Targetkan Cash Management Rp7 T di 2011 - BNI Syariah

Jakarta - BNI Syariah mentargetkan pengelolaan cash management-nya sampai dengan akhir tahun ini dapat mencapai Rp7 triliun, dengan total nasabahnya mencapai 500 ribu. "Sedangkan untuk total asset kita targetnya Rp8 triliun," ujar Direktur Utama Bank BNI Syariah Rizqullah di Jakarta, Senin.

Meski demikian, pihaknya saat ini lebih menitikberatkan pada potensi nasabahnya ketimbang kontribusi finansial. Menurutnya, dengan nasabah yang cukup tinggi dan kepercayaan pihak swasta maka akan memudahkan dalam melakukan bisnis-bisnis lain. "Seperti di Batam ini, bayangkan kalau 250 perusahaan pelanggan Perusahaan Listrik Negara (PLN) itu menjadi pelanggan kita, jadi kita bisa menggali bisnis lain dari kerja sama ini," lanjutnya.

Seperti diketahui, hari ini BNI Syariah baru menandatangani kerjasama dengan PLN Batam. Dengan kerja sama ini, nasabah IB Hasanah dan produk perbankan syariah lainnya dapat membayarkan dana Uang Jaminan Langganan (UJL) yang biasanya disetorkan ke PLN.

Selain itu, dia juga menyatakan bahwa di tahun ini, pihaknya telah menambah jumlah kantor cabang BNI Syariah sebanyak 10 kantor cabang. "Tahun ini kita sudah menambah 10 kantor cabang, sekarang dalam proses pembangunan 30 kantor cabang baru. Jadi sampai Agustus ini, total kantor cabang kita sudah 72 kantor dan sampai akhir tahun diharapkan akan menjadi 103 kantor," tukasnya.

Pembiayaan KPR

Selain itu, BNI Syariah juga mentargetkan tambahan pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) hingga akhir tahun sebesar Rp400-500 miliar. Adapun outstanding pembiayaan KPR hingga Agustus 2011 telah mencapai sekitar Rp2,1 triliun, sehingga akhir tahun diproyeksikan bisa mencapai sekitar Rp2,6 triliun.

Direktur Bisnis BNI Syariah Bambang Widjanarko mengungkapkan, khusus untuk pembiayaan KPR hingga Agustus 2011 outstanding-nya telah mencapai Rp2,1 triliun. Pembiayaan KPR ini mencapai sekitar 40 persen dari total pembiayaan konsumer & retail perseroan.

"BNI Syariah memang lebih banyak bermain di konsumer dan produktif retail, sisanya yang pembiayaan diatas Rp10 miliar dikategorikan komersial. Kita memang kuat di konsumer dan retail, terutama yang konsumer lebih spesifik di KPR," imbuhnya usai penandatanganan perjanjian kerjasama dengan PT PLN Batam di Jakarta, Senin.

Bambang menjelaskan, pembiayaan KPR umumnyai diberikan untuk kategori rumah di bawah Rp500 juta, atau dengan range Rp100-Rp500 juta. Bambang mengaku tidak melihat dampak risiko yang besar di sektor KPR. Pasalnya harga dan kebutuhan rumah masih tinggi sehingga mengurangi risiko.

"Risiko yang paling rendah justru di perumahan, harga pasti naik, misalnya beli Rp200 juta, dua tahun lagi sudah Rp300. Untuk target tambahan hingga akhir tahun mungkin masih ada tambahan Rp400-500 miliar," tukasnya.

BERITA TERKAIT

Pemprov Jabar Alokasikan Hibah untuk BPSK Rp7,25 Miliar

Pemprov Jabar Alokasikan Hibah untuk BPSK Rp7,25 Miliar NERACA Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) melalui Dinas Perindustrian…

BRI Syariah Terima Pelunasan Biaya Haji dari 9.642 Jamaah

    NERACA   Jakarta - Sebanyak 9.642 calon jamaah haji melakukan pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) di BRI…

Catatkan Investor Syariah Tertinggi - Bengkulu Tempati Urutan Ke-3 di Sumatera

NERACA Bengkulu – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pertumbuan investor pasar modal syariah di provinsi Bengkulu menempati urutan ke-3…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI : Posisi Kewajiban Investasi Internasional Meningkat

  NERACA Jakarta -  Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada akhir 2018 mencatat peningkatan net kewajiban, didorong oleh naiknya posisi Kewajiban…

Bank Diminta Agresif Kucurkan Kredit

  NERACA Jakarta - Bank Indonesia (BI) meminta industri perbankan untuk lebih ekspansif dalam mengucurkan kredit sejak awal 2019 guna…

BNI Dorong Generasi Milenial Miliki Rumah

  NERACA Surabaya - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mendorong kaum milenial untuk mempunyai rumah melalui kemudahan sistem perbankan, salah…