Ujian Besar Dalam Menjalani Kehidupan - Oleh: Prof Dr H Imam Suprayogo, Dosen PTN

Disadari atau tidak, perjalanan kehidupan ini adalah merupkan ujian. Sebagaimana ujian pada umumnya, maka ada yang lulus dan atau sebaliknya, yaitu gagal. Penentuan lulus atau tidak, sebenarnya bukan di sini, atau ketika masih sedang ujian, tetapi adalah nanti ketika ujian atau kehidupan ini selesai. Sedangkan yang menentukan, seseorang lulus atau tidak, adalah bukan orang tuanya, saudaranya, teman-temannya, atau juga bukan mereka yang berposisi sebagai musuh, melainkan Dzat Yang Maha Menguasai jagat raya, ialah Allah swt.

Terkait dengan ujian dalam kehidupan dimaksud, baru-baru ini ada seseorang yang merasa sedih oleh karena temannya terkena kasus, yang menurut akal sehat, sebenarnya sulit dipahami bisa terjadi. Orang yang saya kenal dengan baik dan merasa sedih itu, menyampaikan informasi yang sangat mengejutkan. Teman kuliahnya yang dikenal sangat baik, alim, penyabar, dewasa, bertanggung jawab, namun tanpa diduga sebelumnya, ternyata sampai hati membunuh isterinya sendiri.

Peristiwa yang dimaksudkan itu oleh seseorang yang mengadukan kepada saya itu dianggap benar-benar sulit diterima oleh akal dan apalagi nuraninya. Seorang yang dikenal baik itu sehari-hari ia bekerja sebagai seorang dosen, ahli hukum, dan bahkan belum lama ini berhasil meraih gelar Doktor Ilmu hukum dari perguruan tinggi yang amat ternama. Isterinya seorang pimpinan bank milik pemerintah di suatu kota besar. Seorang pengajar di perguruan tinggi, bergelar Doktor, dan isterinya memiliki jabatan penting di lembaga keuangan, maka menurut perhitungan akal sehat, adalah kecil kemungkinannya jika konflik suami isteri itu dilatar belakangi oleh keterbatasan ekonomi.

Sepengetahuan orang yang menceritakan kejadian itu kepada saya, bahwa dosen yang sampai hati menghabisi nyawa isterinya itu memang dikenal sebagai orang baik, jujur, dan bertanggung jawab. Shalat lima waktu, puasa, zakat, shalat sunnah, dan lain-lain selalu dilaksanakan dengan disiplin. Dia mengetahui banyak tentang pribadi orang yang tega membunuh isterinya sendiri itu, oleh karena pernah kuliah dan bahkan bertempat tinggal dengan menyewa kamar kost bersama-sama. Kesaksiannya terhadap kebaikan temannya itu dirasakan melebihi cukup. Oleh karena itu, ia tetap tidak mengerti mengapa perbuatan jahat itu bisa terjadi pada temannya yang dikenal amat baik itu.

Dia juga menambahkan bahwa isterinya, sekalipun kariernya bagus, hingga menempati posisi penting di sebuah bank, menurut penilaiannya, juga bukan seorang yang pantas dicurigai secara berlebihan. Sekedar untuk meyakinkan saya, bahwa wanita pimpinan bank yang dihabisi nyawanya oleh suaminya sendiri itu, dilihat dari penampilannya, tidak menggambarkan sebagai perempuan yang pantas dicurigai hingga berlebihan, berselingkuh misalnya. Isterinya itu, -----kata dia, tidak begitu cantik, adalah biasa saja. Sudah memiliki dua anak dan sehari-hari tidak ada perilaku yang berlebihan. Akan tetapi, mengapa hanya karena pulang malam dari kantor oleh karena harus kerja lembur untuk menyelesaikan tugasnya, tetapi harus dicurigai hingga berlanjut dihabisi nyawanya.

Mendengarkan pengaduan panjang lebar tersebut, saya hanya mengatakan bahwa hidup ini adalah ujian. Semua orang pasti mendapatkannya. Seseorang sebagaimana dalam kasus di muka, telah diuji dengan cara diberi kelebihan, yaitu kelebihan jabatan, latar belakang pendidikan, lingkungan yang baik, dan bahkan juga isteri yang secara ekonomi mampu meringankan bebannya dari keberhasilannya dalam berkarier. Pertanyaannya adalah, apakah dengan ujian berupa kelebihan itu, yang bersangkutan mampu menghadapi nya. Ternyata secara kasat mata, untuk sementara ini, ia tampak tidak lulus. Namun juga jangan dikira, bahwa ujian itu telah selesai.

Bagi isterinya yang pada saat ini sudah meninggal dunia itu, ujian dimaksud telah berakhir. Dia sudah tidak lagi hidup dan berada di alam dunia ini. Akan tetapi bagi suaminya, ujian itu masih berlanjut. Tentang apakah pada akhirnya nanti lulus atau tidak, terserah di akhir kehidupan nanti. Manakala, ia bertobat dan tobatnya diterima, serta diampuni segala dosannya oleh Allah, maka ia masih akan lulus dari ujian besar dalam menjalani kehidupan ini.

Hidup ini adalah memang ujian. Jenis ujian itu berbeda-beda pada masing-masing orang. Ada orang yang diuji dengan ilmunya, dengan pangkatnya, dengan hartanya, dengan keluarganya, dengan kemiskinannya, dan lain-lain. Ujian itu berlangsung lama, yaitu selama menjalani kehidupan. Seseorang dinyatakan lulus atau tidak, juga bukan dari keputusan sesama manusia. Sekalipun seseorang disebut oleh orang lain tidak lulus, dan bahkan juga disebut fasik, kafir, sesat, dan lain-lain, maka penilaian atau sebutan itu tidak akan ada gunanya. Penilaian atau keputusan yang sebenarnya hanyalah datang dari Allah swt., dan hal itu juga baru diketahui nanti di alam akherat. (uin-malang.ac.id)

Related posts