Industri Asal Jepang Mulai Transfer Teknologi

Jumat, 10/04/2015

NERACA

Jakarta - Pemerintah terus menarik para investor luar untuk menanamkan modal mereka di Indonesia. Dengan kemudahan perizinan dan pembangunan infrastruktur pendukung industri yang diberikan pemerintah, tak pelak banyak investor tertarik menanamkan modalnya di Indonesia, terutama Jepang.

Jepang yang memiliki kemampuan dalam menciptakan teknologi tinggi diharap mempercepat transfer teknologi kepada para pekerja Indonesia. Pasalnya, dengan trasfer teknologi kepada para pekerja lokal, maka diharapkan industri nasional pun dapat memiliki ekapansi luas seperti perusahaan Jepang.

Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengakui, saat ini transfer teknologi sedang ditingkatkan, utamanya kepada perusahaan-perusahaan asal negeri sakura tersebut. Dengan begitu, diharapkan kedepannya industri nasional tak perlu lagi mengimpor teknisi dari luar melainkan mengambil teknisi dari lokal yang telah mendapatkan pelatihan dan pendidikan dari Jepang.

"Sekarang mereka (perusahaan Jepang) telah memberi pelatihan dengan mendidik pekerja lokal selama beberapa bulan di Jepang. Setelah itu, mereka akan dikembalikan ke Indonesia untuk ditempatkan di perusahaan patungan antara Jepang dan Indonesia," ujar Saleh di Jakarta Selatan, Kamis (9/4).

Dalam kesempatan yang sama Menperin juga menerima kunjungan 19 pengusaha yang tergabung dalam Keidanren Jepang. Kunjungan tersebut bertujuan untuk menjaga hubungan baik antara Indonesia dengan Jepang sekaligus meembangun kerjasma jangka panjang dalam hubungan bisnis kedua negara.

Dihadapan delgasi Keidanren yang dipimpin olehh Sadayuki Sakakibara, Saleh meminta agar perusahaan-perusahaan Jepang terus meningkatkan kerjasama dengan perusahaan lokal sehingga dapat mendorong pengembangan industri nasional.

"Selain itu, saya juga mengharapkan kepada para pimpinan perusahaan Indonesia yang hadir agar melakukan pertemuan lebih lanjut dengan para anggota Keidanren dalam sesi business networking," ujar Saleh.

Saleh meyakinkan kepada para pengusaha Jepang, bahwa Indonesia saat ini telah memiliki infrastruktur pendukung dalam pembangunan industri. Pasalnya, saat ini pemerintah tengah gencar membangun 13 kawasan industri yang tersebar di luar Pulau Jawa.

"Saat ini Pemerintah Indonesia telah menetapkan prioritas pembangunan di berbagai sektor antara lain pembangunan infrastruktur, tenaga listrik, maritim (pelabuhan dan perikanan), industrialisasi berorientasi ekspor serta percepatan pembangunan di daerah," papar dia.

Dia menambahkan, saat ini, peningkatan investasi Jepang di Indonesia lebih kepada sektor industri otomotif. Maka itu, ia berharap komitmen investasi pengusaha Jepang agar lebih pada industri baja hilir nasional untuk mendukung bahan baku industri otomotif yang ada di Indonesia.

"Yang pastinya, kita meminta kemitraan dengan investor lokal terus ditingkatkan dengan menanamkan modalnya di sini agar Indonesia menjadi basis produksi untuk kebutuhan ekspor,"kata Saleh.

Senada, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto juga meminta kepada perusahaan Jepang untuk mempercepat dan meningkatkan transfer teknologi kepada pekerja lokal.

Menurut dia, besarnya industri Jepang di Indonesia, khususnya otomotif, harus pula memberikan dampak bagi pekerja lokal dengan tranfer teknologi. Sehingga nantinya, dapat memberikan manfaat untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal.

"Hal ini agar industri lokal kita semakin kuat. Yang penting sekarang kan supporting industries, kita ini banyak industri yg tergantung impor. Ini yang harus saya upayakan agar selama ini produk-produk itu dibuat di dalam negeri dengan pekerja lokal. Itu prioritas kita untuk menekan defisit transaksi berjalan," pungkas Suryo.

Sekedar informasi Indonesia menjadi pasar yang sangat empuk bagi produk-produk berteknologi tinggi. Basis 240 juta penduduk, 50 juta kelas menengah yang potensial, serta daya beli yang cukup tinggi menjadi magnet bagi produsen-produsen untuk memasarkan barangnya di negeri ini.

Di sektor otomotif, lebih dari satu juta unit mobil dan tujuh juta unit sepeda motor terjual setiap tahun. Dominasi Jepang dalam pasar otomotif belum tergoyahkan, menguasai lebih dari 90 persen pasar mobil, sisanya diperebutkan pabrikan AS, Eropa, dan negara lain.

Penjualan gadget, khususnya telepon genggam, lebih spektakuler lagi. Tahun ini pasar handphone Indonesia melampaui 80 juta unit, dan sebagian besar masih diimpor, termasuk Samsung yang memimpin pasar saat ini.

Tapi, jangan berbangga dahulu kalau jutaan mobil mewah berseliweran di jalanan, atau orang-orang dengan pongah mudah berganti smartphone setiap saat. Mayoritas produk-produk canggih itu bukanlah hasil teknologi anak bangsa. Mayoritas teknologinya masih menjadi milik prinsipal. Hanya sedikit produk yang kandungan lokalnya cukup tinggi.

Fenomena itu menandakan bahwa kita masih tertinggal dalam penguasaan teknologi. Salah satu sebabnya, investor-investor asing yang menanamkan modal di Indonesia cenderung pelit melakukan alih teknologi. Kondisi ini nyata terlihat pada perusahaan-perusahaan Jepang, khususnya di sektor otomotif.