Industri Kemasan Penentu Daya Saing Produk

Jumat, 10/04/2015

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian, Saleh Husin mengatakan industri kemasan dari tahun ke tahun industri kemasan kita berkembang terus. Tentu salah satu yg membuat industri kemasan mempunyai daya saing yang tinggi itu adalah kemasan. Kita bisa lihat contoh adalah bagaimana kemasan dari industri mamin di jepang yg isinya sama tp dikemas begitu bagus tapi harganya jadi mahal.

"Kita perlu banyak belajar dan memang dari tahun ke tahun meningkat terus. Dengan dibuat lomba tentu dengan sendirinya industri kemasan akan meningkat. Mudah mudahan, paling tidak bisa mengikuti apa yang telah dilakukan jepang. Itu kita perlu belajar dan contoh,"ujar Saleh saat acara Penghargaan Kepada Pemenang Asia Star Awards yang terdiri 2 Kategori (Kategori Industri dan Pelajar) yang diselenggarakan oleh Federasi Pengemasan Indonesia di Jakarta, Kamis (9/4).

Lebih lanjut Menperin mengatakan program utama yang dijalankan instansinya adalah fokus untuk membangun citra (branding) dan kemasan (packaging) produk kreatif dalam negeri. Dua hal ini menjadi kunci sukses berkompetisi di Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

"Kualitas produk kreatif buatan dalam negeri sebenarnya sangat bagus. Sayangnya, kemasan dan brandingnya masih kurang. Mau sebagus apapun produknya, kalau tampilannya tidak menarik orang tak akan melirik," paparnya.

Menteri Saleh mengatakan untuk membangun kemasan dan branding, dirinya akan mencontoh Jepang. Menurutnya, pelaku usaha dari Negeri Matahari Terbit tersebut tahu betul caranya membungkus aneka produk dengan tampilan yang memanjakan mata.

"Kualitas produk kita sebenarnya tak kalah dengan yang diproduksi Jepang. Namun, mereka itu sangat pintar mengemas dan mempromosikan produk sehingga pasar suka. Fokus saya dalam jangka pendek akan perbaiki kemasan produk dari sektor industri kreatif," paparnya.

Selain meningkatkan pemasaran, dia mengatakan perbaikan kemasan juga dibutuhkan oleh pelaku usaha menjelang dibukanya Masyarakat Ekonomi Asean pada akhir 2015 nanti. "Kita harus bisa lari cepat untuk meningkatkan daya saing. Kunci utamanya memang memaksimalkan kemampuan agar daya saing produk lokal juga bisa tinggi," katanya.

Ditempat yang sama, Business Development Director Indonesia Packaging Federation (IPF) Ariana Susanti menyatakan, industri kemasan pada tahun ini dipastikan tidak dapat tumbuh double digit. Hal itu disebabkan fluktuasi mata uang rupiah terhadap dolar yang semakin buruk.

Pasalnya, sebagian besar bahan baku industri kemasan sejauh ini masih bergantung kepada impor. Belum lagi diperparah oleh maraknya barang impor ilegal. Sejauh ini upaya pemerintah untuk memberantas impor ilegal dinilai belum maksimal.

"Persoalanya tetap di rupiah yang terus lemah. Perkiraan saya, pertumbuhan masih sama dengan tahun lalu. Kalau ada kenaikan mungkin nilainya tidak terlalu besar sekitar 8%. Satu lagi hambatan kita sekarang adalah sudah banyak impor ilegal kemasan. Harusnya ini jadi perhatian pemerintah. Peraturan kita belum begitu ketat. Yang terpenting kita harus mengantisipasi," ujar Ariana.

Akan tetapi, yang mengkhawatirkan, kata dia, hingga pertengahan kuartal I-2015 omzet industri kemasan belum mencapai Rp 10 triliun. Padahal, untuk mencapai omzet seperti tahun lalu yang mencapai Rp 70 triliun, paling tidak kuartal I sudah mencapai Rp 17,5-20 triliun.

"Tahun lalu, omzet industri kemasan mencapai Rp 70 triliun. Tapi sampai Februari ini target omzet masih jauh, bahkan belum sampai Rp 10 triliun. Kami berharap ada peningkatan di kuartal II nanti. Karena target pertumbuhan kita tak terlalu besar. Syukur-syukur mencapai Rp 75,6 triliun itu sudah bagus," kata Ariana.

Lambatnya pertumbuhan omzet hingga Febuari ini, menurut Ariana, karena adanya perubahan pola pemesanan yang diakibatkan oleh fluktuasi rupiah. Padahal, sebelumnya perusahaan multinasional selalu melakukan pemesanan melalui sistem mekanisme jangka panjang (1-2 tahun). Namun saat ini menjadi jangka pendek (3-5 bulan). "Karena fluktuasi jadi mau tidak mau harga harus menyesuaikan, tapi itu tidak berpengaruh terhadap omzet karena frekuensinya lebih sering," ujar Ariana.

Tahun ini, menurut Ariana, banyak perusahaan kemasan asing yang melakukan survei ke Indonesia untuk investasi, kebanyakan dari Jepang dan Korea selatan. Ariana mengatakan, Indonesia menarik karena besarnya pasar retail, terutama makanan dan minuman. Namun setelah melakukan studi, kebanyakan perusahaan tersebut menahan diri setelah melihat kondisi politik belakangan yang dianggap tidak stabil.

"Sekarang makanan minuman (mamin) lagi ngetren kemasan untuk anak-anak. Ini menjadi kesempatan baru buat industri kemasan. Kalau politik tidak ribut terus pasti investasinya lancar, karena politik menjadi salah satu pertimbangannya. Kalau tidak stabil mereka wait and see dulu," ungkap Ariana.