Pemerintah akan Umumkan Harga Bahan Pokok Setiap Hari - Stabilkan Harga

NERACA

Jakarta - Kementerian Perdagangan akan menginformasikan soal harga bahan pokok setiap harinya melalui media. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat bisa mengetahui informasi soal harga yang telah pemerintah pantau setiap harinya. Demikian yang diungkapkan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel ketika ditemui usai menghadiri peresmian warehouse PT Kamadjaja Logistik di kawasan pabrik Cibitung, Bekasi, Kamis (9/4).

Rencana ini dilakukan tak lepas dari harga bahan pokok yang selalu dalam keadaan kurang stabil sehingga membuat masyarakat menjadi bingung. Hal serupa juga sempat dilakukan oleh pemerintahan era Soekarno, dimana Menteri saat itu selalu muncul di depan televisi untuk menyampaikan beberapa harga bahan pokok yang pada akhirnya penyampaian informasi membuat harga menjadi stabil di pasar.

"Nantinya setiap hari kita (pemerintah) akan menyampaikan informasi terkait dengan harga-harga bahan pokok ke masyarakat. Kita juga akan bekerjasama dengan media-media dan juga Kementerian Teknologi dan Informasi (Kemenkominfo) untuk menyampaikannya ke masyarakat. Sehingga masyarakat bisa memantau harga-harga semua bahan pokok," ungkap Rachmat.

Ia juga mengaku bahwa pemerintah berkonsentrasi untuk mengendalikan harga-harga bahan pokok yang cenderung bergerak tidak sewajarnya. Karena sempat terjadi kenaikan harga beras di level pedagang namun sayangnya kenaikan harga beras tersebut tidak memberikan andil keuntungan bagi petani padi lantaran harga gabah yang turun. "Tata niaganya juga tengah kami kontrol. Kami (kemendag) bersama dengan Kementerian Pertanian juga terus melakukan kordinasi terkait dengan pasokan pangan," cetusnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta pemantauan terhadap harga kebutuhan pokok dilakukan setiap hari sehingga jika ada kenaikan dapat langsung dilakukan tindakan pencegahan agar tidak naik drastis. “Saya minta terkait harga kebutuhan pokok ini dipantau dari hari ke hari karena dari sini tinggi rendah inflasi dimulai,” kata Presiden Jokowi.

Ia mencontohkan kenaikan harga beras yang sebetulnya sudah terlihat sejak Desember 2014 dan sebenarnya bisa diantisipasi. “Januari sebenarnya bisa dilakukan tindakan tapi memang ada masalah keterlambatan tanam dan panen sehingga harga kurang terkedalin,” kata Presiden.

Terkait Inflasi, Presiden Jokowi mengatakan kondisi deflasi yang terjadi selama dua bulan terakhir berdampak positif untuk masyarakat. “Kondisi inflasi bisa kita pertahankan sehingga sangat rendah bahkan terjadi deflasi, ini akan memberi dampak baik kepada pertumbuhan ekonomi dan kepada masyarakat karena daya beli tetap dan meringankan masyarakat membeli barang yang ada,” ujarnya.

Pada dasarnya, ada empat faktor yang dapat menyebabkan harga bahan pokok di Indonesia tidak stabil. Pertama, suplai dan demand yang dipengaruhi kondisi cuaca. Kedua, distribusi dan logistik yang menyumbang dampak terhadap fluktuasi harga bahan kebutuhan pokok. Terlebih, pendistribusian akan sangat berkorelasi dengan infrastruktur logistik yang memadai.

Ketiga adalah faktor eksternal. Pengaruh dari luar negeri turut memengaruhi stabilitas harga beberapa komoditas, seperti kedelai, gandum, atau pakan ternak. Dan terakhir adalah spekulan bahan pokok menjadi ancaman tersendiri terhadap stabilitas harga.

Intervensi Pemerintah

Dilain sisi, Pengamat Ekonomi dari Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Maluku Utara (Malut) Nurdin Muhammad meminta pemerintah menstabilkan kenaikan harga sembilan bahan pokok (sembako) dengan menggelar operasi pasar. “Kenaikan harga sembako tidak bisa dikendalikan pascakenaikan harga BBM, sehingga pemerintah perlu berupaya mengendalikannya,” katanya.

Menurut dia, kenaikan harga sembako juga dipicu lemahnya peran pemerintah dalam menstabilkan harga sembako. “Pemerintah seharusnya melakukan intervensi pasar untuk menjamin harga sembako tetap terjaga. Instrumen pasar masih dapat dilakukan dengan syarat adanya pemberlakuan secara rutin dalam mengendalikan kenaikan harga sembako, regulasi dan sanksi tegas dalam membatasi spekulan memainkan harga seenaknya,” katanya.

Nurdin mengatakan, selain harga beras, minyak goreng dan gula, harga kebutuhan lainnya seperti bawang, rica dan tomat juga mengalami kenaikan pada beberapa pasar yang ada di Kota Ternate. Karena itu Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ternate harus melakukan upaya pengendalian harga.

Berdasarkan data yang dimiliki pada sejumlah pasar, harga kebutuhan pokok seperti beras sudah mengalami kenaikan. “Harga beras dolog misalnya sekarang dijual dengan harga Rp10 ribu per kilogram, padahal sebelumnya dijual dengan harga Rp8000 per kilogram. Selain beras, bahan kebutuhan pokok lainnya yang mengalami kenaikan antara lain, gula, minyak goreng serta bahan pokok lainnya,” ujarnya.

BERITA TERKAIT

Dukung Gaya Hidup Sehat, Taiwan akan Kembali Happy Run

    NERACA Jakarta - Taiwan kembali mengajak masyarakat Indonesia untuk berolahraga dalam rangkaian acara Taiwan Excellence Happy Run 2019,…

KEBUTUHAN INVESTASI 2020 RP 5.803 TRILIUN-RP 5.823 TRILIUN - Pemerintah Waspadai Ancaman Defisit Perdagangan

Jakarta-Kementerian Keuangan menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,3%-5,6% dalam asumsi ekonomi makro di 2020 dengan kebutuhan investasi sebesar Rp5.803 triliun hingga Rp5.823…

Tawarkan Harga Rp 231-243 Persaham - MNC Vision Network Incar IPO Rp 856 Miliar

NERACA Jakarta – Danai ekspansi bisnisnya, PT MNC Vision Networks bakal melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham pada…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Diminati Pasar Global, Ekspor Batik Dibidik 8%

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berkontribusi dalam upaya pelestarian batik Nusantara serta mendorong pengembangan industri batik nasional agar lebih…

Niaga Internasional - Amerika Serikat Tetap Jadi Tujuan Penting Ekspor Indonesia

NERACA Jakarta – Walaupun terkena imbas dari perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, Amerika Serikat tetaplah tujuan penting dari…

Pasar Produk Kerajinan Nasional Semakin Meluas

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menjelaskan, pemerintah menyadari produk kerajinan…