Kenaikan BBM Berdampak Minim Terhadap Kebutuhan Pokok

Sabtu, 11/04/2015

NERACA

Per 28 Maret 2015 lalu, harga premium penugasan di luar Jawa-Bali menjadi Rp7.300 dari sebelumnya Rp6.800 per liter pada 1 Maret 2015 dan solar bersubsidi dari Rp6.400 menjadi Rp6.900 per liter.

Kenaikan tersebut dikarenakan peningkatan harga minyak dunia dan pelemahan rupiah dalam periode sebulan terakhir. Namun, pemerintah memutuskan besaran kenaikan harga BBM tidak murni sesuai indeks pasar karena memperhatikan juga kestabilan sosial ekonomi, pengelolaan harga, dan logistik.

Pemerintahpun tentu tidak akan membiarkan kenaikan harga BBM menyengsarakan masyarakat. Jika ditelisik secara mendalam, kenaikan harga BBM bersubsidi sejatinya sudah cukup alasan. Tujuan utamanya untuk mengurangi Utang Luar Negeri (ULN) dan menyehatkan kembali perekonomian Indonesia dan harapannya dampak baik itu segera dirasakan seluruh masyarakat Indonesia.

Namun demikian, hal yang harus diperhatikan atas kebijakan pemerintah saat ini adalah persepsi masyarakat dalam merespon kenaikan BBM saat ini. Pasalnya kenaikan BBM yang terjadi baru-baru ini dikhawatirkan masyarakat akan diikuti dengan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok yang turut melambung.

Terkait hal terebut, Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa setelah pemerintah menetapkan kenaikan harga bahan bakar minyak sebesar Rp500 per liter pada 28 Maret 2015 lalu hanya berdampak minim terhadap kenaikan harga bahan kebutuhan pokok.

"Kenaikan harga BBM Rp500 per liter diperkirakan hanya akan memberikan dampak terhadap harga barang kebutuhan pokok tidak lebih dari dua persen," kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Srie Agustina baru-baru ini.

Srie mengatakan, sejak ditetapkannya kenaikan harga BBM, berdasarkan hasil pantauan Kementerian Perdagangan pada 31 Maret 2015 lalu, harga barang kebutuhan pokok tidak mengalami kenaikan, bahkan mengalami penurunan dengan kisaran 0,03% untuk daging sapi sampai dengan 5,17% untuk cabai merah besar.

"Kemendag akan terus melakukan pemantauan harga harian sebagai deteksi dini terjadinya kekurangan pasokan ataupun bila adanya hambatan distribusi yg mengakibatkan tingginya harga," ujarnya.

Kementerian Perdagangan, lanjut Srie, juga akan terus menjaga ketersediaan barang kebutuhan pokok melalui pasokan hasil produksi dalam negeri maupun dari impor bila sangat diperlukan sebagai upaya terakhir bila terjadi defisit untuk menjaga tingkat inflasi.

"Sebagai target stabilisasi harga, Kemendag mengacu pada indikator yang ditetapkan dalam RPJMN 2015-2019. Dan indikator harga ideal sebagai referensi harga atau harga acuan yang telah memperhitungkan keuntungan yang cukup bagi petani dan harga yang wajar dan terjangkau di tingkat konsumen," tuturnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir bahwa pada Maret 2015 tercatat mulai adanya inflasi yaitu sebesar 0,17%, setelah sebelumnya pada Januari dan Februari mengalami deflasi.

Secara keseluruhan tahun kalender 2015, meskipun Maret terjadi inflasi, masih tercatat deflasi 0,44%. Karena Januari tercatat deflasi 0,24% dan Februari deflasi 0,36%.

Komoditas yang mengalami kenaikan harga dan menyumbang inflasi adalah bahan bakar minyak, bawang merah, beras, bahan bakar rumah tangga, rokok kretek filter, upah tukang bukan mandor, pepaya, tarif dokter umum dan nasi dengan lauk.

Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga dan menahan inflasi adalah cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, ikan segar, tomat sayur, wortel, emas perhiasan, kentang, melon, tomat buah, cabai rawit, tarif listrik dan tarif angkutan udara.