Komisi XI Dukung Pemberian PMN ke BTN

Kamis, 09/04/2015

NERACA

Jakarta -Wakil Ketua Komisi XI DPR, Gus Irawan Pasaribu, menyatakan akan mendukung pemberian Penyertaan Modal Negara untuk PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk jika ekspansi pembiayaan perumahan bank pelat merah tersebut membesar."Saya kira akan diperlukan nanti (penambahan penyertaan modal negara / PMN) ketika ekspansinya semakin besar. Kita 'support' untuk itu," katanya di Jakarta, Rabu (8/4).

Terkait Program Sejuta Rumah yang dicanangkan Pemerintahan Jokowi-JK, Gus Irawan menilai diperlukan lembaga yang kuat utamanya dari segi modal untuk bisa fokus membiayai sektor perumahan yang masih mengalami backlog (kekurangan rumah) hingga 13,5 juta unit."Ekspansi itu butuh penambah modal. Kalau modalnya nanti sudah tidak pada rasio yang ideal, mungkin Komisi XI yang mengusulkan untuk tambah modal ke BTN. Tentunya pemerintah harus mendukung itu karena ada penugasan khusus untuk siapkan rumah buat rakyat," kata Gus Irawan.

Untuk sumber dana penambahan modal BTN, tidak menutup kemungkinan menggunakan dana dari lembaga seperti BPJS Ketenagakerjaan (Jamsostek) dan PT Taspen (Persero)."Itu bisa dikomunikasikan," ujar Gus Irawan.

Sementara Direktur Utama BTN, Maryono mengatakan, dengan tugasnya yang khusus dan sangat besar dalam membiayai sektor perumahan, pihaknya memang memerlukan modal yang besar pula."Jika ada PMN, kita butuh tambahan modal sekitar Rp5 triliun," kata dia.Maryono menuturkan, permasalahan sektor perumahan secara umum meliputi masalah lahan, perizinan, dan pembiayaan. Terkait dengan masalah lahan dan perizinan, BTN mengharapkan bantuan dari DPR agar proses tersebut menjadi lebih singkat dan lahannya mudah untuk disertifikatkan.

"Kemudian, karena akan ada kerja sama dengan pemda, kami juga minta dukungan kepada DPR untuk bantu menjembatani supaya kita bisa bekerja lebih optimal. Kita tidak bisa melaksanakan Program Satu Juta Rumah hanya diserahkan kepada BTN saja, tapi diperlukan peran dari semua pihak untuk sepakat bersama-sama membangun," tandasnya.

Hingga akhir 2014, BTN membukukan penyaluran kredit dan pembiayaan sebesar Rp116 triliun tumbuh 15,38% dari Rp100,46 triliun pada 2013. Pertumbuhan tersebut menunjukkan perseroan berhasil meningkatkan fungsi intermediasi di tengah dinamika perlambatan ekonomi global maupun nasional.

Secara paralel, BTN juga mampu menekan NPL selama tiga tahun berturut-turut dengan trend menurun. NPL BTN tercatat tahun 2012, 2013 dan 2014 masing-masing sebesar 4,09%, 4,05% dan 4,01%. Pertumbuhan kredit BTN tahun 2014 yang sebesar 15% berada di atas rata-rata industri.

Melalui sejumlah program yang sudah dilakukan perseroan, manajemen BTN optimistis pertumbuhan bisnis perseroan tahun 2015 akan jauh lebih baik dari tahun lalu. Pertumbuhan kredit BTN diproyeksi mampu mencapai 19%, di atas pertumbuhan kreditindustri yang diproyeksi Otoritas Jasa Keuangan mencapai 15%.

Sejalan dengan pertumbuhan dan peningkatan kualitas kredit, peningkatan bisnis perseroan dapat dilihat dari meningkatnya dana pihak ketiga (DPK) perseroan yang mencapai Rp106,5 triliun pada 2014, tumbuh 10,67% dari periode sebelumnya sebesar Rp96,21 triliun dengan laba bersih mencapai Rp1,1 triliun. Sementara total aset perseroan tumbuh sebesar 10,22% dari Rp131,7 triliun pada tahun sebelumnyamenjadi Rp144,57 triliun pada akhir 2014. [kam]