Sistem Keamanan Bandara Harus Dievaluasi Total

Kamis, 09/04/2015

NERACA

Jakarta – Dunia penerbangan Indonesia kembali digemparkan oleh persoalan keamanan. Lembaga swadaya masyarakat Jakarta Transportation Watch meminta Menteri Perhubungan Ignasius Jonan untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan bandara setelah terjadinya aksi penyusupan penumpang ke roda pesawat Garuda. Seorang penumpang Mario Steven Ambarita (21) ditemukan keluar dari ruang roda pesawat yang menempuh rute penerbangan dari Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pekan ini.

Ketua Jakarta Transportasi Watch Andy Sinaga mengatakan, evaluasi terhadap sistem keamanan bandara perlu dilakukan karena longgarnya sistem tersebut bisa saja pada masa mendatang dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab. Mengaca dari kasus itu, kelonggaran sistem keamanan bandara berpotensi mengundang bahaya dalam dunia penerbangan. “Menhub perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap manajemen sistem keamanan dan keselamatan bandara-bandara di Indonesia,” kata Andy di Jakarta, Rabu (8/4).

Pemerintah, lanjut Andy, harus serius menangani kasus tersebut guna memperkuat sistem keamanan penerbangan. Bila sistem pengawasan di bandara rapuh, dia mencontohkan, bisa saja dimanfaatkan oleh jaringan terorisyang kemudian dapat melakukan aksi pembajakan atau bahkan aksi lainnya yang berbahaya. Evaluasi dan investigasi total itu harus dilakukan terutama di bandara yang lokasinya berdekatan dengan pemukiman penduduk atau jalan raya.

Sementara itu, secara terpisah, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Yudi Widiana menyebut, aksi penyusupan ke dalam roda pesawat seperti yang dilakukan Mario Steven Ambarita mengindikasikan lemahnya pengawasan yang dilakukan otoritas bandara. Dia sangat menyesalkan peristiwa seperti itu dapat terjadi karena setiap orang dilarang melakukan kegiatan di kawasan keselamatan operasi penerbangan karena dapat membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan, kecuali bila telah medapatkan izin dari pihak otoritas bandara.

Merujuk pada UU No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, menurut Yudi, otoritas bandara berwenang melakukan pengawasan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan untuk menjamin keselamatan, keamanan, dan pelayanan penerbangan. Itu sebabnya, Kementerian Perhubungan diminta untuk segera melakukan audit kepada Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru karena kejadian seperti ini dinilai dapat mencoreng dunia penerbangan nasional. Menurut dia, Kemenhub juga harus tegas dalam memberikan sanksi yang tegas baik kepada pelaku penyusupan maupun kepada petugas yang dinilai lalai dalam melaksanakan kewajiban. “Aksi ini sangat membahayakan penerbangan,” jelasnya.

Di pihak lain, Otoritas Bandara Wilayah II akan melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab Mario Steven Ambarita bisa membobol keamanan Bandara Sultan Syarif Kasim II di Kota Pekanbaru, Riau. Kepala Divisi Operasional PT Angkasa Pura II pada Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II, Hasturman mengatakan, PT Angkasa Pura II yang mengelola Bandara SSK II selama ini berada dalam pengawasan Otoritas Bandara (Otban) Wilayah II yang berkedudukan di Medan, Sumatera Utara. Dia memastikan bahwa pada saat sebelum pesawat Garuda Indonesia yang disusupi Mario lepas landas, kondisi Bandara SSK II saat itu sedang turun hujan. Pengamanan Bandara SSK II selama ini terkenal sangat ketat, terlebih lagi karena keberadaannya berada satu wilayah dengan Lapangan Udara TNI AU Roesmin Nurjadin.

Mario Steven Ambarita ditemukan dalam keadaan telinga mengeluarkan darah segera dibawa ke klinik bandara dan mendapatkan perawatan serta diinfus. Dalam hasil penelusuran sementara ditemukan bahwa motif dari Mario dalam melaksanakan aksi nekad tersebut adalah karena ingin pergi ke Jakarta. Namun karena tidak punya uang, lelaki yang dilahirkan di Jakarta namun besar di Pekanbaru itu memilih memanjat ke pesawat sebelum lepas landas. munib