh. Kemudian soal ekspansi bisnis retail, lanjutnya, perseroan belum banyak bicara soal retail mana yang bakal diakuisisi,”Kita belum bisa sebutkan, tetapi setiap peluang yang ada akan di jajaki,”tandasnya.

Asal tahu saja, kinerja perseroan dalam mata uang dollar Amerika Serikat juga ikut terkerek naik seiring dengan menguatnya nilai tukar dollar AS. Disebutkan, pendapatan Sritex dalam mata uang dollar Amerika Serikat adalah sekitar 70% dari total pendapatan. Untuk tahun 2015, SRIL kembali sebagai pemenang tender untuk pakaian militer dari Jerman dan Malaysia dan juga beberapa negara lainnya.

Belum lama ini, Sritex menjajaki pasar Tiongkok, terutama untuk produk pakaian militer dari sebelumnya benang dan kain yang telah lama di ekspor ke negara tersebut. Tercatat total volume ekspor seragam militer dari Sritex sepanjang 2014 mencapai lebih dari delapan juta potong atau separuh dari total produksi.

Kemudian pemasukan pajak negara dari PT Sritex 2014 mencapai Rp250 miliar, di mana separuh dari pajak tersebut berasal dari penghasilan penjualan produk militer. (bani)