Garuda Terbitkan Sukuk Senilai US$ 500 Juta

Rambah Pasar Internasional

Jumat, 10/04/2015

NERACA

Jakarta- Gali lobang tutup lobang, saat ini tengah di lakukan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) untuk menekan beban perusahaan, termasuk utang dalam bentuk dollar AS disamping efisiensi yang tengah di galakkan maskapai penerbangan plat merah ini.

Teranyar, perseroan bakal menjalankan penawaran sukuk senilai US$ 500 juta yang ditujukan untuk investor internasional. Penerbitan sukuk akan digunakan perseroan untuk membiayai utang dan kegiatan usaha perseroan. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (9/4).

Disebutkan, perusahaan penerbit akan didirikan di luar negeri dalam rangka transaksi dan sukuk internasional ini memiliki jatuh tempo mencapai lima tahun dan penerbitan sukuk berdasarkan aset yang dimiliki perseroan yang sesuai dengan prinsip syariah berlaku.

Pembayaran dilakukan secara periodik dalam jumlah tetap kepada pemegang sukuk yang akan dilakukan secara periodik per enam bulan, dengan rate sebesar maksimum 6,9% per annum. Penerbitan sukuk ini tidak dijamin dengan jaminan khusus. Transaksi tidak akan menambah total pinjaman jangka panjang perseroan secara material dan akan memperpanjang profil jatuh tempo utang perseroan yang akan mendukung rencana pertumbuhan perseroan.

Garuda Indonesia sudah menunjuk National Bank of Abu Dhabi (NBAD) dan Dubai Islamic Bank untuk menjadi joint structuring advisor. Sedangkan Sole Global Cordinator, perseroan sudah menunjuk NBAD. Asal tahu saja, tahun lalu Garuda Indonesia memiliki utang jangka panjang US$ 964,7 juta. Dana penerbitan sukuk ini akan digunakan pembayaran utang jangka panjang perseroan dengan biaya yang lebih efisien.

Tahun ini Garuda Indonesia membidik pendapatan sekitar US$ 4,40 miliar atau naik 12% dibanding realisasi tahun lalu US$ 3,93 miliar. Proyeksi yang terbilang tinggi tersebut akan dikejar dengan strategi ekspansi dan efisiensi perseroan.

Terakhir kali Garuda Indonesia berhasil mencapai pertumbuhan 12% adalah pada 2012. Ketika itu, kinerja perseroan ditopang oleh melonjaknya laba bersih sekitar 73,19%. Namun, pertumbuhan pendapatan perseroan melambat di tahun-tahun berikutnya. Pada 2013, pertumbuhan pendapatan perseroan naik 7%, dan di tahun 2014 hanya naik 4,62%.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Arif Prabowo pernah bilang, melambatnya kinerja tersebut dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), tingginya harga bahan bakar, serta investasi yang cukup besar dalam menambah armada.

Dia menjelaskan, target pendapatan 2015 akan ditopang oleh ekspansi 18 armada baru. Perseroan akan mendatangkan lima pesawat wide body yang terdiri atas tiga pesawat seri 777, dan dua airbus. Sedangkan sisa 13 pesawat narrow body akan terdiri atas seri 738 dan ATR,”Kami juga akan memperkuat frekuensi penerbangan rute luar negeri, terutama Tiongkok, Timur Tengah dan Eropa pada tahun ini,” jelas dia. (bani)